BATAMCLICK.COM: Persoalan Air Batam bukan sekadar krisis teknis, melainkan cermin perjalanan panjang sebuah kota yang tumbuh lebih cepat daripada sistem pendukungnya.
Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Iman Sutiawan, mengajak masyarakat Batam untuk menyikapi persoalan air bersih secara jernih, proporsional, dan tidak reaktif.
Akumulasi Masalah yang Terbentuk Bertahun-Tahun
Iman menegaskan bahwa persoalan air tidak lahir hari ini. Ia menjelaskan bahwa masalah tersebut terbentuk melalui akumulasi kebijakan, pembangunan infrastruktur, serta pertumbuhan kota yang tidak seimbang selama bertahun-tahun.
Pada masa awal pembangunan, sistem air dirancang untuk jumlah penduduk yang relatif kecil dan kebutuhan yang terbatas.
Namun, seiring waktu, Batam berkembang sangat cepat. Pertumbuhan penduduk meningkat, kawasan perumahan meluas, dan kawasan industri terus berekspansi.
Sementara itu, kapasitas pipa dan jaringan distribusi air tumbuh jauh lebih lambat.
“Batam berkembang sangat cepat, tetapi sistem airnya tumbuh lambat. Ketimpangan inilah yang hari ini kita rasakan dampaknya,” ujar Iman.
Transisi Pengelolaan dan Beban Warisan Infrastruktur
Iman juga menekankan bahwa transisi pengelolaan air dari ATB ke Moya telah berlangsung sejak periode kepemimpinan sebelumnya. Ia menilai bahwa infrastruktur dasar air bersih yang digunakan hingga kini merupakan warisan lama yang tidak dirancang untuk menghadapi lonjakan kebutuhan saat ini.
Pasca pengelolaan dipegang oleh Moya, pelayanan air dinilai belum menunjukkan perbaikan signifikan sesuai harapan masyarakat.
Namun demikian, Iman mengingatkan bahwa fase ini merupakan tahap koreksi besar, di mana berbagai persoalan lama justru muncul ke permukaan dan terasa lebih tajam akibat tingginya ekspektasi publik.
Kepemimpinan di Tengah Tekanan
Dalam konteks tersebut, Iman menilai Kepala dan Wakil Kepala BP Batam, Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, menghadapi persoalan yang kompleks.
Keduanya tidak mewarisi kondisi ideal, melainkan tumpukan persoalan teknis, keterbatasan infrastruktur, serta kepercayaan publik yang sedang diuji.
Meski demikian, Iman menilai langkah evaluasi, penataan ulang prioritas, serta pembenahan sistem distribusi air terus berjalan secara maksimal di tengah tekanan dan sorotan publik.
“Membenahi air bukan pekerjaan instan. Ini bukan soal memperbaiki keran bocor, tetapi membangun ulang fondasi pelayanan publik,” tegasnya.
Air dan Masa Depan Kota
Iman menekankan pentingnya dukungan sosial dan stabilitas politik agar pembenahan sistem Air Batam dapat berjalan berkelanjutan.
Ia mengingatkan bahwa kritik tetap diperlukan sebagai kontrol publik, namun harus diarahkan secara konstruktif.
Menurutnya, cara Batam menyikapi krisis air akan menentukan apakah kota ini hanya tumbuh besar secara fisik atau benar-benar matang sebagai kota yang berkeadaban dan berkeadilan bagi warganya.***







