BATAMCLICK.COM: Hari itu, Minggu pagi yang cerah di Batam. Sugeng Riyadi, pria asal Tanjung Sengkuang, bersiap memancing bersama kedua kakaknya, Waluyo dan Ferris. Mereka menuju Batu Mata Kucing, lokasi yang terkenal di kalangan pemancing. Suasana penuh semangat. Segala peralatan sudah siap, dan semangat Sugeng menggebu-gebu. Ia ingin membawa pulang ikan segar untuk keluarga.
Mereka berangkat sekitar pukul 10.00 WIB, menapaki perairan yang surut. Angin laut semilir menambah semangat tiga bersaudara ini. Namun siapa sangka, hari penuh harapan itu berubah menjadi tragedi.
Menjelang siang, air laut mulai pasang. Mereka terjebak di tengah lautan, arus menjadi semakin kuat. Ferris, sang adik, berhasil berenang ke darat lebih dulu, bergegas mencari pertolongan. Sementara Sugeng dan Waluyo memutuskan kembali ke Batu Mata Kucing, berharap bisa menunggu air kembali surut.
Namun, gelombang harapan Sugeng ternyata rapuh. Sekitar pukul 13.00 WIB, Sugeng, yang merasa lelah menunggu, memutuskan untuk berenang kembali ke daratan. Waluyo sempat melarangnya, tetapi Sugeng tetap bersikeras. Ia ingin pulang.
Dalam upaya yang penuh tekad itu, jarak daratan hanya tinggal sepuluh meter. Namun, kelelahan dan arus yang kencang membuatnya tak kuasa lagi. Sugeng tenggelam, ditelan ombak yang mengamuk.
Keesokan paginya, Senin pukul 07.15 WIB, harapan keluarga menemukan Sugeng hidup pun pupus. Tim SAR gabungan TNI AL Lantamal IV dan Satpolairud Polresta Barelang menemukan jasad Sugeng terapung di pantai depan Markas Lantamal IV. Pagi itu, suasana pantai berubah muram. Harapan berubah menjadi duka yang mendalam.
Mayor Laut (P) Ahmad Sofyan, Perwira Staf Operasi Satrol Lantamal IV, mengungkapkan bahwa operasi pencarian dilakukan sejak hari pertama Sugeng dilaporkan hilang. “Kami segera bergerak begitu laporan diterima. Akhirnya, di hari kedua pencarian, kami menemukan korban,” kata Sofyan.
Kisah tragis ini menjadi pengingat bagi siapa pun yang beraktivitas di laut. Laut yang indah sekaligus berbahaya. “Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan cuaca dan kondisi air pasang surut saat beraktivitas di perairan,” pesan Sofyan.
Sugeng mungkin telah pergi, tetapi kenangan tentangnya akan selalu hidup. Ia hanyalah seorang pria sederhana yang ingin mengisi meja makan keluarganya dengan hasil pancingan, tapi takdir berkata lain.









