Tangis Tak Lagi Jadi Bahasa Mereka, Kini Mereka Punya Harapan
Anak korban pelecehan di Batam akhirnya mendapat secercah harapan baru. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Batam telah merujuk lima anak dari latar belakang keluarga rentan ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Mereka bukan hanya mendapatkan perlindungan, tetapi juga kesempatan untuk kembali bersekolah.
“Beberapa dari mereka merupakan korban pelecehan seksual sejak usia enam tahun. Mereka datang dari keluarga miskin, bahkan pendidikan pun tak lagi jadi prioritas,” ungkap Kepala UPTD PPA Batam, Dedy Suryadi, pada wartawan di Batam, Senin (30/6/2025).
Dedy menjelaskan dengan suara tenang namun tegas bahwa ia tidak bisa melakukan proses pemulihan anak-anak ini secara instan. Luka mereka terlalu dalam untuk sembuh hanya dengan waktu. Namun, melalui pendekatan perlahan dan penuh kasih, anak-anak itu mulai membuka diri kembali kepada dunia.
Langkah Kecil Menuju Sekolah, Langkah Besar Menuju Pemulihan
Anak-anak tersebut kini tersebar di empat LKSA berbeda, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Mereka berusia antara 6 hingga 12 tahun, dan sebelumnya mengalami kekerasan, baik secara fisik maupun seksual, bahkan sampai pengabaian oleh orang tua kandung.
“Orang tua mereka tidak hanya lalai dalam melindungi, tapi juga tak peduli soal pendidikan. Padahal, anak-anak ini masih berhak belajar, masih punya mimpi,” tambah Dedy.
Petugas melakukan proses rujukan dengan penuh empati. Mereka terlebih dahulu mengenalkan anak-anak dengan lingkungan LKSA, mengajak mereka berbicara dari hati ke hati, dan memberi ruang agar mereka merasa nyaman. Setelah anak-anak menyatakan kesiapan, petugas pun memulai proses rujukan secara resmi.
Anak Korban Pelecehan di Batam Kembali ke Sekolah
UPTD PPA Batam tak bekerja sendiri. Lembaga ini bersinergi dengan Dinas Pendidikan Kota Batam untuk membuka jalan bagi anak-anak ini kembali ke dunia pendidikan. Sekolah-sekolah yang terlibat pun menunjukkan kepedulian luar biasa.
“Kami mengajukan permintaan khusus agar sekolah mau menerima mereka, meskipun tanpa dokumen lengkap. Alhamdulillah, responnya sangat positif,” ujar Dedy.
Meski kini tinggal di LKSA, petugas tetap memberikan kesempatan kepada anak-anak tersebut untuk bertemu orang tua kandung mereka, asalkan situasinya memungkinkan dan anak merasa aman
“Masuk ke LKSA bukan berarti memutus ikatan keluarga. Yang terpenting, anak merasa terlindungi, nyaman, dan punya ruang untuk tumbuh kembali,” tutup Dedy.
Karena Setiap Anak Berhak Bermimpi, Meski Pernah Tersakiti
Kelima anak ini memang tak pernah memilih jalan hidupnya. Mereka tidak memilih dilukai. Namun hari ini, berkat kerja bersama dan kasih yang tulus, mereka mendapat kembali satu hal yang sangat sederhana namun sangat berarti—kesempatan untuk sekolah.









