Kemenekraf Dorong Talenta Radio dan Podcast Batam Menembus Pasar Digital

Batamclick.com,
Mikrofon kini bukan satu-satunya pintu bagi penyiar untuk menjangkau pendengar. Di era digital, suara bisa melintasi batas melalui layanan streaming, podcast, dan media sosial. Perubahan itu membuka peluang baru bagi talenta kreatif, sekaligus menuntut kemampuan komunikasi yang semakin terasah.

Peluang tersebut menjadi perhatian Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) melalui workshop Public Speaking dan Teknik Hosting pada Media Digital di Angkringan Tepi Danau, Kota Batam, Kepulauan Riau, Minggu, 18 Oktober 2026. Kegiatan yang diikuti 50 peserta dari kalangan penyiar radio, podcaster, mahasiswa, dan masyarakat kreatif itu bertujuan memperkuat keterampilan komunikasi sekaligus membuka jalan bagi pengembangan karier di industri media digital.

Workshop tersebut digelar melalui Program Aktivasi Creative Hub Subsektor Televisi dan Radio, Direktorat Televisi dan Radio, Deputi Bidang Kreativitas Media. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju World Conference on Creative Economy (WCCE) pada 21–23 Oktober 2026 dan peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober 2026.

Namun, pengembangan talenta tidak cukup berhenti pada pelatihan. Keterampilan yang diperoleh perlu diterjemahkan menjadi karya, jaringan profesional, hingga peluang pendapatan.

Direktur Televisi dan Radio Kemenekraf, Radi Manggala, mengatakan penguatan kapasitas harus berjalan seiring dengan kebutuhan industri dan peluang usaha. Menurut dia, pelatihan perlu memberikan manfaat yang bisa diterapkan peserta dalam pekerjaan maupun pengembangan karya.

“Penguatan talenta tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Yang ingin kami dorong adalah bagaimana keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam pekerjaan, pengembangan karya, dan penciptaan peluang ekonomi,” ujar Radi.

Ia menilai kemampuan berkomunikasi, membawakan program, dan mengembangkan konten menjadi modal penting bagi talenta radio dan podcast untuk menghadapi perubahan industri media. Momentum WCCE dan Hari Ekonomi Kreatif Nasional, kata dia, juga mengingatkan bahwa penguatan ekonomi kreatif perlu dimulai dari talenta dan potensi daerah.

## Dari Mikrofon ke Peluang Ekonomi

Perkembangan media digital mengubah cara orang memproduksi sekaligus menikmati konten. Radio kini dapat menjangkau audiens melalui siaran konvensional, layanan streaming, dan media sosial. Sementara itu, podcast memberi ruang bagi kreator untuk membangun komunitas, mengembangkan identitas konten, serta menjajaki kerja sama dengan merek dan penyedia jasa produksi.

Perubahan tersebut membuat kemampuan berbicara saja tidak lagi cukup. Seorang penyiar atau host perlu memahami karakter audiens, menyampaikan pesan secara efektif, dan menjaga interaksi agar konten tetap menarik. Kemampuan itu juga dapat memperkuat portofolio ketika mereka mencari pekerjaan, menawarkan jasa profesional, atau membangun usaha berbasis konten.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, workshop menghadirkan Ricky Rahim dan Egard Dewo sebagai narasumber. Peserta mempelajari dasar-dasar public speaking, teknik menjadi host di media digital, pengembangan komunikasi, serta cara membangun interaksi dengan audiens. Panitia juga memberikan sesi praktik dan simulasi agar peserta dapat menguji keterampilan yang mereka pelajari.

Ricky Rahim menekankan bahwa menjadi host bukan sekadar berbicara di depan mikrofon atau kamera. Seorang host perlu memahami siapa yang mendengarkan, bagaimana menyampaikan pesan, dan karakter apa yang ingin dibangun melalui konten.

“Kemampuan hosting bukan sekadar berbicara di depan mikrofon atau kamera. Seorang host perlu menyampaikan pesan dengan jelas, membangun interaksi, memahami audiens, dan memiliki karakter yang kuat,” ujarnya.

Menurut Ricky, keterampilan tersebut dapat menjadi modal profesional untuk mengembangkan konten, membuka peluang kolaborasi, dan memperoleh pekerjaan di berbagai platform digital.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, juga menyoroti pentingnya kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam memperluas akses pengembangan kapasitas bagi talenta lokal.

“Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat dalam mengembangkan potensi kreatifnya,” kata Ardiwinata.

Ia berharap kegiatan serupa dapat memperkuat kompetensi generasi muda, memperluas jejaring, dan melahirkan talenta lokal Batam yang mampu memanfaatkan peluang industri kreatif digital.

## Survei Mengukur Peluang

Manfaat pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir. Kemenekraf juga mengevaluasi sejauh mana keterampilan yang diperoleh berpotensi digunakan untuk mengembangkan usaha, memperluas jejaring, dan meningkatkan penghasilan.

Berdasarkan survei evaluasi terhadap 42 peserta, sebanyak 78,6 persen melihat peluang untuk menggunakan keterampilan yang diperoleh dalam mempromosikan produk atau jasa ekonomi kreatif lokal.

Selain itu, 85,7 persen peserta menyatakan workshop sangat membantu atau membantu mereka memperluas jejaring dengan pelaku radio, podcaster, host, dan pelaku ekonomi kreatif lainnya.

Dari sisi ekonomi, 83,3 persen peserta menilai keterampilan yang diperoleh sangat berpotensi atau berpotensi meningkatkan penghasilan.

Angka-angka tersebut menunjukkan adanya peluang bagi peserta untuk menerapkan hasil pelatihan dalam aktivitas profesional. Namun, penilaian mengenai potensi peningkatan pendapatan belum dengan sendirinya membuktikan bahwa penghasilan peserta benar-benar meningkat. Dampak tersebut masih perlu ditelusuri melalui evaluasi lanjutan.

Karena itu, Kemenekraf mendorong agar program pengembangan talenta tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Peserta diharapkan menerapkan keterampilan dalam produksi konten, membangun portofolio, menjajaki kolaborasi, dan mengembangkan jaringan profesional.

Ke depan, evaluasi program juga diarahkan pada penerapan kompetensi, akses terhadap pekerjaan atau proyek, serta peluang peningkatan pendapatan yang dapat ditelusuri melalui data pendukung.

Pendekatan tersebut menjadi penting untuk menghubungkan pelatihan dengan kebutuhan nyata industri. Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada banyaknya peserta atau terlaksananya kegiatan, tetapi juga pada kemampuan talenta mengubah pengetahuan menjadi karya dan peluang usaha.

Melalui penguatan ekosistem Creative Hub 2026, Kemenekraf berharap talenta, komunitas, pemerintah daerah, dan pelaku industri dapat membangun ekosistem media yang lebih adaptif dan kolaboratif. Dengan dukungan tersebut, subsektor televisi dan radio diharapkan mampu memperluas kesempatan kerja, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kontribusinya terhadap ekonomi kreatif nasional.