Batamclick.com,
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau (KPw BI Kepri) mendorong penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat menjadi sumber baru pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan merata di provinsi itu.
“Kita perlu sumber pertumbuhan yang lebih inklusif dan merata dari sektor UMKM. Ini sejalan dengan karakteristik ekonomi dan keuangan syariah yang menekankan aspek keadilan dan pemerataan,” ujar Kepala KPw BI Kepri Rony Widijarto di Batam, Kepri, Selasa.
Penguatan UMKM diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkeadilan, kata dia, berbeda dengan pola sebelumnya yang cenderung bertumpu pada dominasi industri pengolahan dan pertambangan.
Menurut Rony, penguatan ekonomi syariah tidak hanya berbicara soal transaksi, tetapi juga membangun ekosistem dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi, pembiayaan, hingga sistem pembayaran.
“Di dalamnya termasuk pengelolaan dana sosial syariah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang dapat menjadi pelengkap penguatan UMKM,” katanya.
Ia juga mengatakan pada periode Januari 2026, terdapat perlambatan kredit UMKM secara nasional yang tercatat berkontraksi sebesar 0,52 persen secara tahunan (yoy) dengan nilai Rp1.481,8 triliun.
Namun, pada periode yang sama, lanjutnya, Kepri masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Kredit UMKM di Kepri mencapai Rp16,21 triliun dengan pertumbuhan 10,11 persen (yoy).
“Secara nasional kredit UMKM minus, tetapi di Kepri masih tumbuh sekitar 10 persen. Ini menjadi modal bagi kita untuk terus mendorong penguatan UMKM ke depan,” kata dia.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, BI Kepri bersama Pemerintah Provinsi Kepri dan berbagai pemangku kepentingan kembali menggelar Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) 2026 pada 2-8 Maret 2026.
“KURMA 2026 difokuskan pada penguatan produk halal, khususnya sektor wastra serta makanan dan kuliner yang menjadi pasar besar dalam ekonomi halal,” katanya.
Ia menjelaskan dalam kegiatan tersebut juga dilakukan fasilitasi sertifikasi halal, termasuk Sertifikasi Juru Sembelih Halal (JULEHA) dengan 10 peserta tersertifikasi, serta edukasi literasi ekonomi syariah kepada 100 peserta.
“Kami juga mendorong integrasi sistem pembayaran digital melalui QRIS untuk memperkuat ekosistem transasksi UMKM. Selama acara, kami menargetkan 40 ribu transaksi QRIS dengan nominal mencapai Rp1,8 miliar dengan QRIS,” kata dia.
Dari sisi pembiayaan UMKM, KURMA juga akan menggelar business matching dengan target sebesar Rp2,25 miliar dari ajang tersebut.
Rony menegaskan penguatan UMKM tidak hanya penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan manfaatnya dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus diikuti dengan pemerataan. UMKM menjadi kunci agar ekonomi Kepri tidak hanya kuat, tetapi juga inklusif dan berkeadilan,” kata Rony.
Sumber, Antara








