Menyusuri Wisata Muar Johor (bagian 5)
Panas macam ni, nak minum ape?
Panas betul petang itu.
Setelah puas merayau di Muar dan sebelumnya menikmati Muo Fried Kupang, badan mulai terasa lengket. Baju sudah tidak lagi serapi ketika berangkat pagi tadi.
Kami pun kembali naik Hyundai Starex.
Baru beberapa menit jalan, kawan yang duduk di depan tiba-tiba bersuara.
“Panas-panas gini, minum ape yang enak, way?”
Belum sempat yang lain menjawab, dari bangku belakang langsung terdengar suara.
“Cendolllll!”
Satu mobil ketawa.
“Cendol? Boleh juga tu,” kata saya.
Kawan yang menjadi pemandu kemudian menyambung.
“Kita pergi Cendol D’Raja.”
“Best ke?”
“Best punya. Nombor one in Muo!”
Nah, kalau sudah begitu, susah juga nak membantah.
Kereta pun terus meluncur.
Sampai di Cendol D’Raja

Tak lama kemudian kami sampai.
Dari luar saja sudah nampak tempat ini cukup sibuk. Orang datang silih berganti. Ada yang duduk menikmati minuman, ada yang baru mengambil pesanan, dan ada pula yang masih berdiri mencari tempat.
Begitu masuk, mata kami langsung tertuju pada deretan pilihan cendol.
Ada cendol biasa.
Ada cendol tapai.
Ada jagung.
Ada kacang.
Ada pulut.
Ada durian.
Dan yang langsung membuat kami berhenti sekejap…
Musang King.
“Yang ni ambik satu!”
“Musang King?”
“Haah. Sekali jalan, jangan tanggung-tanggung.”
Akhirnya kami pesan.
Sambil menunggu, suasana di tempat itu terasa makin hidup. Orang bercakap, meja sebelah ketawa, pelayan lalu membawa pesanan. Bunyi gelas dan sendok bersahut-sahutan.
Dan di tengah suasana itu, kami berempat sibuk dengan pilihan masing-masing.
Memang begitulah kalau berjalan ramai-ramai.
Selera tak pernah benar-benar sama.
Cendol Musang King, memang lain cerita

Tidak lama kemudian, cendol datang.
Dari atas saja sudah nampak durian Musang King bertengger di atasnya.
Saya pun ambil sudu.
Suapan pertama…
Manisnya masuk dulu.
Kemudian rasa durian menyusul.
Lembut. Pekat. Harum.
Cendolnya dingin, sementara kuah santannya membuat rasa manis itu jadi lebih seimbang.
Cuaca yang tadi terasa menyengat pun macam lupa sekejap.
“Ha… sedap kan?”
Saya cuma mengangguk.
Sebab kalau sedang makan benda sedap, kadang-kadang tak perlu banyak komen.
Habiskan dulu.
Baru cerita.
Tapi rupanya belum cukup makan

Masalahnya, kami ini baru saja makan kupang.
Namun melihat menu yang lain, selera tiba-tiba muncul lagi.
“Rojak nak?”
“Boleh.”
Akhirnya rojak pun datang.
Belum selesai rojak, mata kami pula tertuju pada satu menu lain.
Mi Bandung Special.
“Yang tu nampak menarik.”
“Order lah!”
Datanglah semangkuk Mi Bandung Special.
Dan ini bukan mangkuk kecil yang sekadar menjadi teman cendol.
Kuahnya panas dan beraroma.
Udangnya pula bukan udang kecil-kecil.
Ada tiga ekor udang jumbo yang duduk manis di atas mi. Ditambah tofu dan bahan-bahan lain yang membuat semangkuk mi itu kelihatan cukup serius untuk ukuran “sekadar nak makan sikit”.
Kami saling pandang.
Tadi katanya cuma nak minum cendol.
Sekarang sudah ada rojak.
Ada mi.
Ada udang jumbo.
“Ini siapa yang kata cuma nak minum?”
Tak ada yang menjawab.
Semua sibuk menyuap.
Perut kenyang, perjalanan belum habis

Setelah semuanya habis, barulah kami sedar satu perkara.
Perut sudah penuh.
Betul-betul penuh.
Kami kembali masuk ke Starex. Kali ini suasananya jauh lebih senyap.
Bukan kerana kehabisan cerita.
Tapi kerana masing-masing mulai mengatur posisi paling nyaman.
Perjalanan kami di Muar memang belum selesai. Masih ada cerita lain yang menunggu.
Namun untuk malam nanti, kami sudah mulai memikirkan satu perkara lain.
Tempat tidur.
Sebab kami berempat punya satu “keunikan” yang tidak boleh disatukan begitu saja.
Ada yang tidur diam.
Ada yang kalau sudah lena, mula keluar bunyi.
Ada yang bunyinya halus.
Ada pula yang… macam enjin Starex.
Kami ketawa lagi.
“Jadi malam ni siapa tidur paling jauh?”
Nah, itu baru masalah sebenar.
Perjalanan boleh dirancang.
Tempat makan boleh dipilih.
Tapi kalau sudah bab “musik tidur”, itu lain cerita.
Yang jelas, petang itu kami menutup perjalanan dengan perut kenyang dan kepala yang masih penuh dengan cerita.
Dari jalan-jalan Muar, makan kupang, sampai akhirnya duduk santai menikmati Cendol D’Raja.
Dan begitulah seronoknya merayau.
Kadang-kadang kita tidak tahu pun apa yang akan berlaku selepas satu persimpangan.
Yang penting, jalan saja dulu.
Jom.
Ikut kami merayau lagi. (Bersambung)
Muo Fried Kupang: Sekali Cocol Sambal Kecap, Sepiring Langsung Ludes!










