Kenduri Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Kota Batam 2025
BATAMCLICK.COM: Tradisi Makan Berhidang membuka rangkaian Kenduri Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Kota Batam 2025. Kegiatan ini penuh kehangatan dan memendam sejuta budaya. Suasana akrab dan kekeluargaan terasa kental di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam, Selasa (21/10/2025). Tempat para tokoh adat, pejabat pemerintah, dan pelaku budaya berkumpul menikmati hidangan khas Melayu bersama-sama.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV Riau dan Kepulauan Riau, Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, serta LAM Kota Batam.
Makan Berhidang menjadi pembuka sebelum puncak Kenduri WBTb yang akan digelar pada 23–25 Oktober 2025 di Alun-alun Engku Putri, Batam Centre.
Simbol Kebersamaan dalam Satu Talam
Acara dimulai dengan doa bersama dan pembacaan pantun adat Melayu.
Setelah penyambutan tamu kehormatan, para undangan disuguhi hidangan khas Melayu yang disajikan di atas talam besar — simbol kebersamaan dan persaudaraan dalam budaya Melayu.
Kehadiran sejumlah tokoh menambah khidmat suasana, di antaranya Kepala BPK Wilayah IV Riau dan Kepri, Jumhari, S.S., M.Hum, Ketua LAM Kota Batam, Yang Mulia Datok Wira Setia Utama Raja Haji Muhammad Amin yang diwakili Datok Haji Samsudin Jafar, serta Kepala Disbudpar Kota Batam, Datok Drs. Ardiwinata, yang hadir mewakili Wali Kota Batam, Dr. Amsakar Achmad, S.Sos., M.Si. Turut hadir pula perwakilan LAM Provinsi Kepri, Datok Haji Muhammad Zen, bersama unsur OPD, BPK, dan komunitas budaya.
Dalam sambutannya, Jumhari menekankan bahwa Makan Berhidang bukan sekadar jamuan makan, melainkan kegiatan yang sarat nilai spiritual dan sosial.
“Kegiatan ini adalah wujud keimanan dan kebersamaan. Sebelum Kenduri WBTb dimulai, kita menjamu para tamu dengan doa agar acara berjalan lancar. Semoga tradisi seperti ini terus lestari dan memperkuat persaudaraan,” ujarnya.
Filosofi Makan Berhidang dalam Adat Melayu
Setelah sambutan, para tamu undangan dipersilakan duduk bersila di sekeliling talam besar yang telah disiapkan. Dengan penuh sopan santun, mereka menyantap hidangan bersama, mencerminkan nilai kesetaraan tanpa perbedaan status atau jabatan.
Unsur Ketua LAM Kota Batam, Datok Haji Samsudin Jafar, turut menjelaskan filosofi di balik tradisi ini.
“Makan Berhidang adalah simbol kebersamaan dan kesetaraan. Makanan disajikan dalam satu talam besar, dinikmati bersama di lantai tanpa perbedaan menu. Tradisi ini biasa dilakukan dalam acara adat seperti pernikahan atau kenduri,” jelasnya.
Disbudpar Kota Batam Dorong Pelestarian Nilai Budaya
Sementara itu, Kepala Disbudpar Kota Batam, Drs. Ardiwinata, menegaskan pentingnya memahami kebudayaan secara menyeluruh dan melestarikannya bersama-sama.
“Budaya itu luas, mencakup bahasa, sastra lisan, olahraga tradisional, permainan rakyat, hingga cagar budaya. Semua unsur ini saling terkait dan membentuk identitas bangsa. Karena itu, pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua,” ungkapnya.
Melalui kegiatan Makan Berhidang ini, Disbudpar Kota Batam berharap nilai-nilai luhur budaya Melayu dapat terus diwariskan kepada generasi muda. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa dalam kebersamaan, tersimpan kekuatan untuk menjaga identitas dan memperkuat persaudaraan masyarakat Kepulauan Riau, khususnya Kota Batam.(mata)








