Pensil : Pensiun Usil
Kemarin malam, sempat juga memonitor pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Curacao, yang berakhir dengan kemenangan Indonesia dengan angka 3-2 cukup di hp saja. Mau melihat siaran langsung harus buka channel tertentu, susah dan lagipula bayar dengan beberapa prosedur.
Kalau dulu enak ya setiap ada pertandingan bola mudah mengaksesnya, tapi saat ini semua berbayar. Yah… begitulah, tak ada yang gratis.
Kemenangan Indonesia adalah hasil yang membanggakan. Curacao (bacanya ada yang mengeja kurakau atau kurasau, asal jangan kurap kau, atau kurasa risau, tak masalah lah, gitu aja repot), adalah sebuah pulau di Laut Karibia sebelah selatan, dekat pesisir Venezuela, salah satu negara konstituen Kerajaan Belanda itu, berada di ranking 84 FIFA, sedangkan Indonesia jauh berada di ranking ke-155.
Punya pemain yang handal lagi Juninho yang bermain di Liga Ingrris, tepatnya di Birmingham City, dan Cuco Martina yang bermain di EvertoN FC.
Itulah enaknya dan uniknya olahraga, tak terkecuali sepakbola. Menang dan kalah itu hal biasa, tak melihat ranking berapa, yang penting turun ke lapangan main, ikuti instruksi pelatih mindsetnya harus menang.
Tapi adakalanya kita tidak siap kalah, maunya menang terus, draw pun kadang tak terima. Tapi itu dipastikan bukan di olahraga ya, mungkin di bidang lain.
Sepakbola Indonesia yang pernah jaya, namun beberapa tahun terakhir mengalami kemerosotan. Berganti pengurus dan rasanya diisi orang-orang hebat semua, tapi prestasi tetap terpuruk bahkan di segmen Asia Tenggara sekalipun.
Kalau diceritakan semua, sedih juga ya. Banyak orang gelisah mungkin peduli, mengapa dengan 275 juta penduduk Indonesia, kesulitan mencari sebelas pemain saja pemain terbaik sekelas pemain luar negeri yang merumput di berbagai klub di Eropa dan mengharumkan nama bangsa?
Memang China dan India juga punya penduduk yang lebih banyak, juga prestasi sepakbolanya belum seberapa, tetapi di kedua negara tersebut, sepakbola bukanlah olahraga popular seperti saat ini.
Sepakbola menjadi penting diabad ke-21 ini, beda dengan abad ke-20 yang mana sepakbola hanyalah alat untuk unjuk sportivitas dan keperkasaan. Tapi abad ini telah menjadi seni manajemen dan peradaban global yang dilengkapi dengan budaya komersil yang kental.
Untuk mengantarkan sepakbola ke Piala Dunia misalnya, perlu memiliki organisasi sepakbola kelas dunia. Selain memiliki sumber pemain lintas batas yang terbaik, dibutuhkan manajerial dan system kelas dunia.
Mana mungkin menghasilkan pemain berkelas, kalau organisasinya masih kampungan (maaf) dan pengurusnya puas dengan apa adanya.
Bahkan tugas utama suatu organisasi bola seharusnya berupa kompetisi, tak berjalan dan terlaksana, bagaimana mendapatkan pemain yang handal.
Belum lagi pengurus baik pimpinan, manager dan jabatan lainnya kurang mengerti bola, kalau mengerti karena pernah main bola dulu di kampung.
Tapi memang sulit mencari pengurus bola yang ngerti bola, faham filosofi dan turun ke lapangan selalu, dan dekat dengan pemain, bukan sekedar atur-atur dari jauh.
Memang sih tugas ketua bola, ngatur-ngatur alias manajer, tapi ketua juga harus seorang leader. Kita tidak meremehkan orang yang hanya bisa mengatur alias manajer, kita membutuhkan mereka pada saat ini , terutama di era serba cepat dengan paradigm yang jauh berubah.
Tapi kita tidak juga ingin bahwa seseorang dapat menjadi seorang manager yang hebat tapi leader yang buruk.
Tentu saja bisa sebaliknya, seseorang bisa menjadi manager yang buruk tapi sekaligus menjadi leader yang hebat. Maunya kita seseorang sekaligus menjadi manajer dan leader yang hebat. Tapi itu sangat langka dan susah karena kondisi saat ini karena beberapa faktor penyebab.
Tak mudah menjadi leader termasuk di sepakbola, salah satu cabang olahraga popular di tanah air. Sepakbola Indonesia dua tahun terakhir ini banyak peningkatan di bawah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesi (PSSI), yang dinakhodai oleh Bapak Mochammad Iriawan yang dipanggil Iwan Bule. Beliau jenderal polisi bintang tiga dengan pengalaman berbagai jabatan di kepolisian.
Dan tak heran kemaren ada stiker di beberapa angkot mendukung beliau mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat yang akan datang.
Tapi luarbiasa jawaban beliau, beliau mengatakan bahwa tak ada niat, dan cukup puas dengan kondisi pribadi kehidupan saat ini, karena sudah punya pengalaman di berbagai jabatan, termasuk jadi Kapolda Jawa Barat dan Pj Gubernur Jawa Barat, dan apa yang mau dicari lagi.
