BP Batam Garap Agribisnis Demi Masa Depan Hijau dan PNBP Berkelanjutan

BP Batam garap agribisnis di lahan seluas 112,7 hektare demi meningkatkan PNBP hingga Rp6,4 miliar per tahun. Zona pertanian terpadu dikelola modern dan ramah lingkungan
BP Batam garap agribisnis di lahan seluas 112,7 hektare demi meningkatkan PNBP hingga Rp6,4 miliar per tahun. Zona pertanian terpadu dikelola modern dan ramah lingkungan

Upaya Nyata Meningkatkan Pendapatan Negara Lewat Optimalisasi Lahan Pertanian Modern

BP Batam garap agribisnis sebagai langkah konkret meningkatkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan menciptakan keberlanjutan lingkungan. Komitmen ini terlihat jelas saat Badan Usaha SPAM Fasilitas dan Lingkungan BP Batam menggelar Konsinyering Penataan dan Pengembangan Agribisnis pada Jumat, 11 Juli 2025.

Kegiatan tersebut menjadi bukti nyata keseriusan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala Li Claudia Chandra dalam mengelola potensi aset secara produktif. Mereka percaya bahwa optimalisasi unit usaha bukan hanya mendongkrak pemasukan negara, tetapi juga membuka jalan menuju pertanian yang modern, hijau, dan berdaya saing.

“Terima kasih kepada seluruh tim yang telah menyiapkan kegiatan ini. Saya berharap konsinyering ini menghasilkan rumusan kebijakan yang aplikatif dan berdampak nyata ke depan,” ujar Ariastuty Sirait, Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam.

Tiga Zona, Satu Tujuan: Efisiensi dan Peningkatan PNBP

BP Batam membagi wilayah agribisnis seluas 112,7 hektare ke dalam tiga zona dengan strategi pengelolaan berbeda.

  • Zona 1 saat ini berisi 26 penyewa lahan yang mayoritas petani tanaman hias. BP Batam akan melakukan pendataan ulang dan menyosialisasikan kewajiban pembayaran sewa sesuai regulasi yang berlaku.
  • Zona 2 mencakup berbagai aktivitas seperti peternakan, pertanian, rumah dinas, serta gedung instansi pemerintah. Di zona ini, BP Batam akan meninjau ulang perjanjian yang ada dan mendorong tertib administrasi.
  • Zona 3, yang sebelumnya akan menjadi lokasi pembangunan Masjid Mohammed bin Salman, kini akan menjadi kawasan pertanian dan peternakan terpadu. Rencana ini mampu menghasilkan PNBP hingga Rp6,4 miliar per tahun.

Data, Evaluasi, dan Kepastian

Menurut Iyus Rusmana, Direktur Badan Usaha SPAM Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, keberhasilan program agribisnis tak lepas dari proses pendataan, evaluasi kontrak, hingga penertiban. Ia menegaskan pentingnya monitoring berkala agar lahan negara benar-benar memberikan manfaat optimal bagi masyarakat dan negara.

“Langkah-langkah teknis seperti pendataan ulang, evaluasi perjanjian, hingga penertiban aset menjadi kunci utama dalam mengelola agribisnis ini secara profesional,” tegas Iyus.

Kolaborasi dengan Ahli untuk Masa Depan Pertanian Batam

Hadir dalam konsinyering ini pakar di bidang pertanian seperti Wishnu Dewahjana, Konsultan Manajemen Pertanian. Hadir juga Mardanis, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam. Kehadiran mereka memperkaya perspektif BP Batam dalam merumuskan arah pembangunan agribisnis. Tentu tak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan.