Bicara dari Hati ke Hati, Demi Masa Depan Anak Negeri

BATAMCLICK.COM: Di ujung barat Indonesia, di antara laut biru dan angin pesisir yang tenang, ada kisah tentang upaya sunyi yang menyentuh hati. Pemerintah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, perlahan mengetuk pintu-pintu rumah warga—bukan untuk menginterogasi, tapi untuk mendengar. Untuk merangkul. Untuk melindungi.

Melalui program psikoedukasi yang dijalankan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Natuna, para petugas mendatangi langsung rumah-rumah warga. Mereka membawa pesan: bahwa setiap perempuan dan anak berhak hidup tanpa ketakutan.

“Kami datang langsung. Menyapa, berbicara, dan mendengarkan. Program ini tidak sekadar edukasi, tapi bentuk kepedulian yang nyata,” ujar Kepala UPTD PPA Natuna, Melda Irawati, Senin lalu.

Saat ini, kegiatan psikoedukasi telah menjangkau dua kecamatan: Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut. Fokusnya adalah keluarga atau individu yang rentan terhadap kekerasan—perempuan yang dinikahi secara siri, perempuan yang ditinggalkan suami, korban KDRT, anak yang diasuh oleh ayah tiri, atau kerabat seperti kakek dan nenek.

Tak sekadar angka dalam laporan, para korban ini adalah manusia yang selama ini memilih diam. Tapi lewat pendekatan yang lembut dan langsung, kasus-kasus lama yang tak pernah dilaporkan pun mulai terungkap.

“Kasus kekerasan memang tercatat meningkat pada 2024, tapi sebagian besar adalah kasus lama yang baru berani diungkap setelah kami hadir langsung,” kata Melda.

Program ini telah berjalan selama beberapa tahun, didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Bukan hal mudah, namun hasilnya mulai terlihat. Setiap kunjungan membawa harapan baru bagi mereka yang selama ini hidup dalam sunyi.

Dalam pelaksanaan di lapangan, tim UPTD PPA melibatkan tenaga psikolog profesional. Mereka memberikan dukungan emosional dan bimbingan langsung, bukan hanya kepada korban, tapi juga kepada keluarga agar menjadi lingkungan yang aman dan mendukung.

Untuk wilayah pulau-pulau penyangga, Melda menyebut pihaknya masih menunggu data dari desa dan kelurahan. “Setelah Idul Adha, kalau datanya sudah masuk, kami akan lanjutkan penjangkauan ke sana. Tidak boleh ada yang tertinggal,” tuturnya.

Di tengah keterbatasan, langkah kecil ini menjadi cahaya bagi banyak jiwa yang pernah merasa sendiri. Karena di Natuna, perlindungan bukan sekadar kebijakan, tapi hadir dalam bentuk tangan yang terulur dan telinga yang mau mendengar.(Man)
Editor: Abd Hamid