Fokus mengurus bola agar suatu saat menjadi kebanggaan bangsa. Itu menjadi catatan sendiri dan contoh yang baik, masyarakat yang minta, karena beliau berprestasi dan juga dinilai sangat egaliter dan mampu, jadi dicalonkan orang lain, bukan mencalonkan diri sendiri.
Ambisi boleh-boleh dan sah-sah saja, tapi diiringi prestasi, dan prestasi yang menilainya orang lain. Kan begitu? Rasanya begitulah.
Peran pelatih Shin Tae Yong (STY) dipilih menangani sepakbola Indonesia, juga sangat menentukan , tentunya pemilihan pelatih atas persetujuan Ketum PSSI.
Pelatih STY diberi kepercayaan penuh memilih pemain tanpa intervensi pengurus. Era dulu zaman baheula, dalam suatu tim bola di negeri kita, ada pelatih ada manager tim, yang banyak berperan manager tim, intervensi manager sangat kental terutama dalam penentuan pemain.
Pelatih sekelas dunia pun didatangkan seperti Luis Milla, Alfred Riedl, dan lain-lain, hasilnya kita ketahui sama-sama, ada memang prestasi tapi juga ribut becekau di internal. Lagipula STY yang Asia cocok dengan alam Indonesia, nyambung passion dan auranya.
Tapi yang lebih penting, STY memilih pemain tidak main-main. Walaupun tidak diasesmen seperti memilih Kepala Organisasi Perangkat Daerah, yang sudah jelas calonnya sebelum asesmen.
Kompetensi jadi faktor utama dalam pemilihan pemain oleh STY. Tidak hanya skill, tapi sikap (attitude )pemain jadi pertimbangan mutlak.
Dan tidak heran ada lima pemain top nasional selama ini tidak dipanggil dan dikeluarkan oleh STY karena sering bolos, diam-diam ke tempat hiburan, dan kesalahan lain.
Satu lagi pernyataan STY, pemain diminta rela ikhlas mengorbankan waktu dan tenaga demi cinta terhadap negara, padahal STY bukanlah warga negara Indonesia.
Inilah kunci-kunci sukses PSSI dengan Ketum dan Pelatih yang bertangan dingin, sehingga sepakbola Indonesia bisa meraih runner up AFF 2020, medali perunggu di Sea Games 2021, lolos ke Piala Asia 2023, setelah tidak mentas lebih 16 tahun sejak 2007, dan prestasi lainnya.
Leadership (kepemimpinan) dimana saja termasuk di sepakbola adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, tidak hanya di tingkat nasional tapi juga di pusat, karena akan menentukan arah yang hendak dituju. Leader alias pemimpin “adalah seorang yang akan Anda ikuti ke suatu tempat yang tidak akan anda kunjungi sendirian”, kata Joel Arthur Barker dalam bukunya Paradigma Upaya Menemukan Masa Depan.
Syukur-syukur seorang leader juga seorang manager pada diri seseorang. dengan kesibukan tak mungkin seorang Ketum PSSI mengurus hal-hal teknis soal pemain, tentunya diserahkan kepada pelatih juga sekaligus jadi manager tim, seperti klub-klub Eropah, contohnya begitu.
Pemimpin yang sibuk tentunya pemimpin yang bisa membagi waktu, bukan sibuk sendiri, termasuk mendistribusikan dan bahkan lebih jauh mengkaderkan pekerjaan kepada bawahan.
Sehingga para staf bawahan atau manager di bawahnya merasa dihargai dan kreatif ( creation, creative) dan tidak semata dengan perintah ( direction, directive) belaka.
Leader mengurus soal bola secara keseluruhan, urusan pemain serahkan ke manager. Tapi jangan jealous jika suatu saat seorang manager lebih hebat dari seorang leader, atasannya, dimana kemaren dia membimbing dan membuat nama bawahannya melambung, sekarang dia sendiri yang naik asam lambung melihat bawahannya, kata kawan saya.
Terbukti STY lebih top namanya dibandingkan Ketum PSSI, namun bagaimanapun yang harum tetap nama Ketum dan Ketum legowo. Salut dan apresiasi.
Leader yang bertangan dingin melahirkan kader yang handal teruji, leader yang berwajah dingin biasanya cuek alias lantak engkau soranglah, sedangkan leader yang berdarah dingin, senantiasa “membunuh” karakter dan karier bawahannya, karena tak mau ada dua mentari bersinar pada saat yang sama, katanya begitu.
Apalagi yang akan diserahkan itu sesuatu dingin-dingin empuk serta sedap pulak, makanya susah nak dibagi. Kata Chairil Anwar dalam judul puisi Penerimaan, “ sedang dengan cermin aku enggan berbagi “. Cammana pulak dengan yang lain.
Seperti juga permainan bola, tanpa dibagi sesama kawan, bawa sendiri, akibatnya bola direbut lawan, kempunan wak.
(25 Sept 2022)










