Muo, Asam Pedas Pembuka dan Lebatnya Hutan Bakau

Jelajah Muo Johor membawa kami menikmati asam pedas, oyster segar, suasana kampung pesisir hingga serunya menyusuri hutan bakau Parit Kassim.
Jelajah Muo Johor membawa kami menikmati asam pedas, oyster segar, suasana kampung pesisir hingga serunya menyusuri hutan bakau Parit Kasim.

Menyusuri Wisata Johor (bagian 2)

Jelajah Muo Johor kali ini membawa kami ke tempat-tempat yang mungkin belum banyak masuk dalam daftar perjalanan wisatawan Indonesia. Ada kampung nelayan, asam pedas, oyster segar, hutan bakau, sampai cerita-cerita kecil yang justru membuat perjalanan terasa semakin seru.

Pagi itu, badan sudah kembali segar.

Setelah istirahat nyaman di Johor Bahru, kami pun bersiap melanjutkan perjalanan.

Kali ini, kami mau ke mana?

Muo!

Begitu orang Johor menyebutnya.

Nama lengkapnya Muar. Kota ini juga dikenal sebagai Bandar Maharani Bandar Diraja.

Dari Johor Bahru, kami memilih naik mobil. Jalanan cukup nyaman. Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya kami melihat Gerbang Sultan Ismail.

Nah…

Sampailah kami di Muo!

Kalau kalian backpacker, tidak perlu risau. Muo juga bisa dicapai menggunakan bus maupun kereta api. Tarifnya pun relatif ramah di kantong.

Tapi sebelum menjelajah lebih jauh, ada satu masalah yang harus diselesaikan dulu.

Perut lapar!

Perut Lapar, Asam Pedas Jadi Tujuan

Namanya jalan-jalan, kalau perut kosong memang susah menikmati perjalanan.

Kami pun mulai mencari makanan.

Tentu bukan sembarang makanan.

Kalau sudah sampai Muo, rasanya rugi kalau tidak mencoba makanan khas setempat.

Ada beberapa tempat yang direkomendasikan. Salah satunya Asam Pedas TV3.

Tapi kami kali ini ingin mencari suasana yang lebih lokal.

Kami ingin duduk di kedai kampung.

Ingin makan sambil melihat laut.

Akhirnya pilihan kami jatuh ke Kedai Asam Pedas PakNdak di Kampung Parit Tiram.

Begitu sampai, suasananya langsung bikin nyaman.

Kedainya sederhana.

Di depannya terbentang laut.

Angin pun bertiup pelan.

Sepoi-sepoi bahasa orang Melayu.

Pas pula dengan perut yang sedang lapar.

Belum sempat duduk lama, PakNdak, pemilik kedai, langsung menyambut kami.

Obrolan pun mengalir.

Tidak terasa seperti sedang wawancara. Lebih seperti bertamu ke rumah orang.

Lalu PakNdak mulai bercerita soal oyster.

Nah, ini yang menarik.

Tiram yang dijual di kedai ini berasal dari nelayan kampung setempat. Saat kami datang, tiram-tiram itu masih hidup.

Fresh betul!

PakNdak kemudian menawarkan tiga pilihan.

Mau dimakan fresh?

Boleh.

Mau masak halia?

Ada.

Atau dibuat kerabu?

Pun boleh.

Kami pun mencoba semuanya.

Dan jujur saja…

Semua best punya!

Asam Pedas, Ikan Pari dan Teh Obeng

Belum cukup dengan oyster, kami juga memesan beberapa menu lain.

Ada asam pedas ikan pari.

Ada asam pedas ikan mayong.

Kemudian tumis tauge ikan asin dan telur dadar.

Untuk minuman, kami pesan Teh Obeng.

Kalau di tempat lain mungkin lebih dikenal sebagai teh O ais.

Satu per satu makanan datang.

Kuah asam pedasnya langsung menggoda.

Nasinya hangat.

Ikan parinya terasa nikmat.

Kami pun makan dengan lahap.

Sesekali masih sempat bersembang.

Begitulah kalau makan di kedai kampung.

Tidak perlu buru-buru.

Duduk lama sedikit pun tidak apa-apa.

Setelah perut mulai kenyang, kami malah semakin betah.

Apalagi kemudian kami melihat aktivitas warga di sekitar kedai.

Ada yang sedang memasang umpan rawai.

Ada yang membersihkan peralatan.

Ada pula yang santai bermain dam.

Pernah dengar permainan dam?

Kalau belum, bayangkan saja catur versi kampung.

Bedanya, bidaknya tidak punya karakter seperti raja, ratu, benteng atau kuda.

Semua bergerak menyerong.

Kalau sudah sampai ke garis terakhir pertahanan lawan, bidaknya bisa bergerak lebih bebas.

