BATAMCLICK.COM: TANJUNGPINANG – Bedah Buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Laman karya wartawan senior Ridarman Bay mengangkat satu persoalan yang semakin relevan di tengah kemajuan teknologi, yakni bagaimana manusia tetap menjaga moral dan kemanusiaan saat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang semakin cepat.
Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) menggelar bedah buku tersebut di Kantor KJK, Jalan Tanjung Uban Lama, Kompleks Ruko Central Kencana, Batu 11, Tanjungpinang, Sabtu (12/9/2026).
Ridarman Bay hadir sebagai penulis. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kepri Darson menjadi pembedah pertama. Sementara Ketua KJK Ady Indra Pawennari menjadi pembedah kedua. Ahmad Yani dan rekan memandu jalannya diskusi sebagai moderator.
Buku setebal 174 halaman itu tidak hanya membahas pengalaman dan pemikiran penulis. Diskusi juga berkembang ke persoalan moral, kemanusiaan, literasi, perkembangan teknologi, hingga tantangan generasi muda.
Darson: Nurani Menentukan Sikap Manusia
Darson memberikan apresiasi terhadap karya Ridarman Bay. Menurutnya, pengalaman panjang Ridarman sebagai wartawan ikut membentuk sudut pandang yang muncul dalam buku tersebut.
Seorang wartawan, kata Darson, tidak hanya belajar dari teori. Ia juga bertemu dengan banyak orang dan menyaksikan beragam persoalan di tengah masyarakat.
Pengalaman itu kemudian menjadi bahan untuk berpikir dan menuangkan gagasan.
Darson melihat Menjaga Nurani tidak sekadar menyampaikan pemikiran. Buku tersebut juga mengajak pembaca berhenti sejenak dan melakukan perenungan.
Ia mengaitkan makna nurani dengan hati, moral, sikap, serta cara manusia memperlakukan nilai-nilai kemanusiaan.
“Menjaga nurani berarti bagaimana kita tetap menjaga hati, moral dan kemanusiaan,” menjadi salah satu gagasan utama yang mengemuka dalam diskusi.
AI Jangan Menggantikan Cara Berpikir

Pembahasan kemudian bergeser ke perkembangan AI yang semakin mudah diakses masyarakat.
Darson menyoroti kebiasaan sebagian pelajar yang mulai menggunakan teknologi untuk menyelesaikan berbagai tugas. Kemudahan tersebut memang membantu. Namun, penggunaan tanpa kendali dapat membuat seseorang terlalu bergantung pada teknologi.
Jika kondisi itu terus terjadi, proses belajar dan kemampuan berpikir kritis bisa ikut terpengaruh.
Karena itu, teknologi seharusnya membantu manusia, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir.
Manusia tetap harus memahami persoalan, memeriksa informasi, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas hasilnya.
Di titik inilah pesan Menjaga Nurani menjadi semakin relevan.
AI bisa memberikan jawaban dengan cepat. Namun, teknologi tidak bisa menggantikan tanggung jawab moral manusia dalam menentukan apakah sebuah tindakan benar atau salah.
Ridarman: Buku Menjadi Ruang Berpikir
Ridarman Bay menjelaskan bahwa ia menulis buku tersebut bukan sekadar untuk menghasilkan sebuah karya dalam bentuk fisik.
Baginya, menulis menjadi ruang untuk menuangkan pengalaman, pemikiran, sekaligus kegelisahan yang selama ini tersimpan.
Karena itu, buku tersebut tidak hanya menawarkan bacaan. Ridarman juga mengajak pembaca melihat kembali berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Gagasan itu kemudian menjadi salah satu benang merah diskusi.
Di tengah derasnya arus informasi digital, manusia justru harus semakin mampu menggunakan pikirannya. Sebab, informasi yang cepat tidak selalu berarti informasi yang benar.
Manusia tetap perlu membaca, memahami, memeriksa, lalu mengambil kesimpulan dengan pertimbangan yang matang.
KJK Buka Ruang Diskusi

Ady Indra Pawennari ikut memperkaya pembahasan dari perspektif jurnalistik dan kehidupan sosial.
Menurutnya, bedah buku juga menjadi bagian dari upaya membangun ruang bertukar gagasan di lingkungan KJK.
KJK tidak hanya menjadi wadah bagi wartawan dalam menjalankan aktivitas jurnalistik. Organisasi tersebut juga membuka ruang pertemuan bagi insan pers, akademisi, penyelenggara pemilu, organisasi masyarakat, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Budaya membaca dan berdiskusi menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang kritis.
Apalagi, masyarakat kini menghadapi arus informasi digital yang semakin deras. Kemampuan membaca, memahami, memeriksa, dan mengolah informasi menjadi semakin penting.
Dihadiri Berbagai Kalangan
Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang menghadiri kegiatan tersebut.
Di antaranya Komisioner KPU Kepri Priyo Handoko, Jernih Siregar, Komisioner Bawaslu Kepri Rosnawati dan Maryamah, serta Suyono Saeran dari Percepatan Pembangunan Daerah Kepri.
Hadir pula akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Bismar Arianto, Ketua Forhati Kepri Afitri Susanti, Ketua MD KAHMI Kota Tanjungpinang Andi Irawan, serta sejumlah komisioner KPU dan Bawaslu Kota Tanjungpinang.
Dari kalangan organisasi dan komunitas, hadir Yusuf Mahidin, Hendri Saputra, Henky Mohari, Desi Liza Purba, Harry Putra Prima, Amril Agin, Ambok Akok, Marsudi, Edward Mandala, Sigit Rahmat, Nadia Faradila, dan Rahmadini.
Para peserta mengikuti diskusi dengan serius. Mereka juga ikut memberikan perhatian terhadap berbagai gagasan yang muncul dari buku tersebut.
Menjaga Nurani di Tengah Perubahan

Diskusi akhirnya kembali pada satu pertanyaan besar: bagaimana manusia menghadapi perubahan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan?
Teknologi terus berkembang. AI juga semakin canggih. Arus informasi bergerak semakin cepat.
Namun, manusia tetap membutuhkan moral, empati, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis.
Kecanggihan teknologi tidak otomatis membuat manusia semakin bijaksana. Justru ketika teknologi semakin kuat, manusia membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Melalui Menjaga Nurani: Suara di Simpang Laman, Ridarman Bay menawarkan ruang untuk melihat persoalan tersebut dari sisi manusia.
Karena itu, bedah buku KJK tersebut tidak berhenti pada pembahasan isi buku. Diskusi berkembang menjadi refleksi tentang moral, kemanusiaan, teknologi, serta masa depan manusia.
Pada akhirnya, buku itu mengajak pembaca bukan hanya untuk membaca, tetapi juga berhenti sejenak, berpikir, dan bertanya kembali tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap di tengah perubahan zaman.***










