Kepri Dekat Singapur ya? (Kolom Buralimar)

Pensil (Pensiun Usil)

PERTANYAAN di atas selalu dilontarkan teman-teman di daerah lain, jika kita cerita tentang Kepri, terutama yang belum pernah ke Kepri. Sengaja kita tulis Kepri daripada Kepulauan Riau, karena dulunya memang Kepri itu bagian dari Provinsi Riau.

Undang-undang menyebutkan nama provinsi induk tidak boleh diubah, tetap Riau, sedangkan provinsi pemekarannya boleh nama lain. Padahal nama Riau itu asalnya dari Provinsi Kepri saat ini.

Di Kepri ada nama tempat Selat Riau, selat legendaris menjadi salah satu pusat pertahanan yang menjadi rebutan saat perang melawan Belanda maupun Feringgi (baca : Portugis).

Juga ada Tanjung Riau, salah satu tempat di Batam yang konon dulu wilayah persinggahan jika para pelaut pedagang untuk mencari air bersih sebagai bekal.

Itu contoh bahwa nama Riau memang berasal dari Kepulauan Riau. Pahlawan yang gagah berani pun bernama Hang Tuah yang namanya melegenda berasal dari Bintan, Kepulauan Riau, sehingga begitu lagu Hang Tuah diciptakan , ada salah satu lirik lagunya “ dari Bintan Kepulauan Riau..” PIHAK negeri seberang yang juga mengidolakan pahlawan tersebut, komplen dan berusaha membujuk penciptanya untuk mengganti kata-kata” bintan kepulauan riau”nya. (penulis pernah berdialog dengan penciptanya Bang Husnie Thamrin(alm), tapi alm tidak mau, bahkan beliau diimingi dibayar untuk itu, tapi almarhum tetap bersikukuh mempertahankan lirik itu, luar biasa,.Alfaatiha untuk almarhum).

Kita tidak membahas tentang Riau dan Kepulauan Riau, yang kadang orang salah sebut termasuk beberapa pejabat pusat sering salah ucap kepri disebut Riau, dan wajar saja memang dulunya wilayah Kepri sekarang berada dalam Provinsi Riau.

Lagipula apa mau hendak dipolemikkan, Riau dan Kepri dulu satu dan tetap satu minimal dalam konteks budaya, yang persis sama dan beberapa daerah bahasanya mirip dan ketika masing-masing berbual alias ngobrol tetap saling ngerti dan faham, karena bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dalam dunia perdagangan dulu.

BACA JUGA:    Rute Feri Batam Center-Tanjung Belungkor Johor Kembali Dibuka

Menjadi bahasa persatuan dan dasar dari lahirnya bahasa Indonesia. Saat dulu disebutkan dalam buku sejarah demikian, walau saat ini ada yang tidak setuju dengan berbagai alasan. Tapi biarlah nanti para pakar sejarah yang bicara dengan dasar dan argumentasi masing-masing.

Kepri itu keren kata teman saya, keyen bahas gaulnya. Punya kedekatan dengan dua negara tetangga Singapore dan Malaysia, dimana Pak Arif Yahya mantan Menteri Pariwisata RI lebih senang memakai istilah Inggrisnya yakni proximity.

Bahasa lainnya keunggulan komparatif (comparative advantage), kita tahu ada keunggulan komparatif ada keunggulan kompetitif. Jika keunggulan kompetitif belum maksimal, ya keunggulan komparatif jadi kebanggaan dan (harusnya) diperhatikan, kan begitu.

Lumayan daripada lu manyun.masih ada unggul daripada daripada lebih baik lebih baik..hehehe.

Keunggulan komparatif dengan kedekatan dan geo strategis ini dimana berbatasan dengan dua negara tetanga ini, menjadikan Kepri (harusnya) dikenal luas dan (harusnya) menjadi pusat perhatian serius kita semua.

Hanya perlu satu jam lebih kurang sudah tiba di negeri singa itu, dan juga satu setengah jam sudah bisa kita makan perata di Johor di Malaysia.

Kita bersyukur dan tentunya bangga dengan kondisi ini, dimana orang lain bermimpi untuk ke sana, kita juga dengan menciptakan mimpi sambil tiduran di ferry tak terasa udah sampai di sana.
Dekat sekali ya..kawan saya ke sana untuk makan siang, pergi pagi, siang makan dan sore pulang lagi.

Kedekatan ini, tentu (harusnya) disadari, terutama sektor pariwisata yang seksi dan menarik, dimana semua daerah menjadi sektor ini unggulan, katanya begitu.

Walaupun anggaran untuk sektor ini belum lah begitu signifikan persentasenya dibandingkan anggaran di suatu daerah. Karena berbagai argumentasi dan hehehe..

Bisa dihitung, tapi tak masalahnya yang pentingnya daerah semangat-semangatnya dan getol memajukan sektor ini. Semangat …semangat dan semangat karena semangat sebagian dari keberhasilan …katanya juga begitu.

