Singgasana Gemetar Sang Kera

Di tengah rimba belantara yang tenang, suasana mendadak berubah menjadi panggung komedi paling menggelikan abad ini. Di atas panggung batu yang tinggi, sang ketua kera berbadan tegap berdiri mematung dengan mata melotot lebar dan peluh dingin bercucuran sebesar biji jagung. Alih-alih tampak berwibawa sebagai pemimpin, ia justru memeluk erat kursi singgasananya sekuat tenaga, seolah-olah kursi kayu berukir itu adalah pelampung satu-satunya di tengah badai lautan.
‎
‎Wajahnya menyeringai ngeri, ketakutan setengah mati kalau-kalau kursinya mendadak kabur atau direbut orang.
‎Yang membuat para penonton geleng-geleng kepala sekaligus tertawa terbahak-bahak adalah apa yang terjadi di hadapannya. Enam ekor kera anak buahnya justru duduk bersila di lantai dengan khidmat, merangkapkan kedua tangan, dan menyembah sang kera yang sedang ketakutan setengah mati itu. Mereka menatap sang bos dengan penuh takjub, mengira gemetar ketakutan itu adalah “getaran karismatik” seorang pemimpin agung.
‎
‎“Wah, lihatlah betapa khusyuknya Baginda Raja kita meresapi kekuasaan sampai tangannya gemetar memeluk singgasana!” bisik salah satu kera penyembah penuh kagum, gagal paham bahwa sang bos sebenarnya sedang sakau karena fobia kehilangan jabatan.
‎
‎Di sisi lain hutan, para penghuni rimba yang lain—mulai dari sekawanan rusa yang anggun, kelinci, kura-kura bijak, hingga ular-ular yang melingkar rapi—berkumpul menyaksikan pemandangan absurd tersebut. Di atas kepala mereka melayang tanda tanya besar karena bingung melihat drama macam apa lagi yang sedang dipamerkan oleh kawanan kera.
‎
‎“Hewan apa lagi ini? Yang disembah gemeteran, yang menyembah manggut-manggut bodoh,” gumam para rusa sambil saling berpandangan.
‎Sementara itu, jauh di atas dahan pohon yang rimbun, seekor Kancil kecil duduk berselonjor santai sambil memegangi perutnya. Ia tidak bisa menahan tawa melihat tingkah konyol di bawah sana.
‎
‎”Hahaha! Ada-ada saja!” Kancil tertawa terbahak-bahak hingga terpingkal-pingkal. “Punya kuasa sedikit saja susahnya minta ampun. Begitu duduk di singgasana, kerjanya malah ketakutan sendiri, takut lengser, takut jatuh, sampai kursi dipeluk kayak guling kesayangan. Padahal yang menyembah juga sama-sama nggak punya apa-apa!”
‎
‎
‎​Cerita ini murni fiksi belaka, sekadar pengantar hari agar kalian makin semangat dan bahagia. Kalau ada kesamaan atau kemiripan dengan kisah yang sedang dialami pembaca… aduh, kalian kok bisa begitu banget sih?***