ICPI: Pemetaan wisata belanja perlu dikaji berdasarkan minat wisatawan

Batamclick.com,
Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) menilai pemetaan wisata belanja yang polanya saat ini sedang dirancang oleh pemerintah perlu dikaji berdasarkan minat, hobi hingga kebutuhan wisatawan.

“Sejak tahun 2023 itu sudah terjadi pergeseran dari quality tourism ke customized tourism. Customized tourism paradigma pariwisata bergeser itu mengarah kepada yang saya sebut dengan lebih kepada secara mikro itu disebut special interest tourism,” kata Ketua Umum ICPI Azril Azhari saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Azril menyampaikan hal yang kini dicari wisatawan merupakan sebuah pengalaman yang personal, berbaur dengan lokal dan imersif. Minat-minat itu menumbuhkan segmen wisata tematik seperti wisata kesehatan, wisata lansia, wisata olahraga, wisata alam sampai dengan wisata belanja.

Terkait dengan wisata belanja, dia menilai segmen tersebut terbilang cukup luas karena mencakup fesyen, kuliner hingga kriya.

Pada wisatawan asal Malaysia contohnya, mereka gemar mengunjungi kawasan Tanah Abang atau Thamrin City untuk membeli baju koko dan sarung aneka motif. Berbeda dengan wisatawan Singapura yang pada saat nilai tukar rupiah melemah gemar membeli berbagai keperluan bulanan di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Pengamatan minat itu juga perlu diimbangi dengan mengetahui perilaku wisatawan atau pelancong ketika berkunjung ke sebuah daerah.

Azril mencontohkan banyak wisatawan Singapura lebih memilih membeli koper di Batam untuk mengisi barang belanjaannya, kemudian langsung pulang ke negara asal karena dekat dengan pintu masuk negaranya.

Perilaku ini berbeda dari wisatawan Australia yang gemar tinggal dalam waktu cukup lama untuk menikmati ombak dan berselancar di Kepulauan Mentawai.

Dari sisi kuliner, wisatawan Singapura dan Malaysia suka mencari makanan seperti mi dengan cita rasa rempah yang autentik. Pengalaman ini dapat ditemukan di Bangka.

“Jadi kalau dibilang wisata belanja, wisatawan lalu tidak pergi ke gunung. Special interest tourism itu spesial, dia spesifik pada hobi, pada gairah, tidak umum. Jadi wisatawan akan lama di suatu tempat, dan dia memperdalam pengalaman,” kata dia.

Di samping itu, Azril mengatakan pemerintah perlu melakukan zonasi untuk mengevaluasi daerah dan melihat efek penggandanya bagi sektor pariwisata dan ekonomi agar semua pelaku usaha di dalamnya bisa menerima hasilnya.

Hal pertama yang perlu dilihat terkait dengan hospitality (keramahan) yang berkaitan dengan akomodasi termasuk vila, homestay, bisnis makanan dan minuman (F&B), dan hiburan (entertainment).

“Dari sisi hiburan itu tidak hanya tontonan saja, tapi bisa melibatkan pengunjung. Ada yang namanya retailtainment, jadi ritel dan hiburan, bisa disediakan jalanan bagus, orang-orang gelar fashion week di situ, nanti yang tertarik bisa beli bajunya di toko atau pusat perbelanjaan terdekat, dikasih diskon atau apa,” tambahnya.

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan transportasi. Dia mencontohkan wisatawan Australia seringkali mengalami kesulitan untuk naik pesawat yang dapat mengangkat papan selancarnya bersama-sama karena kapasitas yang kecil.

Berikutnya adalah pengembangan destinasi dan atraksi. Kedua hal itu perlu dikembangkan menjadi spesial sehingga menghasilkan pendapatan lebih pada daerah, termasuk paket-paket wisata yang ditawarkan mencakup seluruh minat yang dicari wisatawan.

Hal tersebut dapat dipelajari dari Thailand yang menyajikan pertunjukan Siam Niramit, beragam paket wisata untuk mengunjungi lokasi mencari camilan jalanan, merasakan sensasi yoga di pantai dan lain sebagainya.

“Dari seluruh hal itu, pemerintah perlu menghitung mana yang paling menonjol untuk efek pengganda tadi. Dari hasil evaluasi dihitung berapa pembagiannya, distribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kita, kalau sudah lebih dari 15 persen baru bisa dianggap itu sektor unggulan kita,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa Kementerian Pariwisata sedang merancang pola perjalanan khusus wisata belanja di berbagai daerah sebagai upaya memperkuat daya tarik pariwisata sekaligus meningkatkan pengeluaran wisatawan selama berada di Indonesia.

Penyusunan dilakukan bersama pelaku industri ritel menyusun pola perjalanan yang dapat memudahkan wisatawan menemukan pusat-pusat belanja dan produk unggulan khas setiap daerah.

Sumber, Antara