Pensil: Pensiun Usil
Tepat 24 Desember 2022, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002, memasuki usia ke-20.
Telah banyak capaian-capaian kemajuan provinsi ini, di samping masih ada “pekerjaan rumah” yang harus terus dan selalu digesa, mengingat betapa luas negeri ini dengan lautan 96 persen dan hanya 4 persen lautan, bahkan data terakhir yang belum dipublikasikan wilayah lautnya 98 persen.
Dengan kondisi yang demikian luas, tetapi anggaran provinsi maupun kabupaten kota belum begitu signifikan, tentunya PR-PR tersisa menjadi priortas dan urgent, sedangkan anggaran bantuan dari pusat saat ini juga fluktuatif dan boleh dikatakan alokasinya menurun drastis bagi setiap provinsi, termasuk Kepri.
Betapa luasnya wilayah perairan provinsi yang diperjuangkan dengan penuh heroik dan dramatik, jika kita membaca bagaimana kilas balik sejarah perjuangan pembentukannya. Seluruh komponen masyarakat, para tokoh, pejabat, pengusaha, pemuda, dan komponen lainnya baik yang berada di luar Kepri maupun di luar provinsi berjuang tiada lelah dan Alhamdulillah berhasil.
Provinsi yang mulanya berada Provinsi Riau, kini menjadi provinsi yang meliputi Kota Tanjung Pinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Lingga, Kabupaten Natuna dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Mungkin sudah banyak buku atau tulisan yang dibuat menggambarkan Kepri dalam berbagai sudut pandang, dan buku yang yang nantinya menjadi semacam rujukan sejarah dan baku, baik aspek historis dan filosofisnya.
Dimana sejak dulu masih bagian Provinsi Riau , ibukota pertama adalah Kota Tanjung Pinang sekarang, kemudian tahun 1958-1960 dipindahkan ke Pekanbaru.
Saya pernah mendengar cerita seorang teman, dimana ayahnya bertugas di Tanjung Pinang, dibawa oleh Gubernur Riau saat itu, Kaharuddin Nasution, “jalan-jalan” ke Pekanbaru, dengan mencharter pesawat terbang.
Sesampai di sana sudah disiapkan beberapa rumah dinas dan fasilitas agar tertarik dan mau pindah ke Pekanbaru. Sebuah trik memindahkan pegawai setengah paksa, maklum saat itu Tanjung Pinang sangat sejahtera dengan sebagai negeri dollar, sedangkan Pekanbaru kota baru dan tidak semaju Tanjung Pinang.
Jika ditawari pindah sukarela pasti tidak ada yang mau. Perumahannya itu sekarang yakni perumahan pemda kompleks nyamuk sekitar jalan sumatera Pekanbaru saat ini.
Sangat menarik memang jika disimak sejarah pembentukan provinsi dengan urutan ke 32 ini. Mudahan nanti selain buku sejarah ada film layar lebar yang bercerita tentang Kepri dulu sekarang dan kini.
Sempena hari jadi ke-20, di usia cukup matang provinsi yang dikenal dengan sebutan negeri segantang lada ini, kita wajib syukuri atas jasa yang diberikan pahlawan Kepri dan kita bisa menikmati hasilnya saat ini.
Sedikit meniru tagline yang telah ada seperti ‘ segenggam/sepenggal tanah surga yang jatuh ke bumi”, predikat itu juga layak diperoleh Kepri.
Karena letaknya sangat dekat sekali berbatasan langsung di sebelah barat dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia, hanya berdurasi satu sampai setengah jam saja. Luarbiasa kan?.
Jika ditarik lagi jauh ke wilayah utara , provinsi ini berbatasan dengan negara Kemboja dan Vietnam, di samping berbatasan dengan beberapa provinsi lain seperti Riau, Jambi, Bangka Belitung dan Kalimantan Barat. Sekali lagi luarbiasa bukan?.
Ini baru dari segi border ( perbatasan) saja di samping kelebihan lain seperti memiliki 2408 pulau, dimana baru 30 persennya berpenduduk selebihnya masih kosong, dengan wilayah maritim yang cukup luas di Indonesia yakni 96-98 persen.
Keunggulan komparatif ini jika dikelola dengan baik dan benar, dengan karakter sesuai dengan georafisnya, bukan semata selera sesaat belaka, akan menjadi nilai tambah bagi semua hal, dan menjadi andalan serta kebanggaan Indonesia.
Di samping potensi kemaritiman, juga sektor pariwisata, perhubungan, perikanan, dan olahraga air dan lainnya sangat menjanjikan, harusnya provinsi ini menjadi perhatian sungguh-sungguh.
Keunggulan budaya yang unik seperti teater mendu di Natuna, tarian tradisional mistis gubang di Anambas, joget dangkong di Karimun, orkesta melayu ghazal di Tanjung Pinang, tarian makyong di Bintan dan jogi di Batam, kesenian berdah dan joget tandak “di negeri para sultan” Kabupaten Lingga.
Lingga juga dijuluki “bunda tanah melayu” karena di sana puluhan makam para sultan dan ratusan situs melayu bertebaran. Serta banyak lagi, seperti keunikan kuliner, lendot, kernas, luti gendang, table mando, ada 100 catatan tentang kuliner khas Kepri.
Itu belum lagi ditambah dengan kesenian dan budaya yang dibawa oleh pendatang yang dengan heterogenitas dan kemajemukannya, karena hampir perwakilan semua suku ada dan bermastautin di Kepri dengan dinamikanya.
Tentunya menambah daftar kekayaan khazanah budaya negeri yang kita cintai ini. jika kita niru tagline ” Tuhan menciptakan negeri ini dengan senyum”, yah wajar saja. Hehehe…boleh sedikit plagiat niru-niru demi kebaikan.
