Batamclick.com,
Ombudsman Republik Indonesia menilai penambahan fasilitas autogate di Pelabuhan Internasional Batam Centre, Kepulauan Riau (Kepri) menjadi upaya penting untuk mengurangi kepadatan penumpang dan meningkatkan kualitas pelayanan keimigrasian di pintu masuk internasional itu.
Pimpinan Ombudsman RI Nuzran Joher mengatakan sistem autogate yang saat ini digunakan sudah berjalan dengan baik.
“Autogate sudah berjalan baik. Dari data yang diberikan Kanwil Imigrasi Kepri, saya rasa masih kurang banyak. Kita harapkan bisa ada penambahan alat. Secara teknologi sudah baik, tinggal penambahan kuantitas karena jumlah pengguna akan terus meningkat,” kata Nuzran saat kunjungan kerja di Batam, Kamis.
Menurut dia, percepatan proses pemeriksaan keimigrasian harus selaras dengan kesiapan sarana dan prasarana pelabuhan secara menyeluruh.
Jika pemeriksaan imigrasi berjalan lancar namun terjadi kepadatan di area pelabuhan, kata dia, maka pelayanan publik tetap akan terganggu.
“Tidak akan terjadi kepadatan karena sudah ada pencegahan di hulunya. Kalau di sana lancar, tetapi di sini padat, tetap mengganggu pelayanan masyarakat. Maka harus lebih baik,” ujarnya.
Nuzran menambahkan kepadatan penumpang tidak hanya dipengaruhi proses pemeriksaan imigrasi, tetapi juga sinkronisasi layanan pelabuhan dan operator kapal.
Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu duduk bersama untuk menyusun pola pelayanan yang lebih terintegrasi.
“Penumpukan kapal itu akan membuat kepadatan. Harus ada duduk bersama seluruh pihak agar tidak ada yang dikambinghitamkan. Bagaimana jadwal keberangkatan dan kedatangan kapal diatur supaya antrean penumpang lebih terkendali dan kepadatan dapat dicegah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Kepulauan Riau Guntur Sahat Hamonangan mengatakan Pelabuhan Internasional Batam Centre saat ini telah dilengkapi lima autogate keberangkatan dan lima autogate kedatangan.
Ia menyebut pemerintah terus mendorong penerapan sistem autogate secara penuh di pelabuhan dan bandara internasional sebagai bagian dari program modernisasi layanan keimigrasian.
“Ini program Kementerian serta Dirjen Imigrasi. Tahun 2027 diupayakan seluruh pelabuhan dan bandara menggunakan autogate. Kami terus berkoordinasi dengan pengelola pelabuhan agar program tersebut dapat berjalan penuh,” kata Guntur.
Menurut dia, penggunaan autogate mampu mempercepat proses pemeriksaan keimigrasian karena dilengkapi teknologi biometrik, pemindaian wajah, dan paspor yang dapat diselesaikan dalam waktu maksimal 20 detik per orang.
“Kalau autogate seluruhnya diterapkan, tidak ada lagi kontak fisik antara petugas dan penumpang. Selain lebih cepat, pelayanan juga menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Meski demikian, Guntur menegaskan jumlah ideal autogate harus dihitung berdasarkan volume penumpang, jumlah kapal, serta ritme kedatangan dan keberangkatan kapal agar mampu mengantisipasi potensi kepadatan di masa mendatang.
Selanjutnya, Nuzran menilai kondisi Pelabuhan Batam Centre saat ini terasa cukup padat.
“Pelabuhan Batam Centre ini ada catatan dari kami, rasanya cukup sempit. Pelabuhan ini padat, mungkin juga nanti saat akhir pekan karena terdapat UMKM di dalam kawasan pelabuhan,” ujarnya.
Selain itu, Ombudsman juga memberikan sejumlah masukan terkait peningkatan pelayanan publik.
“Kami beri masukan kepada Kanwil Imigrasi agar ada ruang konsultasi khusus bagi warga negara asing, serta penguatan integrasi layanan lintas instansi seperti imigrasi, bea cukai, bandara, dan pelabuhan,” katanya.
Sumber, Antara









