BATAMCLICK.COM: Durian bukan sekadar buah. Bagi masyarakat Indonesia, durian adalah bagian dari kenangan masa kecil, aroma yang mengepul dari dapur nenek, serta alasan mengapa keluarga dan sahabat rela berkumpul berjam-jam di bawah rindangnya pohon tua di pelosok kampung.
Sejak ratusan tahun silam, durian tumbuh liar di hutan-hutan Nusantara tanpa pupuk, tanpa pestisida, hanya dirawat oleh alam dan tangan-tangan petani lokal yang menjaganya secara turun-temurun.
Salah satu rumah tertua durian itu berada di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Karena itulah, pada 26 Juli 2026, Bintan tidak sekadar mengundang Anda untuk menikmati durian. Bintan mengajak Anda untuk “pulang kampung”, merasakan kembali sensasi durian alami dalam Kenduri Durian Bintan 2026 yang akan digelar di kaki Gunung Bintan, gunung legendaris yang pernah menjadi saksi jalur perdagangan dan kejayaan Kerajaan Melayu.
Di tempat inilah sejarah, alam, dan cita rasa bertemu dalam satu hamparan tikar.
Namun, jangan bayangkan ini hanya pesta makan durian sepuasnya. Kenduri Durian Bintan adalah sebuah pernyataan cinta terhadap kekayaan lokal. Di tengah derasnya arus buah impor dan ekspansi perkebunan monokultur, Bintan memilih tetap menjaga identitas dan cita rasa yang diwariskan leluhur.
Melalui kenduri ini, kita ingin dunia mengetahui bahwa Bintan bukan hanya terkenal dengan pantai dan resornya, tetapi juga sebagai tanah yang menyimpan kekayaan rasa sekaligus cerita budaya Melayu yang masih hidup hingga kini.
Cerita itu bukan isapan jempol.
Hingga saat ini, Kementerian Pertanian Republik Indonesia telah menetapkan tujuh varietas durian asli Bintan sebagai varietas unggul, yakni Kerikil, Semang, Buntat Ali, Jantung Intan, Tok Koyong, Onet, dan Lembung.
Tujuh nama. Tujuh karakter rasa. Semuanya lahir dari tanah yang sama dan dirawat secara turun-temurun oleh para pekebun Bintan. Menikmati setiap buahnya seakan membaca peta rasa Kepulauan Riau langsung dari sumbernya.
Namun, ada satu nama yang paling dinantikan pada Kenduri Durian tahun ini, yaitu Durian Daun, atau oleh masyarakat tua dikenal sebagai Durian Hutan.
Durian ini bukan berasal dari kebun budidaya. Ia tumbuh liar di lereng dan kaki Gunung Bintan, dengan usia yang diperkirakan puluhan bahkan ratusan tahun.
Bentuknya relatif kecil, kulitnya tetap hijau pekat meski telah matang dan jatuh dari pohon. Durinya panjang, tetapi lembut saat disentuh. Ketika dibelah, daging buahnya tidak berwarna kuning terang, melainkan krem pucat dengan aroma khas kayu hutan yang lembut.
Rasanya manis seperti susu, teksturnya lembut, tidak menyengat, dan terasa ringan di tenggorokan. Kandungan lemaknya yang lebih rendah membuat banyak penikmat durian mengaku bisa menikmati lebih banyak tanpa merasa terlalu berat.
Yang membuatnya semakin istimewa, Durian Daun tidak akan Anda temukan di supermarket. Ia tidak dijual secara daring dan hanya muncul sekali dalam setahun. Buah ini dipasarkan secara terbatas oleh masyarakat sekitar hutan, sehingga satu-satunya cara untuk menikmatinya adalah datang langsung ke Bintan.
Di situlah letak keistimewaannya.
Kenduri Durian Bintan 2026 menjadi kesempatan langka untuk menikmati tujuh varietas durian bersertifikat tersebut berdampingan dengan sang legenda hijau, Durian Daun.
Bayangkan duduk lesehan di atas tikar beralaskan daun pisang, dikelilingi aroma durian yang baru dibelah, sembari mendengarkan pantun Melayu dan kisah para orang tua tentang masa ketika mereka berburu durian hutan sebelum matahari terbit.
Memang, acara ini hanya berlangsung satu hari. Namun maknanya jauh lebih panjang.
Setiap durian yang Anda beli merupakan dukungan nyata bagi para petani lokal agar tetap mempertahankan pohon-pohon durian tua dan tidak tergoda menebangnya untuk diganti menjadi perkebunan lain.
Setiap foto yang Anda unggah di media sosial menjadi promosi tanpa biaya agar generasi mendatang tetap mengenal cita rasa asli durian Bintan, bukan hanya mendengarnya sebagai cerita.
Karena itu, tandailah tanggalnya.
26 Juli 2026. Kaki Gunung Bintan.
Ajak keluarga, sahabat, komunitas, dan siapa pun yang mengaku sebagai pencinta durian sejati.
Datanglah bukan sekadar untuk makan hingga kenyang, tetapi untuk ikut menjaga sebuah warisan.
Sebab, mencintai negeri ini terkadang sesederhana datang ke Bintan, duduk bersama, membuka sebutir durian, lalu berkata dengan bangga,
“Inilah rasa tanah kita.”
Batam, 9 Juli 2026
Buralimar
Wakil Ketua DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASSPI) Kepulauan Riau









