BATAMCLICK.COM: Di balik tembok kokoh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Batam, Kepulauan Riau, ada secercah harapan yang tumbuh. Kepala Lapas, Yugo Indra Wicaksi, hadir dengan cara berbeda: ia turun langsung ke blok-blok hunian, menyapa dan mendengar keluh kesah para warga binaan.
“Waktu kunjungan saya lakukan secara acak, agar warga binaan spontan menyampaikan aspirasinya,” tutur Yugo, Rabu (4/6) di Batam. Program ini, yang ia beri nama “Kalapas Menyapa Warga Binaan,” sudah berjalan sejak awal 2025. Setiap bulan, dua kali ia menyusuri lorong-lorong hunian, bersilaturahmi dan bercengkerama hangat.
Dalam setiap kunjungan, Yugo tak hanya menjadi Kalapas yang menegakkan aturan. Ia menjadi telinga yang mendengar keluh kesah para warga binaan, dari soal pembinaan hingga kerinduan yang sederhana: rindu pada anak dan istri. “Kebanyakan dari mereka hanya ingin curhat. Mereka kangen anak, istri, keluarga,” ungkap Yugo dengan lirih.
Lebih dari sekadar rutinitas, bagi Yugo, program ini adalah wujud nyata dari akselerasi pembinaan yang dicanangkan Menteri Hukum dan HAM, Agus Ardianto. “Ini implementasi dari akselerasi Menteri Imipas. Pendekatan humanis itu adalah pembinaan,” tegasnya.
Bukan hanya sekadar berkunjung, Yugo kerap membawa sang istri dalam kesempatan itu. Baginya, istri Kalapas adalah ‘ibu’ yang turut membina dan memberi kehangatan. “Kami ingin mereka merasakan bahwa saya dan istri hadir sebagai orang tua selama mereka di sini,” katanya, suaranya penuh ketulusan.
Baginya, tugas pemasyarakatan bukan semata mengurung dan mengawasi. “Saya diberikan amanah negara untuk melayani mereka, membina mereka. Bukan untuk mengadili, karena itu sudah tugas polisi, jaksa, dan hakim. Di sini, tugas saya adalah mendampingi mereka berubah, dari yang dulu terpuruk jadi lebih baik,” papar Yugo.
Hasilnya? Keamanan di Lapas Batam lebih terkendali. Pendekatan kekeluargaan dan penuh empati membuat psikis warga binaan lebih tenang. “Dampaknya, suasana lapas lebih aman dan kondusif,” tambahnya.
Saat ini, Lapas Kelas IIA Batam dihuni 1.025 warga binaan, jauh melebihi kapasitas 650 orang. Namun di balik kepadatan itu, ada upaya Yugo dan jajarannya untuk memastikan setiap orang di sana merasa diperhatikan — tak sekadar menjalani hukuman, tetapi juga menemukan kembali makna hidup yang lebih manusiawi.
Sumber: Antara








