Menyusuri Wisata Johor (bagian 3)
Kampong Sarang Buaya Muar menjadi tujuan kami sore itu. Setelah puas makan seafood dan trekking di hutan bakau, badan memang mulai terasa minta istirahat. Kami pun mencari tempat yang lebih santai. Bukan kafe, bukan hotel, tetapi sebuah kampung yang konon punya cerita tentang buaya.
Namanya saja sudah bikin penasaran.
Kampung Sarang Buaya.
Waduh!
Sarang buaya?
Jujur saja, begitu mendengar namanya, saya langsung membayangkan macam-macam.
Jangan-jangan nanti baru turun dari mobil, tiba-tiba ada buaya melintas.
Atau jangan-jangan kami harus berjalan sambil celingak-celinguk melihat semak-semak.
Maklumlah, namanya juga Kampung Sarang Buaya.
Baru Sampai, Malah Takut Turun dari Mobil
Petang itu cuaca Muar sedang cantik.
Matahari masih terasa panas, tetapi langit cerah. Tidak ada tanda-tanda hujan. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, suasana kampung seperti ini memang pas sekali untuk duduk santai.
Begitu mobil berhenti, kami belum langsung turun.
Saya malah lihat kiri.
Lihat kanan.
Lihat lagi ke arah semak-semak.
Teman-teman juga ikut celingak-celinguk.
Dalam hati, “Mana tahu ada buaya.”
Tak lama kemudian, datang seorang lelaki yang langsung menyambut kami dengan senyum lebar.
Namanya Pak Khairi bin Abu.
Beliau warga Kampung Sarang Buaya sekaligus salah satu orang yang aktif menggerakkan kegiatan masyarakat di kampung itu.
“Awak cari apa?” tanya Pak Khairi sambil tersenyum.
Saya langsung jawab,
“Saya takut ada buaya, Pak. Nanti diterkam.”
Pak Khairi langsung tertawa.
“Tak ada buaya! Sini tak ada buaya!”
Kami ikut ketawa.
Barulah satu per satu keluar dari mobil.
Ternyata, nama Kampung Sarang Buaya memang bukan dibuat-buat.
Dulu, kawasan ini memang menjadi tempat buaya berkembang biak.
Di belakang kampung ada sungai. Dulu, kawasan sungai itulah yang menjadi habitat buaya.
Tapi itu cerita zaman dahulu.
Menurut Pak Khairi, sekarang sudah tidak ada lagi buaya di kampung tersebut.
“Dulu memang ada. Sekarang dah tak ada. Semua dah ditangkap, dah diusir,” katanya.
Lalu sambil bercanda dia bilang, zaman buaya itu ada bahkan sudah sangat lama.
“Saya pun belum lahir,” katanya sambil tertawa.
Nah, lega kami.
Ternyata tidak perlu takut diterkam buaya.
Yang tersisa sekarang cuma namanya.
Dan justru nama itulah yang membuat Kampung Sarang Buaya terasa unik.
Masuk Kampung, Suasananya Langsung Berubah

Begitu mulai berjalan masuk, suasananya terasa berbeda.
Tidak ada suara kendaraan yang ramai.
Yang terdengar justru suara orang berbual, aktivitas warga, dan suasana kampung yang santai.
Rumah-rumah berdiri dengan gaya lama.
Beberapa masih mempertahankan bentuk rumah panggung.
Kayu masih menjadi bagian penting dari rumah-rumah di sana.
Dan yang paling terasa adalah suasananya.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
Rasanya seperti kita sedang mundur beberapa puluh tahun ke belakang.
Tetapi bukan kampung yang ditinggalkan zaman.
Justru masyarakat di sini sedang berusaha mempertahankan kehidupan kampung Melayu agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Pak Khairi bersama teman-temannya membuat sebuah kelompok masyarakat.
Mereka kemudian mengembangkan homestay untuk wisatawan yang ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya tinggal di kampung Melayu.
Nah, di sinilah perjalanan kami mulai semakin menarik.
Ini Bukan Rumah Baru yang Dibikin Ala Kampung
Begitu masuk ke homestay, saya langsung suka.
