HPI Kepri Murka! Pramuwisata Serobot Tamu Travel Agen, Pengusaha Batam Merugi dan Dikhianati

HPI Kepri murka terhadap oknum pramuwisata yang menyerobot tamu travel agen di Batam. Praktik licik ini dinilai melanggar etik dan merugikan pengusaha pariwisata.
HPI Kepri murka terhadap oknum pramuwisata yang menyerobot tamu travel agen di Batam. Praktik licik ini dinilai melanggar etik dan merugikan pengusaha pariwisata.

HPI Kepri akhirnya angkat suara menyikapi praktik memalukan oknum pramuwisata yang nekat menyerobot tamu milik travel agen di Batam. Tindakan tersebut tidak hanya melanggar etika profesi, tetapi juga menghancurkan kepercayaan yang selama ini dibangun susah payah oleh pelaku usaha pariwisata.

Kepercayaan Dijadikan Ladang Pengkhianatan

Pramuwisata seharusnya menjadi mitra strategis travel agen. Namun, di balik seragam dan status kemitraan, justru tersembunyi praktik licik yang menyasar keuntungan pribadi.

Nurul, pemilik tour and travel di Batam, mengaku geram setelah mengetahui pramuwisata yang masih bekerja di perusahaannya diam-diam mengambil alih tamu dari mitra Singapura.

“Ini bukan tamu kecil. Ini paket besar. Tamu yang biasanya lewat kami justru diambil sendiri. Dia masih pakai seragam kami, masih kerja dengan kami, tapi WhatsApp dari agen luar diterima atas nama travel kami dan tidak pernah dilaporkan,” ujar Nurul dengan nada emosi yang tertahan.

Bukan Sekadar Nakal, Tapi Merugikan

Bagi Nurul, peristiwa tersebut bukan sekadar pelanggaran etika. Tindakan itu merusak sistem bisnis, mencederai kemitraan, dan menimbulkan kerugian nyata.

Ia menegaskan bahwa membangun kepercayaan dengan mitra luar negeri bukan perkara mudah. Namun, semua itu bisa runtuh hanya karena satu oknum yang memilih jalan pintas.

HPI Kepri: 100 Persen Salah, Tidak Ada Toleransi

Ketua Dewan Pengawas Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Kepri, Abdi Natigor Simatupang, menyatakan sikap keras tanpa kompromi.

“Kalau kejadiannya seperti itu, saya nyatakan tindakan oknum anggota HPI tersebut 100 persen salah dan melanggar aturan,” tegas Abdi dalam Bincang Pariwisata bersama Forum Jurnalis Pariwisata (FJP) Kepri.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi peringatan keras bagi pramuwisata lain yang mencoba bermain dua kaki.

HPI Kepri Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Pengawas Etik

Abdi menjelaskan bahwa seluruh pramuwisata di Kepri wajib tergabung dalam HPI Kepri. Dengan sistem tersebut, organisasi memiliki kewenangan moral dan struktural untuk menindak pelanggaran.

“Kalau ada tamu diserobot, kalau ada tindakan menyimpang, silakan laporkan secara resmi. HPI tidak akan tinggal diam,” tegasnya.

Sanksi Tegas: Dari Teguran hingga Dicabut Kartu

HPI Kepri memiliki kode etik yang jelas dan mengikat. Setiap pelanggaran akan dibawa ke sidang etik. Jika terbukti bersalah, sanksi akan dijatuhkan secara berjenjang.

Mulai dari peringatan keras, penonaktifan sementara, hingga pencabutan kartu anggota yang berarti kehilangan status sebagai pramuwisata resmi.

Mau Jadi Pengusaha? Jangan Main Belakang

Abdi menegaskan bahwa HPI tidak melarang pramuwisata naik kelas menjadi pengusaha travel. Namun, proses tersebut wajib dilakukan secara terhormat dan legal.

“Silakan upgrade diri. Buat perusahaan, lengkapi badan hukum. Tapi jangan menyerobot tamu. Jangan kianati mitra sendiri,” tegas Abdi.

HPI Kepri Tunggu Laporan Resmi

Terkait kasus yang dialami Nurul, HPI Kepri menegaskan siap memproses secara organisasi. Namun, langkah tersebut hanya bisa dilakukan setelah laporan resmi diterima.

“Setelah laporan masuk, baru kami lakukan klarifikasi dan menentukan apakah perlu sidang etik atau sanksi,” tutup Abdi.(bos)