Di sebuah sudut rimba belantara yang biasanya damai, hari itu mendadak berubah menjadi panggung sirkus keliling paling kocak abad ini. Seekor kera berbadan cungkring dan berbulu dekil berjalan melenggang dengan rasa percaya diri yang melampaui batas kewarasan. Di kepalanya, ia mengenakan topeng singa berambut lebat yang tampak sangat megah—sayangnya, ia lupa menyembunyikan bagian tubuh lainnya. Dari leher ke bawah, ia tetaplah seekor kera kurus kering dengan ekor melingkar khas tukang panjat pohon.
Ia berjalan keliling hutan dengan gaya sok gagah, merasa dirinya adalah raja singa yang paling ditakuti. Di kanan dan kirinya, dua ekor kera pengawal yang sudah tua dan renta ikut mengawal dengan langkah terpincang-pincang. Membusungkan dada sih boleh, tapi lucunya, tombak panjang di tangan mereka sama sekali tidak dipakai sebagai senjata tempur, melainkan dialihfungsikan menjadi tongkat penyangga tubuh jompo agar mereka tidak ambruk di tengah jalan.
“Wih, jalanan licin, Mbah. Awas encok kambuh,” bisik pengawal tua sambil sempoyongan menopang tubuhnya dengan tombak.
Pemandangan absurd itu kontan membuat seluruh penghuni rimba gagal fokus. Alih-alih merasa gentar melihat “raja baru” yang berpatroli, para penghuni hutan justru mendadak kompak terkena serangan geli.
Si Ular melilit di dahan sambil mendesis cekikikan, si Rusa dan si Kancil tertawa terpingkal-pingkal hingga terguling-guling di atas rumput. Bahkan seekor Gajah yang besar dan kura-kura yang jalannya lambat pun ikut terbahak-bahak melihat aksi konyol tersebut.
Puncaknya adalah sang Raja Rimba yang asli—yakni seekor Harimau perkasa—malah tertawa ngakak sampai terjengkang keempat kakinya ke atas tanah, memegangi perutnya yang kram karena terlalu keras ketawa melihat kera berkedok singa.
”Hahaha! Duh, perutku mau copot!” teriak si Kancil sambil menyeka air mata tawanya. “Mau jadi singa kok ya pakai topeng kardus, pengawalnya pake tongkat pramuka! Ada-ada saja tingkah makhluk zaman sekarang!”
Cerita ini murni fiksi belaka, sekadar pengantar hari agar kalian makin semangat dan bahagia. Kalau ada kesamaan atau kemiripan dengan kisah yang sedang dialami pembaca… aduh, kalian kok bisa begitu banget sih?”
Raja Bodong!