Sebab, ini bukan rumah baru yang sengaja dibuat supaya terlihat tradisional.
Rumahnya memang rumah kampung.
Lantainya papan.
Dindingnya papan.
Atapnya seng.
Dan beberapa perabot di dalam rumah juga masih mempertahankan bentuk lama.
Ada sofa.
Ada lemari.
Ada ornamen-ornamen yang membuat ruang tamunya terasa seperti rumah keluarga Melayu zaman dulu.
Tetapi jangan bayangkan kita harus hidup serba susah.
Justru bagian menariknya ada di sini.
Suasana rumahnya lama, tetapi fasilitasnya sudah nyaman.
Dua kamar tidur tersedia di dalam satu homestay.
Masing-masing kamar memiliki kamar mandi sendiri.
Kamar mandinya sudah ada shower.
Air panas juga tersedia.
Toiletnya pun sudah modern.
Jadi, setelah puas jalan-jalan seharian, kita tetap bisa mandi dengan nyaman.
Nah, satu rumah ini bisa menampung sampai sekitar enam orang.
Ruang tamunya juga cukup luas.
Jadi kalau datang bersama keluarga atau teman-teman, masih enak untuk duduk bersama.
Bercerita.
Ngobrol.
Atau sekadar duduk di teras sambil menikmati suasana petang.
Dan menurut saya, justru bagian teras inilah yang paling menarik.
Bayangkan sore-sore duduk di rumah kayu.
Angin kampung pelan-pelan masuk.
Di depan ada aktivitas warga.
Tidak ada suara klakson.
Tidak ada orang yang terburu-buru.
Kita tinggal duduk.
Itu saja.
Tiba-Tiba Warga Sedang Bikin Dodol

Belum lama kami berkeliling, kami melihat warga sedang sibuk membuat dodol.
Wah, ini menarik.
Kami pun mendekat.
Ada aktivitas warga yang sedang bekerja bersama-sama.
Dulu, membuat dodol identik dengan pekerjaan yang berat.
Adonan harus diaduk terus-menerus menggunakan tenaga manusia.
Sekarang memang sudah ada mesin yang membantu.
Namun soal rasa, warga tetap berusaha mempertahankan rasa dodol kampung.
Kami tentu saja tidak cuma melihat.
Namanya juga jalan-jalan.
Kalau ada makanan, harus dicicipi.
Kami coba.
Dan memang terasa beda.
Teksturnya lembut, rasanya legit, dan yang membuat kami semakin suka, dodol tersebut dibuat tanpa bahan pengawet.
Jadi, kami bisa melihat prosesnya sekaligus mencicipinya langsung.
Tidak perlu menunggu masuk ke toko.
Dari tempat pembuatannya langsung.
Makan Petang Ala Kampung

Setelah urusan dodol selesai, kami kemudian disuguhi makanan.
Bukan makan siang lagi.
Hari sudah mulai petang.
Jadi, kita bilang saja makan petang.
Ada roti tira.
Ada gulai ayam.
Ada ubi rebus.
Ada nasi minyak.
Ada juga ayam sambal.
Satu per satu makanan diletakkan di depan kami.
Dan seperti biasa kalau sudah duduk bersama makanan kampung, obrolan pun jadi semakin panjang.
Makan sedikit.
Cerita sedikit.
Makan lagi.
Cerita lagi.
Begitulah.
Tidak terasa.
Padahal awalnya kami datang hanya untuk melihat-lihat.
Mau Minum Kelapa? Tinggal Petik!
Nah, ada satu lagi yang membuat saya senang.
Di sekitar homestay terdapat pohon kelapa pandan.
Uniknya, pohon kelapa di sini tidak tinggi menjulang seperti yang biasa kita lihat.
Pohonnya relatif pendek.
Tingginya kurang lebih masih bisa dijangkau orang dewasa.
Buahnya pun banyak.
Pak Khairi bilang, kalau kita menginap di homestay, kita boleh mengambil kelapa tersebut.
Jadi kalau tiba-tiba haus dan ingin minum kelapa?
Tak perlu beli.
Tak perlu pesan.
Tak perlu manjat pohon.
