Oleh : Ady Indra Pawennari
Wakil Ketua Umum Pro Jurnalismedia Siber
Ada yang istimewa dari kunjungan Ketua Umum Pro Jurnalismedia Siber (PJS), Mahmud Marhaba, bersama istrinya, Wina Marhaba ke Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), Jumat (6/11/2026).
Di pulau yang sarat sejarah dan romantisme Melayu itu, keduanya mendadak menjadi sepasang pengantin baru. Lengkap dengan busana pengantin adat Melayu Kepri, Mahmud dan Wina didaulat bersanding di pelaminan Balai Adat Melayu Indera Perkasa.
Senyum bahagia tak mampu disembunyikan dari wajah keduanya. Ada binar kebahagiaan, ada tawa yang mengembang, dan ada kehangatan yang terpancar dari sepasang insan yang seolah sedang mengulang kembali kenangan indah masa-masa awal pernikahan mereka.
Tentu saja, ini bukan pernikahan sungguhan. Bukan pula Pulau Penyengat menjadi mas kawin dari Mahmud kepada Wina. Namun, ada kisah cinta berabad-abad silam yang membuat prosesi sederhana itu terasa begitu istimewa.
Pulau Penyengat dikenal sebagai Pulau Mas Kawin. Sebutan itu melekat karena pulau bersejarah tersebut pernah dihadiahkan oleh Sultan Mahmud Riayat Syah kepada permaisurinya, Engku Putri Raja Hamidah, sebagai mas kawin pada 1803.
Sebuah hadiah yang tidak biasa. Bukan emas, bukan permata, bukan pula hamparan kain sutra yang menjadi lambang cinta. Melainkan sebuah pulau yang kelak menjelma menjadi salah satu pusat penting peradaban Melayu di kawasan Kepulauan Riau.
Di tanah yang menyimpan jejak cinta dan kebesaran sejarah itulah Mahmud dan Wina kini merasakan pengalaman menjadi pengantin Melayu.
Dengan balutan busana adat bernuansa kuning keemasan, keduanya tampak begitu serasi. Mahmud mengenakan tanjak sebagai penutup kepala, lengkap dengan sebilah keris yang terselip di pinggang.
Penampilannya memancarkan wibawa seorang lelaki Melayu, sementara Wina tampil anggun dengan busana pengantin yang memperlihatkan keindahan tradisi dan kelembutan perempuan Melayu.
Ornamen pelaminan yang didominasi warna dan ragam hias khas Melayu semakin menyempurnakan suasana. Keduanya duduk bersanding, seolah waktu berputar kembali ke masa muda, ketika cinta pertama kali diikrarkan dan janji setia mulai ditautkan.
Tentu, ada perbedaan antara busana pengantin Melayu Kepulauan Riau yang mereka kenakan hari itu dengan pakaian adat Gorontalo yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pernikahan keduanya.
Namun, justru di situlah keindahannya. Cinta yang sama, tetapi dibalut dalam kekayaan budaya yang berbeda.
Suasana semakin meriah ketika pasangan pengantin dadakan itu diarak menuju pelaminan. Para wartawan peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III PJS yang ikut dalam rombongan tampak pangling. Sosok Ketua Umum yang biasanya tampil dalam suasana formal organisasi, kali ini terlihat begitu berbeda.
Senyum dan gelak tawa pun pecah di antara para wartawan peserta Rakernas yang bertindak sebagai tamu undangan pernikahan. Kamera ponsel berlomba-lomba mengabadikan momen langka tersebut.
“Selamat ya, Pak Ketum. Semoga bahagia dan langgeng hingga akhir hayat,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PJS, Amril Agin, disambut senyum dan tawa tamu lainnya.
Ucapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di tengah suasana adat yang kental, ada doa tulus yang terselip, semoga cinta yang telah mereka rawat selama ini senantiasa tumbuh, menguat, dan menua bersama.
Usai prosesi bersanding, Mahmud dan Wina melayani sesi foto bersama dengan para peserta Rakernas III PJS yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia.
Beragam pose tercipta. Ada yang formal, ada pula yang penuh canda. Semuanya berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kegembiraan.
Pulau Penyengat hari itu bukan sekadar menjadi destinasi wisata sejarah. Ia menjelma menjadi panggung kenangan, tempat sebuah keluarga merayakan cinta, sekaligus tempat para insan pers dari berbagai penjuru Nusantara mengenal lebih dekat kekayaan adat dan budaya Melayu Kepulauan Riau.
Di balik senyum pengantin Melayu itu, tersimpan pula pesan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu yang dipajang di museum atau dikenang dalam buku sejarah. Kebudayaan adalah kehidupan yang terus dirawat, diperkenalkan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi Mahmud Marhaba, pengalaman tersebut tentu menjadi salah satu kenangan paling berkesan selama mengikuti rangkaian kegiatan Rakernas III PJS di Batam, Kepulauan Riau.
Setelah prosesi adat dan sesi foto bersama berakhir, Mahmud tak lupa menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau serta Badan Pengusahaan (BP) Batam yang telah memberikan dukungan terhadap suksesnya pelaksanaan Rakernas III PJS.
“Alhamdulillah, pelaksanaan Rakernas III PJS di Batam berjalan sukses berkat dukungan Gubernur Kepri dan Kepala BP Batam. Terima kasih untuk keduanya. Terima kasih juga secara khusus kepada Sekda Kepri, Ibu Misni, yang terus mengawal rangkaian kegiatan Rakernas di Batam hingga ke Pulau Penyengat,” kata Mahmud.
Baginya, dukungan tersebut bukan sekadar bentuk fasilitasi terhadap sebuah agenda organisasi. Lebih dari itu, merupakan wujud persahabatan, penghormatan, dan keterbukaan Pemerintah Daerah serta BP Batam dalam menyambut insan pers dari berbagai penjuru Indonesia.
Rakernas III PJS mungkin telah usai. Namun, kenangan tentang Batam, keramahan masyarakat Melayu, dan pengalaman menjadi pengantin di Pulau Mas Kawin akan tetap tersimpan dalam ingatan.
Sebab, tidak setiap hari seorang Ketua Umum organisasi wartawan berkesempatan menjadi pengantin Melayu di sebuah pulau yang pernah menjadi mas kawin seorang sultan untuk permaisurinya.
Dan di Pulau Penyengat, di antara jejak sejarah Sultan Mahmud dan Engku Putri Raja Hamidah, Mahmud Marhaba dan Wina pulang membawa cerita tentang cinta yang dibalut budaya, serta persahabatan yang dirajut dalam suasana penuh kekeluargaan.***
