PANGGUNG (SANDIWARA) SOSIAL MEDIA (KOLOM BURALIMAR)

Pensil: Pensiun Usil

Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan, dimana interaksi antara kerja penulis lakon, sutradara, dan aktor ditampilkan di depan penonton.

Di atas panggung inilah semua lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang disampaikan.

Panggung sejatinya bangunan fisik , namun saat ini sinonimnya sangat luas. Disebut juga pentas, gedung pertunjukan, arena, kancah, lapangan, dan sebagainya.

Makna panggung meluas, tidak lagi konvensional berbentuk fisik dengan wujud nyata, tapi zaman menghendaki panggung bergeser di dunia tak nyata, dunia maya, dunia fana, tapi tetap bisa dinikmati dan dirasakan.

Panggung sarana efektif untuk berekspresi, beraktualisasi, berintegrasi terlepas sesuai kenyataan atau tidak, terutama di panggung maya, seperti media sosial (social media). Orang dengan mudahnya mengakses, membagi konten, tulisan, foto video dalam platform digital tersebut. Lebih efisien, lebih efektif dalam waktu singkat apa yang dimaui dikehendaki terjadi.

Kemajuan teknologi merubah dunia dari segala sisi. Orang-orang dan perusahaan-perusahaan konvensional drastis merubah strategi berkomunikasi dan berinteraksi maupun strategi marketingnya.

Pemain-pemain konvensional ataupun tradisional dan sedikit kuno terganggu dengan perubahan itu ( disruptive technology). Disruption merubah pola pikir manual menjadi digital dengan memanfaatkan internet tentunya.

Dan akses untuk itu dinikmati kita semua melalui sarana yang mudah contohnya berupa handphone. Dengan handphone, semua sendi kehidupan berubah dengan cepat, termasuk kehidupan sosial.

Biasanya kita bertemu dengan teman ngobrol ngalor ngidul, perbualan dengan senda gurau menjadi hambar dan tidak lagi seperti dulu. Ini salah satu ekses atau dampak yang dirasakan. Betapa kadang kita melihat, dalam pertemuan informal maupun formal satu kelompok, ada yang ngangguk-angguk pura-pura nyimak percakapan, padahal dia asik dengan hpnya, mengabaikan teman dan lingkungan sekitarnya , istilah keren saat ini phubbing, katanya mau ngobrol tapi masing-masing lihat HP.

Kita tidak anti digitalism, tidak anti teknologi digital karena era teknologi banyak membantu terutama dalam kehidupan. namun dampak sosial tetap besar, seperti digambarkan di atas.

Media sosial dibutuhkan, menjadi panggung baru untuk pegiat seni, politik, budaya, penulis dan lain-lain dalam beraktivitas.

Panggung medsos bisa merubah orang yang tak dikenal menjadi terkenal, yang tidak logis terlihat logis, yang jelek bisa jadi bagus, pokoknya merubah apa saja sesuai selera.

Pangung medsos juga dilengkapi dengan aktor , sutradara, skenario, alur cerita, kemana tujuan cerita akan dibawa.

Kita lihat, betapa mudahnya mendengar, menonton, membaca sekaligus mengomentari suatu postingan dan sekaligus bisa membawa pembaca ke arah yang dimaui pemilik konten.

Artis dengan postingan kemewahannya, tapi bukan hanya artis yang pamer kemewahan , yang ngaku artis juga begitu. Padahal nyatanya jangan mewah, makanpun susah.

Destinasi yang sebetulnya belum layak diposting jadi objek wisata, jadi terkenal dan begitu orang datang ternyata kecewa alias php. Suatu event yang hanya dihadiri sepuluh dua puluh orang, beritanya besar, ditulis dihadiri ribuan orang, orang tahu tapi malas nak cakap.

