Harga TBS sawit produksi pekebun di Kalteng naik

BATAMCLICK.COM : Dinas Perkebunan (Disbun) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyatakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit produksi pekebun di provinsi setempat untuk periode II Mei 2024 berangsur mengalami kenaikan.

“Hal ini berdasarkan hasil dari rapat penetapan harga tandan buah segar kelapa sawit produksi pekebun,” terang Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (Lohsar) Disbun Kalteng Achmad Sugianor dalam keterangan yang diterima di Palangka Raya, Jumat.

Adapun berdasarkan hasil pengolahan data dari 17 perusahaan yang telah mengirimkan data untuk perhitungan harga tersebut, maka telah ditetapkan harga TBS pada periode Mei 2024.

BACA JUGA:   Barcelona Ditawari Van de Beek

Dimulai dari minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dan inti sawit atau palm kernel (PK) pada periode ll Mei 2024 berangsur mengalami kenaikan. Harga minyak Kalteng sebesar Rp12.188,18, naik dari harga pada periode I yakni Rp12.065,49 (per kilogram + PPN).

“Demikian pula halnya dengan harga TBS pada umur tanaman 10 – 20 tahun juga mengalami kenaikan sebesar Rp24,72,” jelasnya.

Sedangkan untuk inti sawit naik menjadi Rp7.219,50 dari harga sebelumnya Rp7.202,92. Untuk indeks “K” masih menggunakan angka 89,41persen.

Maka dari hasil perhitungan harga TBS kelapa sawit produksi pekebun mitra untuk periode ll pada Mei 2024, yaitu pada umur tanaman tiga tahun Rp1.988,31, umur empat tahun Rp2.172,26, umur lima tahun Rp2.347,21, dan umur enam tahun Rp2.415,53.

BACA JUGA:    Jumat Berkah, Polsek Bengkong Salurkan Bantuan Kepada Masyarakat Kurang Mampu

Selanjutnya, pada umur tujuh tahun Rp2.463,15, umur delapan tahun Rp2.574,01, umur sembilan tahun Rp2.641,90, serta umur 10 – 20 tahun sebesar Rp2.719,17.

Lebih lanjut dia menyampaikan, mengacu Permentan Nomor 1 Tahun 2018 disebutkan perusahan yang sudah memiliki IUP, sudah operasional dan menghasilkan, wajib menyampaikan data kepada Tim Perhitungan TBS Provinsi.

“Dinas Perkebunan sudah berupaya melaksanakan pengumpulan data dari perusahaan-perusahaan perkebunan sebagai sumber data untuk perhitungan TBS, dengan melakukan monitoring dan evaluasi,” ucapnya.

Hanya saja karena keterbatasan anggaran untuk melaksanakan hal itu, maka kegiatan tersebut belum bisa maksimal. Tim Perhitungan TBS pun sudah melakukan sosialisasi ke beberapa perusahaan, sekaligus mendata perusahaan yang tidak menyampaikan data ke provinsi.

BACA JUGA:   Kanim Batam Deportasi 166 WNA Asal Vietnam Pelaku Illegal Fishing

Sumber : Antara