BATAMCLICK.COM — Di sebuah ruangan yang hangat oleh semangat persaudaraan, para tokoh dan perwakilan ormas Islam se-Kota Batam berkumpul dalam Rapat Koordinasi (Rakor) yang sarat makna. Mereka duduk bersama, saling berbagi cerita dan gagasan, demi satu tujuan: menenun sinergi umat Islam yang lebih erat dan bermartabat.
Salah satu yang hadir adalah Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kota Batam, yang dipimpin langsung oleh H. Buralimar. Dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, Bur — demikian beliau biasa disapa — menuturkan bahwa Rakor ini bukan sekadar forum diskusi. “Ini adalah ruang reflektif sekaligus akseleratif,” katanya. “Sebuah panggung bagi kita semua untuk menyatukan langkah, merumuskan visi, dan mengukuhkan niat mengangkat derajat umat Islam di Batam.”
Dalam suasana yang hangat namun penuh muatan intelektual, para pimpinan ormas Islam menyadari bahwa selama ini mereka kerap berjalan sendiri-sendiri, tanpa satu narasi besar yang memayungi. Padahal, Batam, dengan populasi Muslim yang mencapai 900 ribu jiwa, sesungguhnya memiliki potensi sosial dan spiritual yang luar biasa. “Kalau tidak kita kelola bersama, potensi besar ini hanya akan menjadi angka, tanpa makna,” tutur Bur lirih.
Rakor ini menjadi panggung bagi harapan baru. Para peserta sepakat bahwa umat Islam Batam harus membangun aksi kolektif, dengan narasi bersama dan donasi yang bukan hanya soal uang, tetapi juga ilmu, gagasan, dan kepedulian. “Kita perlu hadir nyata dalam menjawab persoalan umat: kemiskinan, pengangguran, akses pendidikan, hingga kesenjangan antara daratan dan kepulauan,” kata Bur.
Narasi keummatan yang lahir dari Rakor ini dirumuskan untuk menjadi jembatan: antara idealisme dakwah dan kebutuhan riil masyarakat. Sebuah narasi yang akan menggema dari mimbar-mimbar khutbah, ruang-ruang diskusi kampus, hingga media sosial. “Jangan sampai ormas Islam hanya sibuk dengan urusan internal,” kata seorang peserta Rakor. “Kita harus keluar dari tempurung sempit itu, menatap umat dengan penuh cinta dan keikhlasan.”
Salah satu yang ditekankan dalam forum ini adalah bagaimana membangun kesadaran akan pentingnya donasi dalam arti luas. Donasi yang bukan hanya harta, tapi juga keahlian, buku, ide kreatif, dan inovasi ekonomi. “Kita harus membangun ekonomi umat yang kokoh, misalnya koperasi syariah, yayasan profesional, atau unit usaha produktif yang dikelola secara amanah,” kata Bur.
Namun, tantangan zaman juga tak kalah besar. Bur mengingatkan bahwa umat Islam dihadapkan pada propaganda dan hegemoni pemikiran dari kekuatan luar. “Mereka membangun pengaruh lewat tiga hal utama: pendidikan, kesehatan, dan media,” tegasnya. “Kita harus menjawab ini dengan membangun lembaga pendidikan sendiri, rumah sakit sendiri, dan media sendiri — semua dikelola dengan nilai-nilai Islam.”
Media sosial pun menjadi sorotan. “Jangan hanya jadi ruang hiburan atau kontroversi,” serunya. “Manfaatkan Facebook, Instagram, TikTok sebagai sarana dakwah kreatif yang mendidik dan memberdayakan.”
Dari Rakor ini, lahir sebuah gagasan besar: pembentukan lembaga induk yang menaungi semua ormas Islam di Batam. Lembaga yang tidak sekadar menjadi simbol, tetapi benar-benar memiliki visi jangka panjang dan program nyata. Sinergi ini akan menjadi tali pengikat kekuatan umat, merajut kembali asa yang sempat tercerai.
Di akhir Rakor, suasana penuh optimisme. Para peserta membentuk tim kerja kecil yang akan menyusun peta jalan gerakan bersama. “Ini bukan hanya kertas dan tinta,” kata Bur. “Tapi komitmen yang akan kita bawa dari masjid ke masjid, dari pulau ke pulau, dari hati ke hati.”
Dengan semangat ini, Rakor Ormas dan Lembaga Islam se-Kota Batam bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah tonggak awal kebangkitan. Kebangkitan yang tidak lagi menggantungkan harapan pada segelintir tokoh, melainkan pada kesadaran kolektif umat bahwa hanya dengan bersatu dan bekerja sama, Islam akan kembali berjaya di bumi Batam.(Dede)









