BATAMCLICK.COM: Usai bersanding di pelaminan sebagai pasangan pengantin, esok harinya pasangan Sajidah Decha Puspa dan Raja Geyza Saputra masih harus menjalani satu lagi prosesi adat, adalah Mandi Sapat atau Mandi Mada.
Mandi sapat ini digelar setelah pengantin bersatu menjalankan kewajibannya.
Mandi Sapat diadakan di teras rumah. Deca dan Geyza didudukkan bersanding dengan pakaian mandi dan kemban.
Ada beberapa tahapan dalam prosesi Mandi Sapat ini. Tahapan pertama adalah Air Tapis.

Air Tapis merupakan air mandi yang mengguyur tubuh kedua pengantin baru. Namun sebelum jatuh mengenai tubuh mereka, air ini terlebih dahulu ditapis atau disaring.
Prosesi ini memiliki makna agar semua informasi yang masuk kepada pasangan ini, hendaknya terlebih dahulu disaring atau ditapis, tidak bulat-bulat ditangkap.
Prosesi air Tapis ini dilakukan oleh kedua orang tua pengantin, baik pihak pria maupun wanita.
Dimulai dari bapak pengantin perempuan H Samsul Bahri dan istri.
Selanjutnya prosesi menarik janur.. Pada prosesi ini kedua mempelai diberi minum air mandian, tapi air itu tidak ditelan, hanya sampai di dalam mulut saja, setelah itu seutas janur diberikan kepada mereka, dan dalm hitungan ketiga, keduanya menarik janur tersebut, sambil menyemprotkan air yang ada di dalam mulut mereka.

Prosesi dilanjutkan dengan dikelilingi cermin. Sebuah cermin mengelilingi kedua mempelai, sebanyak 3 kali keliling, dalam. Proses ini dimaksudkan kedunya meneguhkan hati, bahwa lelaki yang paling ganteng, tampan dan layak adalah suami dan wanita yang paling cantik, anggun dan layak adalah istri.
Proses berlanjut ke langkah benang dan putuskan simpul benang.
Seutas benang yang bersifat mudah kusut melambangkan problema atau permasalahan yang akan dihadapi oleh pasangan penganti ini dalam hidupnya. Untuk itu keduanya harus sabar dan teliti dalam mengurai benang kusut tersebut.
Prosesi ini dimulai dengan melangkah 3 kali ke dalam dan keluar benang, dengan tuduhan yang dipersatukan oleh kain kembaran. Selanjutnya pengantin pun bersama-sama membuka simpul benang tersebut.

Yang terakhir adalah tendang kelapa. Buah kelapa yang sudah dikupas kulitnya, diharuskan di bawah, selanjutnya pasang pengantin ini menendang dengan tujuan mengusir semua masalah yang akan datang secara bersama-sama.
Nah, begitu kelapa ditendang, pihak keluarga oun langsung melempar bola-bola air ke arah satu sama lainnya.
Prosesi ini menunjukkan keakraban dan kebersamaan keluarga. Lempar bola air berwarna warni ini menjadi proses penutup rangkaian adat pernikahan Sajidah Decha Puspa dan Raja Geyza Saputra.
Usai itu, ibu pengantin pun menjual bubur sumsum kepada pihak keluarga, dengan harapan cepat mendapat cucu.

“Belilah bubur kami nie.. Biar kami cepat dapat cucu…,” pinta ibu pengantin pada orang yang hadir.
Mereka pun membeli dengan harga yang sesuka hati, ada yang 1000 rupiah, ada yang 2000 bahkan ada yang 500 rupiah. Itu lah adat dan syarat Melayu.(bos)










