KAMPUNG ACEH BATAM: Langit pagi di Kampung Madani, Kelurahan Mukakuning, tampak berbeda pada Jumat itu. Sejak pukul delapan pagi, ratusan aparat berseragam lengkap menyusuri jalan sempit di kampung yang dulu dikenal dengan nama Kampung Aceh Batam. Dentuman langkah sepatu, suara radio komunikasi, dan sorot tegas mata para petugas menandai dimulainya operasi pemulihan kawasan rawan narkoba.
Sebanyak 300 personel gabungan dari BNNP Kepri, TNI, Polri, Pemkot Batam, hingga Direktorat Pengamanan BP Batam bergerak dari tiga arah: Kelurahan Muka Kuning, pos pengamanan Kampung Madani, dan pintu Rusun Mukakuning. Setiap rumah yang dicurigai menjadi tempat penyalahgunaan narkoba disisir tanpa pandang bulu.
“Kami amankan 51 orang dari lokasi, 36 di antaranya positif narkoba. Mereka terdiri atas 27 pria dan 9 wanita, satu di antaranya anak di bawah umur,” ungkap Kombes Pol. Nestor Simanihuruk, Kepala Bidang Berantas BNNP Kepri, di sela operasi.
Rehabilitasi dan Pengungkapan Jaringan
Tes urine di depan Mushola Ar Rahman. Satu per satu warga laksanakan tes, sementara sebagian lainnya hanya bisa menunduk menyembunyikan wajah. Dari hasil pemeriksaan awal, 36 orang positif narkoba, sementara 15 lainnya negatif.
Nestor menegaskan, seluruh penyalahguna itu akan langsung menjalani rehabilitasi. Namun proses hukum tetap berjalan guna menelusuri jaringan pengedar di balik mereka. “Kami ingin bukan hanya pengguna yang sembuh, tapi juga jaringannya bisa terungkap,” ujarnya tegas.
Dari operasi ini, petugas juga menyita berbagai barang bukti: satu paket kecil sabu, sepuluh bong, dua kotak pipet kaca, dua puluh empat mancis, serta beberapa senjata tajam dan alat isap.
Satu Tahun Kampung Madani: Harapan dan Tantangan
Operasi besar ini bukan sekadar penegakan hukum, tapi juga bagian dari evaluasi satu tahun peresmian Kampung Madani bebas narkoba, sejak 16 November 2024 lalu.
Kawasan ini awalnya bernama Kampung Aceh Batam, yang sejak lama menjadi sorotan karena maraknya peredaran sabu dan aktivitas ilegal.
Menurut Nestor, operasi pemulihan kawasan narkotika kali ini merupakan instruksi langsung dari Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto. “Kegiatan ini serentak di seluruh Indonesia, tapi Batam menjadi perhatian khusus karena kawasan ini memiliki riwayat panjang peredaran narkoba,” tuturnya.
Sebelumnya, pada 7 November 2024, BNNP Kepri juga melaksanakan razia serupa di lokasi yang sama dan mendapati 88 orang positif narkoba. Penurunan angka menjadi 36 orang kali ini menunjukkan adanya dampak positif dari program Kampung Madani bebas narkoba, meski hasilnya belum signifikan.
“Masih perlu keseriusan bersama. Pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat harus ikut membina warga di sini agar bisa benar-benar lepas dari narkoba,” tambahnya.
Pembongkaran Rumah dan Penindakan Tegas
Selain menjaring penyalahguna, petugas juga merobohkan satu bangunan liar sebagai tempat transaksi dan penyalahgunaan narkoba. Aksi ini menambah daftar panjang penertiban yang sudah dilakukan sejak Kampung Madani diresmikan.
Kombes Pol. Anggoro Wicaksono, Direktur Resnarkoba Polda Kepri, menjelaskan bahwa pembongkaran setelah pihaknya menangkap seorang pengedar sabu di sebuah kos-kosan pada 4 November 2025. Dari tangan pelaku berinisial MN, polisi menyita 5,69 gram sabu. “Kos tempatnya kami rubuhkan langsung, agar tak lagi jadi sarang transaksi,” ujarnya.
Sejak November 2024 hingga kini, sudah lima kali pembongkaran rumah liar. Pada 17 Januari petugas membongkar satu unit. 19 Februari, 16 April, 9 Juli, dan terakhir pada 7 November 2025. Sebelumnya, tiga hari setelah peresmian Kampung Madani, aparat juga menertibkan tujuh bangunan liar dan satu rumah kos untuk aktivitas narkoba.
Membangun Harapan Baru
Kini, di balik sisa puing bangunan yang roboh, masih tersisa harapan besar agar Kampung Aceh Batam benar-benar bertransformasi menjadi Kampung Madani—sebuah kawasan yang damai, bersih, dan bebas dari narkoba.
Masyarakat berharap, operasi besar seperti ini tidak berhenti pada penindakan, tapi berlanjut pada pembinaan dan pemberdayaan warga agar mereka punya kesempatan memperbaiki hidup. Karena di balik setiap razia, ada cerita manusia yang masih membutuhkan harapan baru.








