Batamclick.com, BATAM — Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) mencatatkan kinerja impresif sepanjang semester I 2026. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri mencatat pertumbuhan ekonomi daerah secara kumulatif mencapai 7,02 persen, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,05 persen.
Kepala BI Perwakilan Kepri, Rony Widijarto P, menyampaikan indikator makroekonomi tersebut dalam agenda Bincang Bareng Media yang berlangsung di Kantor BI Perwakilan Kepri, Batam, Selasa (15/9/2026).
Rony memaparkan bahwa pada triwulan II 2026, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 6,99 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini menunjukkan sedikit penyesuaian dari triwulan I 2026 yang sempat menyentuh 7,04 persen. Meski demikian, secara kumulatif laju pertumbuhan tetap kokoh di angka 7,02 persen.

“Secara akumulatif di semester I ekonomi Kepri tumbuh 7,02 persen, melampaui laju nasional yang sebesar 5,05 persen,” ujar Rony.
Lonjakan aktivitas investasi menjadi mesin utama penyokong tingginya pertumbuhan ekonomi di Kepri. Pada triwulan II 2026, kinerja realisasi investasi melesat hingga 24 persen.
Melesatnya arus modal masuk tersebut mendongkrak kontribusi komponen investasi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan, yakni dari 3,02 persen pada triwulan I menjadi 10,02 persen pada triwulan II.
“Realisasi investasi tumbuh 24 persen, angka yang luar biasa tinggi,” tuturnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar investasi yang masuk saat ini masih dalam tahap pembangunan fisik (konstruksi). Oleh karena itu, dampak penuhnya terhadap pembentukan nilai tambah ekonomi daerah diproyeksikan baru akan terasa optimal ketika proyek-proyek tersebut beroperasi secara komersial.
Terkait kenaikan volume impor pada triwulan II 2026, BI menilai kondisi tersebut sebagai indikator ekspansi usaha yang positif.
Secara teknis penimbangan produk domestik regional bruto (PDRB), komponen impor memang mengurangi nilai bersih pertumbuhan. Namun, kenaikan impor di Kepri didominasi oleh barang modal, mesin, barang teknik, dan bahan baku industri, bukan barang konsumsi.
“Impor yang terjadi bukan untuk konsumsi, melainkan kebutuhan investasi dan pengadaan bahan baku pabrikasi,” tegas Rony.
Pengadaan infrastruktur modal ini dinilai menjadi pijakan kuat untuk mendongkrak kapasitas produksi serta nilai tambah industri pengolahan Kepri pada periode-periode mendatang.
Selain sektor manufaktur, Kepri mulai menerima aliran investasi baru dari industri pusat data (data center). Berdasarkan standar pencatatan Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini tergolong dalam kelompok Informasi dan Komunikasi.
Mengingat sebagian besar fasilitas data center masih dalam tahap konstruksi, kontribusinya terhadap output PDRB diperkirakan akan terakselerasi saat masa operasional dimulai.
Rony pun memaparkan simulasi akademis guna menggambarkan besarnya dampak investasi tersebut.
Apabila seluruh proyek yang dibangun saat ini beroperasi penuh dan menghasilkan nilai tambah optimal, potensi dorongan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi diperkirakan dapat mencapai sekitar 3 persen.
Secara kalkulasi ilustratif, potensi ini dapat membawa pertumbuhan ekonomi Kepri mendekati level 10 persen. Namun, ia menekankan bahwa angka tersebut merupakan simulasi teknis untuk mengukur skala dampak investasi, bukan target maupun proyeksi resmi BI.
“Simulasi ini kami hadirkan untuk menggambarkan betapa besarnya potensi dari arus investasi yang masuk di triwulan II,” pungkas Rony.