Tinggal pilih.
Petik.
Selesai.
Di situ juga tersedia parang untuk membuka kelapa.
Kalau tidak bisa?
Panggil saja orang kampung.
Mereka akan bantu.
Sederhana sekali.
Tetapi justru pengalaman seperti inilah yang membuat kita merasa benar-benar sedang berada di sebuah kampung.
Bukan sedang menginap di tempat wisata yang dibuat-buat.
Sebenarnya Ada Kayak, Tapi…

Setelah makan dan minum kelapa, Pak Khairi kemudian mengajak kami melihat kawasan sungai.
Katanya, kami bisa mencoba menyusuri sungai menggunakan kayak.
Wah, menarik juga.
Apalagi sungai itu punya cerita sendiri.
Dulu, di kawasan itulah buaya berkembang biak.
Tapi sayangnya, ketika kami datang, hari sudah mulai petang.
Waktu tidak lagi cukup untuk bermain kayak.
Akhirnya kami memilih duduk-duduk dan menikmati suasana kampung.
Dan ternyata, itu pun sudah menyenangkan.
Kadang-kadang kita memang tidak perlu memaksakan semua aktivitas.
Duduk.
Berbual.
Mendengar cerita orang kampung.
Melihat mereka bekerja.
Itu juga bagian dari perjalanan.
Di Sini, Budaya Melayu Masih Hidup
Yang paling menarik dari Kampung Sarang Buaya bukan sekadar rumah panggungnya.
Bukan juga sekadar homestay.
Tetapi cara masyarakatnya mempertahankan kehidupan Melayu.
Mereka masih bergotong royong.
Masih membuat makanan bersama.
Masih menjaga rumah-rumah lama.
Dan mereka juga membuka pintu bagi orang luar yang ingin belajar tentang kehidupan masyarakat Melayu.
Menurut Pak Khairi, mahasiswa dari berbagai universitas di Malaysia bahkan dari Indonesia pernah datang ke kampung tersebut.
Mereka datang untuk belajar.
Bukan hanya melihat budaya dari buku.
Tetapi melihat langsung bagaimana masyarakat menjalaninya.
Dan menurut saya, di situlah menariknya perjalanan ke kampung seperti ini.
Kita bukan hanya menjadi wisatawan.
Kita seperti menjadi tamu yang diajak masuk sebentar ke dalam kehidupan mereka.
Kalau Ingin Merasakan Kampung yang Sebenarnya…
Jadi, kalau suatu hari nanti kawan-kawan datang ke Muar, Johor, jangan buru-buru hanya mencari pusat perbelanjaan atau tempat wisata yang ramai.
Cobalah masuk ke kampung.
Datang ke Homestay Sarang Buaya.
Tidur di rumah panggung.
Rasakan lantai kayunya.
Duduk di teras ketika petang.
Cicipi dodol yang dibuat warga.
Makan makanan kampung.
Petik kelapa sendiri.
Dengar cerita orang-orangnya.
Dan kalau beruntung, mungkin kita bisa ikut merasakan aktivitas warga yang sedang berlangsung hari itu.
Sebab, pengalaman seperti ini memang tidak bisa kita dapatkan hanya dengan datang sebentar, foto, lalu pulang.
Kita harus tinggal.
Kita harus duduk.
Kita harus berbual.
Barulah terasa.
Oh, begini rupanya hidup di kampung Melayu.
Dan mungkin, setelah sehari di sini, kita justru akan malas pulang.
Bukan karena tempatnya mewah.
Bukan karena fasilitasnya seperti hotel.
Tetapi karena suasananya membuat kita merasa nyaman.
Tenang.
Dan diterima seperti orang sendiri.
Nah, perjalanan kami di Muar belum selesai.
Setelah dari Kampung Sarang Buaya, kami masih akan berburu oleh-oleh.
Tapi sebelum itu, ada satu yang wajib dicoba.
Cendol Derajah.
Katanya, cendolnya sedap.
Jadi, mari kita lihat sendiri.
Ikuti terus perjalanan kami di Muar, Johor.
Jangan ke mana-mana.
Bersambung…










