Batamclick.com,
Struktur investasi di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), mulai mengalami transformasi dari industri manufaktur perakitan menuju sektor teknologi informasi dan industri berteknologi tinggi, seiring meningkatnya minat investor terhadap pengembangan pusat data, kata Wali Kota Batam Amsakar Achmad.
Amsakar Achmad yang sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam di Batam, Rabu, mengatakan perubahan tersebut menjadi salah satu indikator berkembangnya kualitas investasi di Batam.
Menurut dia, jika sebelumnya investasi didominasi sektor infrastruktur dan manufaktur perakitan, kini arah investasi mulai bergeser ke industri yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Industri manufaktur berteknologi tinggi kini menjadi salah satu sektor yang paling diminati investor, disusul industri kimia dan farmasi, perumahan dan kawasan industri, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi,” ujar Amsakar.
Ia menambahkan, sektor teknologi informasi menjadi salah satu motor baru pertumbuhan investasi, terutama dengan berkembangnya industri pusat data di Batam.
“Dengan ini kami berkomitmen memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, terutama ketersediaan listrik dan air bersih yang menjadi kebutuhan utama industri berbasis teknologi,” katanya.
Ia mencontohkan PT Altiva Identity Data Center yang menanamkan investasi pusat data di Batam, lalu ia juga menyoroti rencana kemitraan Firmus Technologies Australia bersama Nvidia dalam membangun fasilitas produksi Graphics Processing Unit (GPU) di Batam yang ditargetkan mulai beroperasi pada triwulan I 2027.
“Transformasi struktur investasi ke bidang teknologi ini seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap Batam. Kami juga mencatat peningkatan realisasi investasi secara tahunan,” katanya.
Pada Semester I 2026, realisasi investasi di Batam mencapai Rp29,89 triliun atau tumbuh 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp18,37 triliun.
“Lonjakan ini mencerminkan iklim usaha yang semakin kondusif sekaligus hasil sinergi antara Pemko Batam, BP Batam, pemerintah pusat, dan seluruh pemangku kepentingan dalam memberikan kepastian berusaha bagi investor,” katanya.
Pertumbuhan investasi juga tercermin dari meningkatnya jumlah proyek. Hingga Semester I 2026, jumlah proyek investasi mencapai 15.826 proyek atau naik 32,82 persen dibandingkan 11.915 proyek pada periode yang sama tahun lalu.
“Selain jumlah proyek yang meningkat, nilai investasi per proyek juga semakin besar. Rata-rata investasi per proyek naik 22,53 persen, dari Rp1,54 miliar menjadi Rp1,89 miliar, yang menunjukkan masuknya investasi dengan skala dan nilai tambah lebih tinggi,” kata Amsakar.
Berdasarkan data Semester I 2026, lima sektor penyumbang investasi terbesar di Batam meliputi jasa lainnya sebesar Rp6,09 triliun; industri mesin, elektronika, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam sebesar Rp6,07 triliun; industri kimia dan farmasi Rp3,97 triliun, perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp3,52 triliun; serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp2,55 triliun.
Sementara dari sisi negara asal investor, Singapura masih menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp10,89 triliun, diikuti Hong Kong Rp1,39 triliun, Korea Selatan Rp1,18 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp1,11 triliun, dan Amerika Serikat Rp1,02 triliun.
Sumber, Antara









