Bappeda identifikasi risiko pembangunan pengolahan air limbah

BATAMCLICK.COM : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Pontianak mulai melakukan identifikasi risiko membangun sarana dan prasarana Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) di dua titik di Kota Pontianak.

“Kami melibatkan berbagai pihak untuk mengidentifikasi potensi risiko SPALD-T. Para pihak telah diundang dan kiranya dapat memberikan masukan dan saran melalui forum diskusi terfokus yang dilaksanakan,” ujar Kepala Bappeda Kota Pontianak Sidig Handanu di Pontianak, Sabtu.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan sarana dan prasarana SPALD-T tersebut bagian dari strategi kampanye publik untuk pelaksanaan Citywide Inclusive Sanitation Project (CISP). Supaya program berjalan baik langkah awal identifikasi potensi risiko menjadi penting.

BACA JUGA:   Prabowo-Puan Juarai Sejumlah Survey Capres-Cawapres

“Dengan mengidentifikasi potensi risiko yang terjadi berbagai kemungkinan bisa dicari alternatif solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian, harapannya strategi kampanye publik ke masyarakat dapat berhasil dan dapat meraih dukungan dari seluruh pihak demi berjalannya pelaksanaan program tersebut.

“Kita baru di tahap wawancara untuk mengetahui potensi risiko atau mengidentifikasi kemungkinan yang akan terjadi pada tahap pra konstruksi, saat konstruksi. Ujung dari ini adalah dukungan dari masyarakat terhadap program sanitasi, jadi tidak hanya proyek, tapi program sanitasi,” papar dia.

Ia menekankan bahwa program tersebut sangat penting untuk disukseskan oleh semua pihak. Menurutnya, sanitasi merupakan hal mendasar yang diperlukan masyarakat. Sehingga kualitas sanitasi harus baik untuk mendukung tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara umum.

BACA JUGA:   Bhikkuni ajak semua umat dukung pemimpin baru demi kemajuan bersama

“Sanitasi termasuk air bersih itu memang pelayanan dasar yang harus ada. Hal itu merupakan sektor yang mendasar. Derajat kesehatan masyarakat itu akan baik bilamana air bersihnya tersedia, sanitasinya dikelola dengan baik,” katanya.

Demikian pula perilaku, masyarakat mau memanfaatkan itu. Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui lingkungan atau faktor-faktor perilaku yang berpengaruh terhadap penyakit itu bisa diminimalisir atau bahkan tidak terjadi.

“Jadi keterlibatan masyarakat terhadap program ini sangat penting, baik dari awal pra konstruksi hingga selesai dan seterusnya,” kata dia.

Sumber : Antara