Sri Mulyani dan Uang Pensiun itu… (Kolom Buralimar)

Pensil (Pensiun Usil)

AWALNYA saya ngefans dengan Bu Sri Mulyani, Menteri Keuangan kita yang luar biasa pintar dan pemberani. Selama ini. Tapi rasa simpati itu berkurang sejak pernyataan menteri terbaik se-Asia itu mengenai uang pensiun ASN yang dianggap membebani negara. Sangat disayangkan.

Di satu sisi saya pribadi salut sama Bu SM dalam mengelola anggaran negara.
Namun akhir-akhir ini beliau begitu nervous ditandai berbagai hal seperti pengurangan dana DAK-DAU untuk daerah, menaikkan pajak di sektor masyarakat bawah, kini ditambah kontroversi tentang tunjangan pensiun.

Diksi ‘membebani APBN’ itu terdengar kurang santun. Melukai hati para pensiunan ASN yang rata-rata sudah mengabdi selama 30 tahun. Banyak jasa mereka kepada republik. Kalau dianggap membebani negara, wah dimana rasa kemanusiaannya bagi mereka yang sudah bekerja puluhan tahun berbakti demi negara.

Bukankah masih banyak kalimat lain. Misal, ‘mempengaruhi struktur APBN.’ Tapi ya begitulah. Sekarang tiba-tiba kita terkenang sosok Pak Harmoko yang sangat handal berbahasa. Rakyat dicubit tapi tak terasa sakit. He-he.

Bu SM mesti sering-sering piknik ke Kepri. Belajar menyampaikan gagasan lewat pantun atau gurindam. Tentu pantun yang bukan asal pantun. Sekarang banyak pejabat berpantun. Tetapi tak tahu mana sampiran mana isi. Pantun salah-salah terlampau panjang karena banyak bumbu beletei, tak selesai-selesai. Maka tergantunglah barang tu.

Bu SM sejatinya cukup mengurus hal-ihwal besar saja, seperti eksplorasi pendapatan negara yang lain, ngurus neraca keuangan negara, dan seterusnya dan sebagainya. Kadang orang pintar sekelas profesor yang kerap memikirkan yang sulit-sulit, bisa mendadak jenuh mentok sebab tiba-tiba mengurus perkara tetek-bengek yang kecil-kecil. Rumus matematika di luar kepala. Begitu ditanyakan 6 x 9 atau 9 x 6 lupa dia hasilnya 54 atau 45. Khilaf struktural secara tidak sadar.

Ada imam mesjid di kampung saya selalu mendengungkan ayat-ayat panjang. Sekalinya membaca surat Al-kaafirun yang pendek, dia berputar-putar di antara ‘waalaa antum ‘aabiduu nama a’ bud walaa ana’aa bindumma abattum, walaa antum a’ biduu namaa a’ bud’ berulang-berulang macam gasing, lupa bahwa ayat penutupnya adalah lakum dinukum waliyaadiin…

Sesungguhnya almarhum Pak Tjahyo Kumolo saat menjadi menteri pernah punya gagasan brilian. Dia bilang,
direalisasikan saja masing-masing pensiunan dapat uang pensiun 4 juta x 15 tahun (180 bulan). Lumayan: Rp720 juta. Setengah miliar lebih. Wow. Lebih dari cukup bagi para pensiunan untuk memulai modal bisnis kecil-kecilan sebagai enterpreneur di masa senja. Biarkan PT Taspen yang mengelola dana pensiun. Bu SM cukup mengawasi transparansi dan akuntabilitasnya, agar uang tabungan kami para pensiunan ini tidak malah dibisniskan dan dibungakan ke pihak lain. Ehm…
Catatan, Kamis 1 September 2022)

Exit mobile version