Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jakarta mengungkap tingginya faktor risiko penyakit tidak menular, mulai dari gangguan kadar lemak darah hingga obesitas. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat dislipidemia menjadi salah satu temuan terbanyak pada peserta skrining berusia di atas 40 tahun yang memiliki hipertensi atau diabetes.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Octoviana Carolina, mengatakan 67 persen dari 97.344 peserta dalam kelompok tersebut mengalami dislipidemia pada Triwulan III 2026.
Dislipidemia merupakan kondisi ketika kadar lemak dalam darah, seperti kolesterol atau trigliserida, berada di luar batas normal. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama jika disertai faktor risiko lain.
“Dislipidemia 67 persen dari 97.344 peserta skrining berusia di atas 40 tahun dengan HT/DM (hipertensi/diabetes melitus),” kata Octoviana saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Pada kelompok peserta berusia di atas 18 tahun, hasil skrining juga menunjukkan persoalan obesitas dan kurangnya aktivitas fisik. Dinas Kesehatan DKI mencatat sekitar 32 persen dari 2.550.391 peserta mengalami obesitas, sedangkan 30 persen mengalami obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut.
Selain itu, sebanyak 29 persen peserta dalam kelompok usia tersebut tercatat kurang melakukan aktivitas fisik. Adapun 12 persen mengalami prehipertensi, yakni kondisi tekanan darah yang berada di atas batas optimal atau normal, tetapi belum memenuhi kriteria hipertensi.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan penyakit yang sudah terdiagnosis, tetapi juga faktor risiko yang kerap tidak disadari hingga seseorang menjalani pemeriksaan.
Dinkes Jakarta Perkuat Penanganan Risiko Penyakit
Octoviana mengatakan penyakit tidak menular dan faktor risikonya masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Sejumlah kondisi yang perlu diwaspadai antara lain obesitas, kurang aktivitas fisik, hipertensi, dan diabetes karena dapat berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.
Dinas Kesehatan DKI mengarahkan peserta yang memiliki faktor risiko atau terindikasi mengalami penyakit untuk memperoleh edukasi, pemeriksaan lanjutan, pengobatan, serta pemantauan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Bagi penderita hipertensi atau diabetes berusia 40 tahun ke atas, petugas juga mendorong pemeriksaan risiko komplikasi organ secara lebih menyeluruh.
“Khusus penderita hipertensi dan atau diabetes usia 40 tahun dan di atas 40 tahun, juga didorong dilakukan skrining risiko komplikasi organ secara lebih komprehensif,” kata Octoviana.
Langkah tersebut bertujuan membantu menemukan risiko komplikasi lebih dini sehingga tenaga kesehatan dapat menentukan penanganan sesuai kondisi masing-masing pasien.
Jakarta Ajak Warga Bergerak Lebih Aktif
Selain memperkuat layanan pemeriksaan dan pengobatan, Dinas Kesehatan DKI menjalankan program promotif dan preventif untuk mendorong perubahan gaya hidup masyarakat. Dua inisiatif yang diusung ialah gerakan “Jakarta Berjaga” dan tantangan “Downgrade Ukuran Bajumu”.
Jakarta Berjaga merupakan singkatan dari Bergerak, Bekerja, Berolahraga, dan Bahagia. Program ini mengajak peserta menyelesaikan tantangan berjalan sedikitnya 7.500 langkah per hari selama 21 hari berturut-turut.
Peserta juga didorong menerapkan pola makan sehat melalui konsep “Isi Piringku” dan melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari atau 150 menit dalam sepekan.
Sementara itu, tantangan “Downgrade Ukuran Bajumu” mengampanyekan pola hidup sehat melalui upaya mengurangi ukuran lingkar tubuh dan pakaian. Program ini menekankan perubahan kebiasaan sehari-hari untuk membantu masyarakat menjaga berat badan dan mengurangi risiko kesehatan terkait obesitas.
Dinas Kesehatan DKI mencatat sebanyak 4.030.702 orang telah mengikuti program CKG hingga akhir September 2026. Capaian tersebut melampaui target Triwulan III yang ditetapkan sebesar 36 persen.
Pemeriksaan kesehatan gratis menjadi salah satu pintu masuk untuk mendeteksi penyakit dan faktor risikonya lebih awal. Namun, manfaatnya akan bergantung pada tindak lanjut hasil skrining, akses terhadap pengobatan, serta kesediaan masyarakat menjaga pola makan dan aktivitas fisik secara konsisten.
Sumber: Antara










