BATAM — Cahaya, warna, dan ornamen khas India mulai menghiasi sejumlah sudut pusat perbelanjaan di Batam. Menjelang perayaan Deepavali pada 8 November 2026, suasana Festival Cahaya itu menjadi peluang bagi kota industri ini untuk menarik lebih banyak wisatawan dari negara tetangga.
Di DC Mall Nagoya, misalnya, pernak-pernik bernuansa India mulai menghiasi area mal. Dekorasi tersebut menghadirkan suasana berbeda sekaligus memperlihatkan bagaimana perayaan budaya dapat menjadi daya tarik di luar agenda belanja.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, meninjau dekorasi Deepavali di sejumlah pusat perbelanjaan. Ia berharap pengelola mal ikut menyemarakkan perayaan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat Hindu sekaligus menyambut wisatawan mancanegara.
Peluang itu cukup terbuka. Singapura menetapkan Senin, 9 November 2026, sebagai hari libur pengganti Deepavali yang jatuh pada Minggu, 8 November. Kondisi ini membuka kesempatan bagi warga Singapura untuk menghabiskan waktu libur di Batam. Wisatawan dari Malaysia juga menjadi pasar potensial.
Ardiwinata menilai momentum tersebut perlu disambut dengan kreativitas pelaku industri pariwisata. Pengelola pusat perbelanjaan, menurut dia, dapat mengambil peran dengan menghadirkan suasana perayaan yang lebih kental.
“Kami mengajak teman-teman pengelola mal di Kota Batam untuk ikut menyemarakkan perayaan Deepavali dengan menghadirkan dekorasi bernuansa India. Misalnya, memasang ornamen khas India, lampu-lampu dekoratif, rangoli atau seni hias lantai, serta berbagai elemen visual yang identik dengan Festival Cahaya,” kata Ardiwinata.
Baginya, dekorasi tematik bukan sekadar urusan memperindah ruangan. Kehadiran ornamen, lampu, dan warna-warni khas India dapat menciptakan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Wisatawan bisa menikmati suasana, mengabadikan momen, lalu membagikannya melalui media sosial.
Promosi semacam itu berpotensi memperluas jangkauan pariwisata Batam. Pengalaman yang menarik kerap menjadi alasan wisatawan untuk kembali berkunjung atau merekomendasikan sebuah destinasi kepada orang lain.
“Kita ingin wisatawan yang datang ke Batam merasakan suasana yang meriah dan mendapatkan pengalaman menarik. Jangan sampai momentum libur seperti Deepavali ini berlalu begitu saja tanpa ada upaya bersama untuk menyambut wisatawan,” ujarnya.
Deepavali, yang juga dikenal sebagai Diwali, merupakan perayaan penting bagi umat Hindu, Sikh, dan Jain. Festival yang populer dengan sebutan Festival Cahaya ini mengandung filosofi tentang kemenangan terang atas gelap, kebaikan atas kejahatan, serta pengetahuan atas kebodohan.
Tradisi perayaannya lekat dengan penyalaan lampu minyak atau diya, rangoli, bunga, dan berbagai dekorasi berwarna cerah. Unsur-unsur tersebut bukan hanya memperkuat suasana perayaan, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Di Batam, keberagaman budaya sebenarnya memiliki ruang untuk berkembang menjadi kekuatan pariwisata. Kedekatan geografis dengan Singapura dan Malaysia membuat kota ini memiliki peluang untuk memanfaatkan berbagai momentum perayaan lintas negara.
Namun, peluang itu tidak cukup hanya dengan mengandalkan letak geografis. Daya tarik destinasi juga ditentukan oleh pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung. Pusat perbelanjaan, hotel, restoran, dan pelaku usaha pariwisata memiliki kesempatan untuk menghadirkan suasana yang membuat wisatawan merasa disambut.
Ardiwinata mengatakan pengembangan pariwisata tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Keterlibatan pengelola usaha dan masyarakat diperlukan agar setiap momentum perayaan dapat memberikan dampak lebih luas bagi sektor pariwisata.
“Pariwisata Batam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak. Dengan kreativitas dan kolaborasi, kita bisa menjadikan setiap momentum libur sebagai peluang untuk mempromosikan Batam dan meningkatkan kunjungan wisatawan,” katanya.
Bagi Batam, Deepavali bukan semata perayaan keagamaan yang berlangsung setiap tahun. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa keberagaman dapat dirawat sekaligus dihadirkan sebagai pengalaman wisata. Dari cahaya lampu dan dekorasi di pusat perbelanjaan, Batam berupaya menawarkan alasan lain bagi wisatawan untuk datang.***
