BATAMCLICK.COM: Beras Impor di Batam dipastikan tidak pernah masuk dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Wali Kota Batam, DR H Amsakar Achmad, menegaskan bahwa seluruh beras yang beredar di Batam berasal dari produksi dalam negeri dan ditopang langsung oleh pasokan nasional.
Pemko Batam Pastikan Tak Ada Izin Impor
Amsakar menegaskan bahwa Pemerintah Kota Batam bersama BP Batam tidak pernah mengeluarkan izin impor beras. Ia menyebutkan bahwa konfirmasi tersebut datang langsung dari Direktorat Lalu Lintas Barang yang memastikan tidak ada aktivitas impor beras ke Batam.
Menurutnya, kepastian ini penting untuk meluruskan informasi di tengah masyarakat sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap ketersediaan pangan.
Dipanggil Menteri Pertanian, Amsakar Sampaikan Fakta
Amsakar mengungkap bahwa Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memanggilnya langsung untuk memberikan klarifikasi. Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan bahwa seluruh dokumen di BP Batam dan Pemerintah Kota Batam tidak menunjukkan adanya kegiatan impor beras.
Namun, ia juga menyampaikan kebutuhan masyarakat Batam yang memerlukan dukungan beras premium karena stok Bulog saat itu masih didominasi beras medium.
Respons Cepat Pemerintah Pusat
Permintaan tersebut langsung direspons cepat oleh pemerintah pusat. Pada Rabu, 26 November 2025, Batam menerima 48 ton beras premium B-Food Sentra Ramos dari SPP Subang melalui Pelabuhan Tanjung Priok.
Pada hari yang sama, tambahan 8 ton beras premium B-Food Punokawan dari Lampung juga dikirim ke Batam untuk memperkuat pasokan.
Tambahan Ribuan Ton dari Sulsel dan Sulbar
Selain itu, Bulog juga menyiapkan pengiriman 4.000 ton beras premium broken 15 persen dari Kanwil Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Amsakar menjelaskan bahwa proses tersebut sempat menunggu kesiapan transporter, namun Bulog langsung menindaklanjuti setelah koordinasi dengan Direktur Utama Bulog.
Stok Aman, Harga Beras Stabil
Amsakar optimistis bahwa dengan tambahan pasokan tersebut, cadangan beras premium di Batam berada dalam kondisi aman. Ia menegaskan bahwa fluktuasi harga komoditas strategis saat ini justru terjadi pada cabai, ayam, dan telur, bukan pada beras.(bos)








