Awas! DBD Mulai Menggila di Batam, Ratusan Anak Jadi Korban

Kenaikan Kasus dan Upaya Bersama Menjaga Kota dari Sengatan Mematikan Nyamuk Aedes aegypti

DBD di Batam kembali menjadi ancaman nyata, menyelinap perlahan bersama datangnya musim hujan. Selama periode Januari hingga Juli 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 414 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Angka ini naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, ketika pada periode yang sama hanya tercatat 313 kasus.

Meski lonjakan kasus terjadi, Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, menegaskan bahwa situasi tetap terkendali. Ia menyebutkan bahwa tahun ini angka kematian akibat DBD justru menurun drastis.

“Selama 2024, kita kehilangan 14 nyawa akibat DBD. Tahun ini, sampai Juli, hanya dua kasus kematian yang tercatat. Ini berkat respon cepat dari petugas dan kesadaran warga yang makin tinggi untuk segera berobat ketika mengalami demam mendadak,” ujar Didi saat dihubungi, Senin (4/8/2025).

Musim Hujan Datang, Nyamuk Berkembang

Setiap tetes hujan yang turun di Batam ternyata membawa risiko. Pasalnya, genangan air jernih menjadi tempat sempurna bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Karena itu, Didi mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Ia menekankan bahwa triwulan akhir selalu menjadi periode paling rawan, sebab curah hujan meningkat dan risiko penyebaran DBD ikut melonjak.

Fluktuasi Kasus Selama 7 Tahun Terakhir

Selama tujuh tahun terakhir, tren kasus DBD di Batam menunjukkan pola naik turun. Pada tahun 2018, kasus mencapai 639, lalu melonjak tajam menjadi 902 kasus pada 2022. Tahun berikutnya, sempat turun ke 392 kasus, namun kembali meningkat hingga 871 kasus pada 2024. Lonjakan tahun ini menunjukkan bahwa kewaspadaan masyarakat belum sepenuhnya konsisten.

Gerakan Warga Jadi Penjuru Harapan

Dinkes Batam tidak tinggal diam. Untuk menekan penyebaran, mereka menggerakkan dua program utama: Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) dan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (GERTAK). Kedua program ini diatur dalam Surat Edaran No. 11 Tahun 2025 tentang Kewaspadaan Dini terhadap DBD.

Melalui G1R1J, setiap rumah ditunjuk satu Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang bertugas memeriksa potensi jentik nyamuk dan melaporkan hasilnya ke puskesmas.

Sementara itu, GERTAK mengajak warga turun langsung ke lingkungan sekitar. Gotong royong massal digerakkan untuk membersihkan tempat-tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk. Dari kaleng bekas, selokan, hingga pot bunga yang menampung air hujan—semuanya harus bersih.

“Pencegahan berbasis masyarakat adalah kunci. Tanpa dukungan warga, mustahil kami bisa menekan penyebaran penyakit ini,” ujar Didi.

Kewaspadaan yang Tak Boleh Surut

Didi kembali mengingatkan, menjelang musim hujan, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Ia mengajak semua pihak untuk aktif mencegah—tidak menunggu sampai ada korban. Karena satu genangan air kecil saja bisa menyimpan ancaman besar.

“Jangan tunggu sampai ada keluarga yang jatuh sakit. Cegah dari sekarang. Bersihkan lingkungan, periksa rumah, dan laporkan ke puskesmas jika menemukan jentik nyamuk,” tutupnya.