Batamclick.com,
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) menggenjot layanan skrining HIV/AIDS pada 2026 dengan target menjangkau 16.839 orang yang masuk dalam sasaran skrining HIV.
Kepala Dinkes Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan hingga Mei 2026, sebanyak 6.144 orang telah menjalani skrining atau sekitar 36 persen dari target yang ditetapkan.
“Kami terus memperluas cakupan skrining agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai hingga akhir tahun. Berdasarkan data hingga Mei, masih di angka 36 persen dari target,” kata Didi saat dihubungi di Batam, Ahad.
Ia menjelaskan capaian skrining tahun ini masih akan terus ditingkatkan. Didi mengatakan pada periode 2022 hingga 2025 Batam selalu berhasil memenuhi target skrining HIV sebesar 100 persen.
Berdasarkan data Dinkes Batam, pada 2024, skrining HIV dilakukan terhadap 15.060 orang dan ditemukan 822 kasus positif HIV. Sementara pada 2025, jumlah skrining meningkat menjadi 15.868 orang dengan 671 kasus positif.
Menurut Didi, penemuan kasus HIV di Batam tidak hanya dilakukan melalui pemeriksaan sukarela di fasilitas kesehatan, tetapi juga melalui skrining sebelum tindakan operasi serta layanan skrining bergerak (mobile screening) di sejumlah titik yang menjadi perhatian atau hotspot.
“Pelaksanaan skrining masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti rendahnya kesadaran kelompok populasi kunci untuk memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tambahnya.
Kelompok kunci meliputi laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), wanita pekerja seks (WPS), pengguna narkoba suntik, waria, pasien tuberkulosis (TBC), serta kelompok berisiko lainnya.
“Selain itu, penyebaran kelompok LSL di berbagai lokasi membuat petugas kesehatan kesulitan melakukan penjangkauan maupun skrining,” katanya.
Tantangan lainnya, kata Didi, adalah masih adanya hotspot yang belum memberikan akses bagi tenaga kesehatan untuk melakukan pemeriksaan.
Untuk mendukung upaya deteksi dini, Pemkot Batam telah menyediakan berbagai layanan pemeriksaan dan penanganan HIV secara komprehensif.
“Saat ini terdapat 32 layanan Care Support Treatment (CST) bagi orang dengan HIV (ODHIV). Ada juga layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) tersedia di 36 fasilitas kesehatan, terdiri atas 21 puskesmas, 13 rumah sakit, satu klinik rumah tahanan, dan satu klinik lembaga pemasyarakatan,” katanya.
Layanan infeksi menular seksual (IMS) juga tersedia di fasilitas kesehatan yang sama untuk mendukung deteksi dan penanganan penyakit menular seksual.
“Seluruh puskesmas kami melayani, rumah sakit daerah, seperti RSUD Embung Fatimah dan RS Badan Pengusahaan (RSBP) Batam, dan RS swasta seperti Awal Bros, Santa Elisabeth dan Harapan Bunda,” katanya.
Selain itu, Batam memiliki layanan Maintenance Methadone Treatment (MMT) di RSUD Embung Fatimah bagi pasien ketergantungan narkotika.
“Layanan pemeriksaan viral load tersedia di RS Budi Kemuliaan Batam dan RSUD Embung Fatimah, serta layanan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) di delapan puskesmas dan lima rumah sakit bagi kelompok yang berisiko tinggi tertular HIV,” katanya.
Didi berharap masyarakat, khususnya kelompok berisiko, tidak ragu memanfaatkan layanan skrining yang tersedia, karena deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah penularan sekaligus mempercepat pengobatan bagi penderita HIV.
Sumber, Antara









