Perawat Indonesia Boleh Bekerja di Rumah Sakit Malaysia

Langkah strategis KJRI Johor Bahru membuka peluang kerja bagi perawat Indonesia sekaligus bantu atasi krisis tenaga kesehatan di Malaysia


Perawat Indonesia boleh bekerja di rumah sakit Malaysia. Itulah harapan yang mulai tampak menjadi nyata, ketika Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru mengajukan kerjasama strategis dengan sejumlah rumah sakit di negeri jiran. Kerjasama ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah solusi konkret atas dua kebutuhan besar: kekurangan tenaga kesehatan di Malaysia, dan melimpahnya lulusan keperawatan di Indonesia.

Konsul Jenderal RI di Johor Bahru, Sigit S. Widiyanto, dengan penuh optimisme mengatakan bahwa inisiatif ini bisa menjadi situasi menang-menang. Ia menjelaskan, hampir 70 persen pasien internasional di berbagai rumah sakit Malaysia berasal dari Indonesia, terutama dari Johor, Melaka, Pulau Pinang, hingga Kuala Lumpur.

“Kalau pasiennya mayoritas warga Indonesia, maka sangat wajar bila perawatnya juga dari Indonesia. Bahasa sama, budaya tak jauh beda. Komunikasi lancar, pelayanan jadi lebih baik,” ujar Sigit dalam wawancaranya dengan Bernama.

Tak hanya soal efisiensi komunikasi dan pemahaman budaya, krisis tenaga kerja kesehatan di Malaysia juga menjadi alasan kuat di balik usulan ini. Menteri Besar Johor, Datuk Onn Hafiz Ghazi, sebelumnya mengungkap bahwa satu perawat kini menangani hingga 10-14 pasien dalam satu shift. Padahal rasio ideal hanya 1 banding 6, maksimal 1 banding 8.

Dari Kepulauan Riau untuk Malaysia

Sigit menjelaskan bahwa saat ini KJRI telah memulai kerja sama awal dengan salah satu rumah sakit di Johor. Mereka sedang melakukan penjajakan, termasuk proses seleksi perawat yang nantinya akan diajukan ke Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM), Lembaga Jururawat Malaysia, dan pihak berwenang lainnya.

“Kami tahu prosesnya panjang, dan ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Tapi kami optimis, karena perawat Indonesia sudah terbukti diakui secara global,” jelas Sigit.

Menurutnya, perawat asal Indonesia saat ini sudah bekerja di negara-negara seperti Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Jepang, Australia, hingga Jerman. Maka sangat masuk akal jika mereka juga bisa bekerja di Malaysia, terlebih sesama negara ASEAN telah menyepakati profesi perawat sebagai salah satu yang dapat lintas negara.

Sebagai langkah awal, KJRI akan memfokuskan rekrutmen dari daerah yang paling dekat secara geografis dan budaya, yakni Kepulauan Riau dan Riau Daratan. Dua wilayah ini bukan hanya memiliki banyak lulusan tenaga kesehatan, tapi juga menjadi tempat asal sebagian besar pasien Indonesia yang berobat ke Malaysia.

Sekolah Kesehatan Jadi Tulang Punggung

Di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, terdapat dua institusi pendidikan kesehatan utama: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan dan Politeknik Kesehatan milik Kementerian Kesehatan Indonesia. Dua lembaga ini menurut Sigit bisa menjadi sumber calon perawat profesional yang siap bekerja di Malaysia.

KJRI bahkan telah menjajaki program pendidikan bersama yang disebut ‘sandwich program’. Dalam skema ini, mahasiswa akan menyelesaikan sebagian kurikulum di Indonesia, lalu melanjutkan enam bulan terakhir di Malaysia sebelum langsung terjun ke lapangan kerja.

“Program ini tidak hanya menyiapkan tenaga kerja yang terampil, tapi juga membekali mereka dengan kemampuan beradaptasi terhadap bahasa dan budaya lokal,” tambah Sigit.

Peluang yang Menguatkan Kedua Bangsa

Kini, impian untuk melihat perawat Indonesia bekerja di rumah sakit Malaysia bukan lagi angan-angan. Data KJRI mencatat, sekitar 130.210 warga negara Indonesia menetap di wilayah kerja KJRI Johor Bahru, meliputi Johor, Melaka, Negeri Sembilan, dan Pahang. Angka ini menjadi modal sosial penting yang mendukung inisiatif penempatan tenaga kerja profesional di sektor kesehatan Malaysia.

Langkah ini bukan hanya membuka pintu kerja bagi lulusan keperawatan, tetapi juga menciptakan jembatan kemanusiaan antarbangsa yang lebih kuat dan lebih dekat.