BATAMCLICK.COM: Peluang ekonomi program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini semakin nyata di Provinsi Kepulauan Riau. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan ikut terlibat aktif sebagai pemasok bahan baku bagi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ajakan itu ia sampaikan usai meninjau langsung pembagian MBG kepada siswa SD Katolik di Tanjungpinang. Menurutnya, program ini membuka ruang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan melalui sektor pangan.
Kebutuhan Bahan Baku Sangat Besar
Nihayatul menjelaskan, satu dapur SPPG dengan 3.000 penerima manfaat bisa membutuhkan lebih dari 200 potong ayam setiap hari. Angka ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan bahan baku yang harus dipenuhi secara berkelanjutan.
Karena itu, ia mendorong masyarakat mulai memanfaatkan peluang ini dengan memberdayakan diri, misalnya melalui usaha peternakan ayam petelur maupun ayam potong.
“Ini peluang nyata. Masyarakat bisa mulai beternak untuk mendukung rantai pasok MBG,” ujarnya.
Kepri Masih Kekurangan Pasokan
Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa pasokan bahan baku di Kepri saat ini masih belum mencukupi. Akibatnya, sebagian kebutuhan harus didatangkan dari luar daerah, seperti dari Pulau Sumatera hingga Kalimantan Barat.
Kondisi ini, menurutnya, menjadi peluang sekaligus tantangan. Oleh sebab itu, ia meminta Badan Gizi Nasional bersama pemangku kepentingan lainnya untuk lebih masif melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
Dengan informasi yang tepat, masyarakat diharapkan bisa ikut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan bahan baku MBG secara lokal.
Bertani dan Beternak Jadi Jalan Ekonomi Baru
Tidak hanya beternak ayam, Nihayatul juga mendorong masyarakat untuk mengembangkan sektor pertanian, khususnya tanaman sayuran yang menjadi bagian penting dalam menu MBG.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya membantu keberlangsungan program, tetapi juga mendapatkan sumber penghasilan baru yang berkelanjutan.
“Kalau masyarakat mulai bertani dan beternak, otomatis ekonomi mereka ikut meningkat,” katanya.
Potensi Ikan dan Udang Kepri Harus Dimaksimalkan
Sebagai daerah kepulauan, Kepulauan Riau dikenal memiliki kekayaan hasil laut yang melimpah, seperti ikan dan udang. Nihayatul pun mendorong agar potensi ini dimanfaatkan maksimal untuk mendukung menu MBG.
Namun demikian, ia menilai perlu adanya pelatihan dan pendampingan agar masyarakat serta pelaku UMKM mampu mengolah hasil laut menjadi produk siap saji yang sesuai standar.
“Ikan bisa diolah menjadi nugget atau fillet tanpa duri, sehingga lebih mudah dikonsumsi anak-anak,” jelasnya.
Skema Barter Antar Daerah Jadi Solusi
Lebih jauh, ia juga mendorong adanya kerja sama antardaerah dalam memenuhi kebutuhan bahan baku MBG. Menurutnya, daerah yang memiliki kelebihan komoditas tertentu bisa saling bertukar dengan daerah lain yang kekurangan.
Sebagai contoh, Kepri dapat memasok ikan dan udang ke daerah lain, sementara kebutuhan sayur-mayur bisa dipenuhi dari wilayah yang surplus pertanian.
“Ini bisa menjadi skema barter bahan baku yang saling menguntungkan dan membuka peluang ekonomi baru,” ujarnya.
MBG Tak Hanya Soal Gizi, Tapi Juga Ekonomi
Nihayatul menegaskan bahwa program MBG yang digagas oleh Prabowo Subianto tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional, saat ini terdapat sekitar 544 ribu penerima manfaat MBG dari 233 dapur SPPG yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Kepri.
Penerima manfaat tersebut mencakup peserta didik serta kelompok 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Momentum Emas bagi Ekonomi Lokal
Dengan kebutuhan bahan baku yang terus meningkat dan dukungan pemerintah yang semakin kuat, program MBG menjadi momentum emas bagi masyarakat Kepri untuk bangkit secara ekonomi.
Kini, pilihan ada di tangan masyarakat: tetap menjadi penonton atau ikut ambil bagian sebagai pelaku utama dalam rantai pasok program strategis nasional ini.