Kata Rod Steward I don’t want to talk about. Begitu juga artis politisi atau politisi artis (bedanya apa ya, asal sebut aja), dengan mudahnya memposting kegiatan charity, nyumbangnya cuman 10-20 paket sembako beritanya bisa jadi 2000 paket. Dan banyak lagi contoh aktual, dampak dari digitalisasi itu baik di media whatsapp, facebook, twitter, youtube, dan lainnya.

Kita yang menyaksikannya terkagum-kagum sambil pegang-pegang jenggot yang tak tumbuh-tumbuh ( karena dicukup terus bagaimana mau tumbuh).

Kesantunan dalam bermedsos diperlukan tapi kejujuran lebih utama, karena dalam agama disebutkan amat besar kebencian Allah , jika mengatakan, termasuk memposting, menginformasikan apa yang tidak dilakukan. Itu belum termasuk perang statement, lomba posting siapa yang paling baik, paling benar, paling hebat, paling berjasa berbuat di tengah masyarakat dan beritanya besar dan, dibesar-besarkan sesuai dengan wani pironya.ups..

Nak ngasi contoh takut salah dan kena skak, kena hantam kita. Yang paling parah dan garang bahkan para pembisik atau timses (yang tetap sukses walaupun calonnya kalah), alias pemain figuran, padahal aktornya biasa dan tenang saja.

Kadang aktor sama aktor nya seolah berantam, tapi di belakang ngopi dengan tawa ria sambil dengar musik semacam lagu sikok jadi duo yang ngehits. Jadi tau sama tahu ajalah. Hehehe.

Panggung tak salah, yang keliru yang kadang pembuat skenarionya, mungkin sutradaranya yang sedikit keliru atau pemain figuran yang lebay.

Panggung tetaplah panggung tempat dimana orang bisa berekpresi harusnya dengan baik tentang fakta, tentang nilai kepahlawanan, nilai sejarah dan tontonan menarik yang bisa dinikmati.

Yang jadi nantinya sampai di rumah bisa diceritakan kepada anak yang kebetulan tidak nonton, dengan hikmah nilai positifnya.

Jangan jadikan panggung itu terutama panggung medsos jadi tempat sandiwara semata. Jadikan ia sebagai tempat fakta nyata apa adanya dan tak rugi rasanya berbuat itu, indah dimata manusia dan tidak membuat marah Sang Pencipta.

Panggung bisa bergoyang dengan dangdut koplo, ataupun bergetar dengan lagu rock, tapi kadang perlu juga dengan sentuhan pop, sedikit jazz yang lembut, atau balada yang menyejukkan hati.

Lagu itu, Ibarat berkendaraan, adakalanya ngegas ada saatnya ngerem. Biasa-biasa sajalah, kadang mau ngebut ngegas kalau jalannya macet juga tidak bisa, atau terlalu ngegas pas di tikungan atau penurunan tidak sempat ngerem. Out.

Bagaimanapun orang yang hati-hati dan sering ngerem, lebih disukai dari yang ngegas ngebut. Kalau banyak ngerem paling tidak canvas rem laris juga di pasar, yang jualan canvas senang.
Santun dijalan yang ramai itu, ya sama seperti berada di tengah masyarakat, karena kesantunan menggambarkan kesolehan sosial.

Kecerdasan emosional nya terjaga walau kecerdasan intelektualnya tidak seberapa. Kecerdasan juga berarti kemampuan memilih dan memilah serta penyesuaian yang dikehendaki zaman, agar tetap berada di garis kehidupan yang semestinya dengan benar.

“Kecerdasan adalah kemampuan beradaptasi dengan perubahan,“ kata Stephen Hawking. Siapa Stephen Hawking silakan search di google aja ya.

Nanti pembahasan tak selesai, baiknya kita berdendang saja sebuah lagu yang legend dari grup band terkenal God Bless yang liriknya ditulis pujangga terkenal Taufik Ismail.

“Dunia ini penuh peranan, dunia ini bagaikan jembatan kehidupan, mengapa kita bersandiwara? Mengapa kita bersandiwara?”.