Bukan Rumor apalagi Mitos, Kata BPS: Kedai Kopi Penggerak Utama Ekonomian Tanjungpinang

BPS Kepri menegaskan, sektor kecil inilah yang menjaga denyut ekonomi “Kota Gurindam
BPS Kepri menegaskan, sektor kecil inilah yang menjaga denyut ekonomi “Kota Gurindam

Budaya “Ngopi” Jadi Penopang Utama Ekonomi Kota Gurindam di Tengah Minimnya Industri Besar

BATAMCLICK.COM: Di setiap sudut Kota Tanjungpinang, aroma kopi seakan menjadi penanda kehidupan yang terus berdenyut. Dari pagi hingga larut malam, kepulan asap dari gelas kopi hitam dan riuh obrolan pengunjung di kedai kopi menggambarkan denyut ekonomi masyarakatnya. Tak heran jika Kedai Kopi sebagai penggerak utama perekonomian Tanjungpinang—bukan sekadar tempat bersantai, tapi ruang produktif yang menghidupkan kota.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau, Margaretha Ari Anggorowati, dalam kegiatan Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 di Tanjungpinang, Selasa (5/11/2025). Menurutnya, budaya “ngopi” yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat menjadi pilar penting dalam roda ekonomi lokal.

“Budaya ngopi bukan hanya soal menikmati kopi, tapi juga soal interaksi sosial dan perputaran uang yang terjadi setiap hari. Di Tanjungpinang saja, ada lebih dari 600 kedai kopi yang beroperasi,” ujar Margaretha.

Budaya Ngopi yang Menyuburkan Ekonomi

Lebih dari sekadar tempat melepas lelah. Kedai kopi di Tanjungpinang menjadi magnet bagi berbagai lapisan masyarakat—mulai dari pekerja kantoran, nelayan, ASN, hingga pegiat UMKM. Di sinilah ide, peluang bisnis, dan transaksi kecil-kecilan lahir setiap hari.

Margaretha menjelaskan, selain kedai kopi, perekonomian Tanjungpinang juga ditopang oleh bazar UMKM, event pariwisata, stan kuliner, dan kegiatan budaya. Kegiatan ini selalu menggeliat sepanjang tahun. Semua sektor ini berperan sebagai katalis pertumbuhan ekonomi yang membuat Tanjungpinang tetap hidup meski tanpa kehadiran industri besar.

Ekonomi yang Bangkit dari Krisis

Kota berjuluk “Kota Gurindam” itu memang memiliki karakter ekonomi yang berbeda dengan daerah tetangganya seperti Batam atau Bintan. Jika Batam dikenal dengan industri dan investasi skala besar. Maka Tanjungpinang justru tumbuh lewat kekuatan UMKM dan industri kecil-menengah (IKM) yang tersebar di berbagai sektor.

“Tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan Batam atau Bintan, karena struktur ekonominya berbeda. Tapi meski tanpa industri besar, ekonomi Tanjungpinang terus menunjukkan tren positif,” ungkap Margaretha.

Ia menuturkan, pasca-pandemi COVID-19, ekonomi Tanjungpinang berhasil bangkit dari kondisi minus 3,45 persen menjadi tumbuh positif di angka 3,78 persen. Angka itu menjadi bukti bahwa sektor kecil dan budaya lokal seperti kedai kopi justru menjadi penyelamat ekonomi masyarakat.

Data untuk Masa Depan

Margaretha juga menekankan pentingnya Sensus Ekonomi 2026 sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan daerah. Melalui sensus tersebut, BPS akan menyajikan gambaran riil tentang struktur ekonomi Tanjungpinang—mulai dari jumlah usaha, distribusi tenaga kerja, hingga potensi sektor unggulan.

Ia mengungkapkan, BPS bersinergi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tanjungpinang dalam menyusun data statistik sektoral yang nantinya menjadi fondasi perencanaan ekonomi.

“Data yang lengkap dan akurat akan membantu pemerintah kota dalam merancang kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Kami di BPS berkomitmen mendukung penuh Pemkot Tanjungpinang dalam mewujudkan ekonomi daerah yang lebih kuat dan inklusif,” jelasnya.

Kedai Kopi: Lebih dari Sekadar Tempat Nongkrong

Bagi warga Tanjungpinang, kedai kopi bukan hanya tempat melepas penat, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Dari meja-meja kayu di warung tua hingga kedai modern di tepi laut, setiap cangkir kopi menghadirkan cerita, pertemanan, dan peluang ekonomi.

Budaya ini menjadikan Tanjungpinang unik—kota yang tidak bergantung pada industri besar, tetapi hidup dan tumbuh dari interaksi manusia dan secangkir kopi yang selalu menyatukan mereka.

Penulis: bosEditor: papidedy