Warga menyebutnya sebagai raja cacing.

Menarik juga.

Dan dari permainan sederhana itu, kami kembali melihat satu hal.

Perjalanan bukan cuma soal tempat.

Kadang justru orang-orang yang kita temui di perjalanan yang membuat sebuah tempat terasa istimewa.

Sekarang, Waktunya Masuk Hutan Bakau

Perut sudah kenyang.

Badan pun kembali bersemangat.

Kami lanjut jalan.

Tujuan berikutnya?

Laman Bakau Parit Kasim.

Begitu sampai, suasananya langsung berubah.

Dari kampung pesisir, kami masuk ke kawasan hijau yang luas.

Hutan bakau membentang di depan mata.

Pohon-pohon tumbuh rapat.

Udara terasa segar.

Dan yang paling menyenangkan, kawasan ini terawat dengan baik.

Kami kemudian bertemu Muhammad Rizan, Ranger Community yang menemani perjalanan kami.

“Jom, kita jalan,” kira-kira begitu rasanya.

Kami pun mengikuti Rizan masuk lebih jauh.

Ada pelantar sepanjang sekitar 1,8 kilometer yang membelah kawasan hutan bakau.

Tinggal berjalan.

Tidak perlu takut kaki berlumpur.

Tidak perlu menerobos semak.

Cukup nikmati pemandangan.

Dan percayalah…

jalan kaki di tengah hutan bakau seperti ini benar-benar bikin lupa waktu.

Makin Jalan, Makin Banyak Cerita

Rizan tidak membiarkan kami hanya berjalan dan mengambil foto.

Sepanjang perjalanan, ia menjelaskan banyak hal tentang hutan bakau.

Kami baru tahu kalau bakau ternyata punya banyak jenis.

Bentuk akarnya berbeda.

Batangnya berbeda.

Daunnya juga berbeda.

Bahkan fungsinya dalam ekosistem pun berbeda.

Semakin jauh berjalan, semakin banyak pula penghuni hutan yang kami temui.

Ada ikan tembakul.

Ikan yang satu ini tentu mengingatkan kita pada kisah rakyat Batu Belah Batu Bertangkup.

Kemudian ada kepiting.

Keluar dari lubang.

Masuk lagi.

Keluar lagi.

Seolah tidak peduli kami sedang memperhatikannya.

Lalu…

Ada monyet!

Sesekali kami melihatnya dari kejauhan.

Kadang hanya kepalanya yang muncul dari balik dahan.

Begitu kami mendekat…

Hilang!

Malu-malu rupanya.

Kami pun tertawa.

Perjalanan seperti ini memang berbeda.

Tidak ada suara kendaraan yang ramai.

Tidak ada gedung tinggi.

Yang terdengar hanya suara alam dan langkah kaki.

Udara pun terasa ringan.

Sejuk.

Segar.

Rasanya seperti paru-paru sedang diberi kesempatan untuk bernapas lebih lega.

Keluar Hutan, Langsung Cari Minuman

Tidak terasa, sekitar 1,8 kilometer pun kami lewati.

Akhirnya kami keluar dari kawasan hutan.

Dan seperti tahu kami sedang haus, sudah ada minuman menunggu.

Jus Kedondong Somoi!

Waduh…

Ini memang cocok sekali diminum setelah jalan kaki di tengah hutan.

Rasanya segar.

Asamnya terasa.

Ada sensasi somoi yang membuat minuman ini semakin nikmat.

Dikemas dalam botol.

Disimpan dingin.

Tinggal ambil.

Buka.

Teguk.

Fuhhh…

Segar!

Kami pun kembali santai sejenak.

Tentu saja, kamera kembali dikeluarkan.

Foto.

Video.

Ambil gambar lagi.

Masuk story Instagram.

Upload Facebook.

Tiktok.

YouTube.

WhatsApp.

Maklumlah…

Kalau sedang travel, setiap momen memang rasanya sayang kalau dilewatkan.

Tapi Perjalanan Belum Selesai…

Hari itu belum berakhir.

Masih ada satu tempat lagi yang sudah menunggu.

Kami kembali masuk mobil.

Tujuan berikutnya?

Sarang Buaya.

Nah…

Kalau mendengar namanya saja sudah membuat penasaran.

Seperti apa tempatnya?

Benarkah ada buaya?

Dan apa yang kami temukan ketika sampai di sana?

Cerita berikutnya mungkin akan sedikit lebih mendebarkan.

Jadi…

Jangan ke mana-mana.

Perjalanan kami di Muo masih panjang.

Bersambung…

Part 1

Dari Batam Menyeberang ke Puteri Harbour: Menikmati Liburan Santai di Iskandar Puteri