BACA JUGA:   Netmonk Prime: Solusi Monitoring Jaringan Andalan dari Telkom untuk Berbagai Sektor

Pariwisata menggiurkan, mendatangkan devisa buat negara, meningkatkan perputaran perekonomian daerah dan negara, dapat memperkenalkan budaya daerah serta side effect lainnya… katanya begitulah.

Pertanyaan dan mungkin juga semacam curhat yang harus disikapi, kita tinggal di Kepri yang paling tidak ada empat kabupaten kotanya sangat dekat dengan kedua negara tersebut (Batam, Bintan, Tanjung Pinang dan Karimun), namun yang lebih untung selama ini mereka, kenapa Kepri tidak memanfaatkannya juga.

Harusnya kedekatan ini disertai kebijakan khusus terutama di bidang pariwisata. Seperti halnya Bali, jauh dari Australia dan negara lain, tapi perhatian terhadap Bali demikian tinggi. Apapun yang dibutuhkan Bali pemerintah dengan cepat memenuhinya.

Tapi kita pun tak iri dengan Bali, karena Pulau Dewata itu memang lebih dulu berkembang pariwisatanya dengan beberapa kelebihannya, hingga ada yang bilang “ Bali itu sepenggal tanah surga yang diturunkan ke bumi” . Bali sudah terkenal, otomatis tanpa promo wisatawan senang datang ke Bali.

Penulis pernah juga ke Bali walaupun tak sering-sering dan ketemu dengan wisman di pesawat ngobrol pakai bahasa inggris seadanya. Mereka mengaku ada yang sudah tujuh kali ke Bali.. luar biasa.

Ya, kita memang tak perlu iri dengan Bali, dengan segala kelebihan dan perhatian. Bali sudah jadi idola, kiranya Kepri sebagai three greater (tiga besar) pemasuk wisman bersama Provinsi Bali dan Provinsi DKI Jakarta, (harusnya) mendapatkan perhatian sedikit lebih lah dengan segala kelebihannya seperti disebutkan di atas. Kalau Jakarta, memang ibukota negara dan juga wajar diperhatikan.

Jika perhatian itu bisa dipersentase, Bali (40 %), DKI (30 %) dan Kepri ( ya 20, 15, 10 persen ) jadilah dan lumayanlah..hehehe..Sisa 20 persen lagi untuk provinsi lain termasuk Destinasi Super Prioritas (DSP) , seperti Danau Toba (Provinsi Sumatera Utara), Borobudur (Provinsi Jawa Tengah), Mandalika Provinsi NTB), Labuan Bajo ( Provinsi NTB), dan Likupang ( Provinsi Sulawesi Utara). Kita juga tidaklah iri dengan DSP yang masih proses persiapan dan perlu waktu. Dimana baru selesai pembangunan beberapa fasilitas circuit motor GP di Mandalika, juga bandara di Danau Toba, dan lain-lain. Toh, semuanya wilayah NKRI dan kita semua harus bangga.

BACA JUGA:   Buralimar Bersiap Maju Sebagai Calon Wali Kota Batam

Namun, dengan proximity alias comparative advantage alias strategic geography tersebut, Kepri yang sudah tersedia infrastruktur dan suprastruktur pariwisata, dengan kata lain 3A nya seperti aksessibilitas (jalur laut dan udara), amenitas (hotel, resto, mall, jaringan internet, listrik dll) dan atraksi (budaya, alam dan buatan) terpenuhi dengan baik, maka perhatian 10 persen sebagaimana harapan bisa membuat Kepri sebagai “Bali barunya” Indonesia.

Jika tidak harus seperti Bali sebagai “saudara tertua” persis karena pertimbangan karakter wilayah, jadikanlah Kepri “ anak kedua” yang juga nanti bisa membantu” orang tuanya” yang bernama Indonesia.

Kita yang bermastautin alias berdomisi di Kepri, juga harus ikut memikirkan dan membantu mempercepat agar Kepri bisa seperti atau di bawah Bali dan wisman banyak dating seperti tahun 2019, ada 2,8 juta datan gke negeri segantang lada ini.

Paling tidak pola sikap paradigma mindset serta apalah namanya harus sama seragam. Jika wisman datang senyum pun berkembang, anak istri pun senang, karena abang datang bawa uang.

Memang tidak semua bisa dibawa pulang saat studi banding misalnya, karena tidak ada gunanya membandingkan. Yang perlu dilakukan studi tiru, begitu pulang tiru apa yang dibuat orang.

Terakhir saya coba mengutip frasa “veni, vidi, vici,”, yang artinya “saya datang, saya lihat, saya taklukan( menang)”, harusnya bisa ditambah jika mau hehe..saya datang, saya lihat, saya TIRU, dan saya menang.

(batam, Kamis malam, 08 September 2022).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *