MBG Buka Pasar Baru, Nelayan Sabang Tak Lagi Sepenuhnya Bergantung Musim

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka pasar baru bagi nelayan dan pedagang ikan di Sabang, Aceh. Permintaan yang lebih pasti membantu menjaga pendapatan dan harga jual ikan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka pasar baru bagi nelayan dan pedagang ikan di Sabang, Aceh. Permintaan yang lebih pasti membantu menjaga pendapatan dan harga jual ikan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang baru bagi nelayan dan pedagang ikan di pesisir Kota Sabang, Pulau Weh, Aceh. Salah satunya dirasakan Fitra Novrizal, pedagang ikan yang mengaku kini memiliki penghasilan lebih stabil setelah memasok kebutuhan pangan untuk program tersebut.

Sebelum bergabung, Fitra dan para pedagang ikan lainnya menghadapi ketidakpastian pendapatan akibat perubahan musim. Saat musim barat tiba, hasil tangkapan nelayan cenderung sulit diperoleh. Kondisi itu membuat pasokan ikan berkurang dan penghasilan ikut menurun.

Peluang bermitra dengan program MBG muncul ketika petugas survei dari Badan Gizi Nasional (BGN) mendatangi lokasi para pedagang ikan. Mereka membahas jenis ikan, jumlah kebutuhan, serta volume pasokan harian hingga mingguan sebelum menjalin kerja sama.

“Setelah bermitra dengan MBG, penghasilan para pedagang menjadi lebih stabil dan meningkat, sementara harga jual ikan dari nelayan juga menjadi lebih baik dan menguntungkan,” kata Fitra melalui kanal YouTube resmi BGN, seperti dikutip di Jakarta, Kamis.

Kerja sama tersebut memberikan kepastian pasar bagi pedagang sekaligus membuka peluang bagi nelayan untuk memperoleh harga jual yang lebih baik. Fitra berharap program ini terus berjalan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak pelaku usaha perikanan, terutama nelayan kecil.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas pelaksanaan program tersebut.

“Terima kasih kepada Presiden Prabowo karena program ini membantu para nelayan mendapatkan harga jual yang optimal,” ujarnya.

MBG Dinilai Bisa Menggerakkan Ekonomi Desa

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, menilai program MBG berpotensi mendorong penguatan ekonomi perdesaan melalui sektor pangan.

Menurut dia, kebutuhan bahan pangan untuk memenuhi menu MBG dapat menjadi pendorong tumbuhnya kegiatan produksi dan pengolahan pangan di daerah. Dengan begitu, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan, tetapi juga oleh pelaku usaha lokal yang terlibat dalam rantai pasoknya.

“Jadi Program MBG untuk anak sekolah akan membangkitkan industrialisasi perdesaan, bidang pangan,” kata Samsul.

Badan Gizi Nasional juga menyatakan komitmennya untuk berperan sebagai offtaker atau pembeli hasil produksi. Melalui mekanisme ini, hasil tangkapan nelayan dan produk perikanan lokal diharapkan dapat terserap untuk memenuhi kebutuhan menu harian MBG.

Untuk memperkuat rantai pasok tersebut, BGN meningkatkan sinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kerja sama ini diarahkan untuk menghubungkan sentra produksi perikanan, mulai dari nelayan, pembudidaya ikan, hingga pasar lokal, dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Keterhubungan antara produsen dan penyedia layanan gizi diharapkan dapat memperluas akses pasar bagi nelayan kecil sekaligus membantu menjaga kestabilan harga ikan. Namun, keberlanjutan manfaatnya akan bergantung pada konsistensi kebutuhan pasokan, kelancaran distribusi, serta kemampuan pelaku usaha lokal memenuhi standar bahan pangan yang ditetapkan.

Sumber: Antara