Belum lagi bicara potensi destinasinya, Geopark Natuna, Pulau Bawah yang terkenal serta Air Terjun Tujuh Tingkat di Anambas, Mesjid Sultan dengan situs-situs sejarah yang kental di Lingga, Mesjid Penyengat legendaris di Tanjung Pinang dengan makam dua pahlawan melayu yakni Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji serta situs lainnya.
Juga ada Gunung Bintan dimana pahlawan legendaris Hang Tuah berasal, Destinasi Nongsa Digital Park di Batam, dan beberapa destinasi pariwisata budaya dan alam yang tersebar di tujuh kabupaten kota.
Ditambah ada destinasi sport tourism seperti ada 10 lapangan golf internasional, ada 7 bandara di antaranya 2 berstatus internasional.
Banyak yang bisa dan dapat digambarkan tentang Kepri. Dengan sedikit penjelasan narasi di atas, baik pariwisata, budaya termasuk kuliner dan beberapa destinasinya, menjadi Kepri sebagai provinsi masa depan, salah satu pintu gerbang Indonesia yang harus mendapat prioritas ke depannya dari semua pihak terutama pemerintah pusat yang sebagian wewenangnya berada di sana.
Kepri tidak bisa dibandingkan (ojo dibandingke) dengan Bali yang telah duluan maju dengan kelebihannya yang luarbiasa, namun dibandingkan dengan atau destinasi super prioritas dan prioritas lain yang amenitas dan aksesibiltasnya masih perlu digesa, Kepri sedikit unggul.
Kepri secara de facto siap dengan akses lautnya, tinggal memperbanyak frekuensi pelayaran jalur laut internasional, terutama ke Natuna Anambas dan Lingga, di samping Batam, Bintan, Karimun, dan Tanjung Pinang yang telah duluan ada. Syukur-syukur jalur udaranya juga bertambah tentunya dengan harga tiket yang terjangkau oleh wisatawan dan masyarakat.
Ini juga menjadi PR bersama, agar ke Natuna dan Anambas yang eksotik itu mudah dijangkau.
Juga Kepri siap dengan fasiIitas hotel , home stay, resto, mall, jaringan internet dan lainnya, walaupun daerah seperti natuna Anambas dan Lingga masih perlu perhatian, dimana jaringan akses telekomunikasi dengan program palapa ring barat yang sampai saat ini ada masih belum massif.
Kelebihan Kepri, adalah potensi ke depan, kita harus optimis suatu saat Kepri juga terangkai dengan beberapa jembatan yang saat ini dalam proses seperti Jembatan Batam Bintan yang panjangnya sekitar 7 km menghubungkan beberapa Pulau Batam, Pulau Tanjung Sauh, Pulau Buao, dan Pulau Bintan. Betapa kerennya jika suatu saat jembatan ini ada, tentunya akan membawa dampak ekonomi yang luarbiasa bagi masyarakat, kita doakan terealisasi. Juga nanti suatu saat ada jembatan yang menghubungkan Karimun dengan Malaysia dan antara Karimun dengan Batam, Batam dengan Lingga.
Juga suatu saat ada jembatan dari Malaysia ke Dumai Riau. Dapat kita bayangkan betapa nanti pulau-pulau di Kepri terangkai dengan Riau dan Malaysia.
Orang Lingga akan bisa menempuh perjalanan darat ke Batam, terus ke Karimun terus ke Johor ke Malaysia, menuju Melaka, dari Melaka melintas jembatan Melaka Rupat Dumai dalam hitungan hari. Dari Dumai Riau bisa ke provinsi-provinsi di Sumatera bahkan sampai ke Pulau Jawa.
Agak utopis ya? Tak apa-apa lah kita membayangkan dulu , mana tahu rencana-rencana besar dan harapan-harapan itu terwujud.
Lebih baik punya cita-cita setinggi, daripada membayangkan Cita Citata goyangannya bikin kepala sakit.hehehe..
Tidak mudah membangun Kepri dan tidak segampang yang dipikir. Tapi dengan tekad semangat optimisme yang kuat, komitmen yang tinggi, super konsistensi serta jiwa birokrarat sejati plus entrepenuer yang luarbiasa, semua cita-cita dan harapan serta rencana yang matang, semua akan terwujud. Man Jadda wa Jada.
Tentunya kebersamaan yang tinggi, kolaborasi provinsi kabupaten kota yang kuat dalam ikatan persaudaraan., menjadikan Kepri sebagai provinsi yang keren kece beken ke depannya.
“Segantang lada namanya kepulauan riau, ibukotanya di pulau bintan, hatiku resah dan risau, bila teringat wajah rupawan. Segantang lada namanya kepulauan riau, banyak nelayan menangkap ikan, hatiku resah dan risau, bila terkenang wajahmu tuan”.
Perlu tangan dingin kepedulian membangun negeri segantang lada, tidak semata hasrat membara seketika kemudian lupa. Lupa dengan wajah rupawan yang risau di ujung pulau, alpa dengan wajah tuan nelayan yang masih mengharapkan belas kasihan.
Kalau boleh saya tambah baitnya “ segantang lada namanya kepulauan riau, ibukotanya di tanjung pinang, hati siapa yang tak risau, bila kita masih bersitegang”( mungkin bisa diganti berperang, hehe).
Harusnya tidak perlu resah dan risau, jika semua berdendang dengan frekuensi yang sama, paduan energik konduktor yang piawai dan pemain musiknya memainkan alat musiknya dalam kesungguhan keharmonian dan kesyahduan hati.
Tercipta orchestra kehidupan di tanah segantang lada yang dinikmati kita semua. Harus bisa dan pasti bisa.
Happy Anniversary Kepri.
Kepri Tetap di Hati.
(22 September 2022)










