PN Batam tempatkan mediator perempuan guna cegah perceraian

Batamclick.com,
Satlantas Polresta Barelang menyebut jumlah pelanggaran lalu lintas di kalangan pelajar di Kota Batam menurun, setelah kurikulum pendidikan lalu lintas mulai diterapkan di sekolah pada awal Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kepulauan Riau, menempatkan sejumlah mediator perempuan dalam menangani perkara perceraian guna mengoptimalkan upaya mediasi dan menjaga keutuhan rumah tangga para pihak yang berperkara.

Juru Bicara PN Batam Vabiannes Stuart Wattimena mengatakan penempatan mediator perempuan dalam perkara perceraian diharapkan lebih efektif, karena wanita dianggap dapat lebih dapat berempati terhadap persoalan yang bersifat emosional.

“Kami bersepakat mediatornya perempuan karena perkara perceraian menyangkut masalah hati, bukan sekadar objek sengketa,” kata dia di Batam, Selasa.

Namun memang, hingga kini upaya mediasi belum membuahkan hasil maksimal. Menurut Vabiannes seluruh perkara perceraian yang dimediasi tetap berlanjut ke tahap persidangan.

“Keberhasilan mediasi sampai saat ini tidak ada. Semuanya lanjut dengan proses perceraian. Tentu hal ini sangat kami sayangkan,” kata Vabiannes.

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan PN Batam menangani sebanyak 177 perkara perceraian sepanjang semester pertama 2026. Jumlah ini meningkat tajam dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 20 perkara.

Menurut dia, angka tersebut belum termasuk perkara yang memasuki tahap upaya hukum banding, sehingga total perkara perceraian yang ditangani pengadilan diperkirakan sekitar 200 perkara.

Sebagai informasi, Pengadilan Negeri menangani perkara perceraian bagi pasangan non-Muslim, yakni pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Vabiannes mengungkapkan mayoritas gugatan perceraian diajukan oleh pihak istri, dengan persentase mencapai sekitar 97 persen.

“Yang menggugat dari pihak suami hanya sekitar 3 persen. Sebagian besar pasangan yang mengajukan gugatan juga masih berusia relatif muda, yakni maksimal 35 tahun,” katanya.

Mengenai penyebab perceraian, ia mengatakan terdapat banyak faktor. Namun yang paling banyak adalah alasan ekonomi.

Sumber, Antara