BATAMCLICK.COM — Batam Travel Mart 2026 menjadi salah satu upaya memperkuat posisi Batam sebagai pintu masuk utama pariwisata Kepulauan Riau. Hingga Agustus 2026, sekitar 85 persen dari total 1,4 juta kunjungan wisatawan ke Kepri tercatat di Batam. Tantangannya, bagaimana mendorong wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di provinsi kepulauan ini.
Pameran yang berlangsung di Atrium Mega Mall Batam Centre pada 15–18 Oktober 2026 itu resmi dibuka pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kepala Dinas Pariwisata Kepri Hasan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam Ardiwinata, serta Ketua DPD ASITA Kepri Eva Betty membuka kegiatan tersebut dengan pemukulan kompang.
Sejak hari pertama, pengunjung mulai memadati area pameran untuk mencari informasi perjalanan, membandingkan paket wisata, dan berburu promosi dari pelaku industri pariwisata. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian ASITA Kepri Travel Mart 2026 yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon wisatawan dan mitra bisnis.
Kepala Dinas Pariwisata Kepri Hasan mengatakan, Batam memiliki posisi strategis sebagai hub pariwisata Kepulauan Riau. Infrastruktur dan aksesibilitas Batam dapat menjadi modal untuk mengalirkan wisatawan ke Bintan, Tanjungpinang, Karimun, serta destinasi lain di Kepri.
“Batam harus menjadi hub-nya wisatawan. Artinya, Batam menjadi pintu gerbang utama yang nantinya bisa menyebar ke destinasi-destinasi lain di Kepulauan Riau,” kata Hasan.
Menurut dia, pemerintah tidak bisa mengembangkan pariwisata hanya dengan mengandalkan promosi satu daerah. Pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha perlu menyusun strategi bersama, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menyediakan informasi perjalanan yang memudahkan wisatawan menjelajahi lebih banyak destinasi.
Hasan berharap kolaborasi melalui Batam Travel Mart dan kegiatan promosi lainnya dapat membantu Kepri mencapai target 2,7 juta kunjungan wisatawan. Namun, besarnya kunjungan ke Batam juga menjadi peluang untuk memperluas distribusi wisatawan ke daerah lain.
Membangun Citra Positif Pariwisata
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam Ardiwinata menilai promosi pariwisata tidak cukup hanya dengan menawarkan destinasi dan paket perjalanan. Pelaku industri juga perlu membangun narasi positif yang dapat menumbuhkan kepercayaan wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Sebagai pelaku pariwisata Kepri, mari kita bangun narasi-narasi yang membuat wisatawan domestik dan mancanegara sangat ingin berkunjung ke provinsi dan pulau-pulau di Kepulauan Riau,” ujar Ardiwinata.
Ia mengatakan, komunikasi publik ikut membentuk citra sebuah destinasi. Karena itu, setiap persoalan yang muncul perlu dijelaskan secara proporsional dengan informasi akurat dan keterangan mengenai langkah penanganannya.

Ardiwinata mencontohkan isu kabut asap dan gangguan listrik yang sempat menjadi perhatian masyarakat. Menurut dia, informasi mengenai kondisi sebenarnya di lapangan perlu disampaikan secara jelas agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh dan tidak langsung menggeneralisasi persoalan tersebut terhadap seluruh destinasi wisata di Kepri.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Batam juga mendorong pengembangan sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Sektor ini dinilai memiliki peluang untuk mendatangkan wisatawan sekaligus menggerakkan kegiatan bisnis dan ekonomi lokal.
Ardiwinata mengatakan, peningkatan pariwisata masuk dalam 15 program prioritas Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia. Melalui pengembangan MICE, Batam diharapkan semakin banyak menjadi tuan rumah pertemuan bisnis, simposium, seminar, dan pameran.
Kegiatan tersebut juga membuka peluang transaksi antarpelaku usaha melalui skema business-to-business (B2B) dan memperluas pasar melalui business-to-consumer (B2C).
Ia berharap Batam Travel Mart tidak berhenti sebagai ajang promosi selama empat hari. Pameran itu diharapkan menjadi ruang bagi pelaku industri untuk memperluas jaringan, menyusun paket perjalanan lintas daerah, dan membangun kerja sama yang berkelanjutan.
Mempertemukan Buyer dan Seller
Ketua DPD ASITA Kepri Eva Betty mengatakan, penyelenggaraan ASITA Kepri Travel Mart 2026 mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata. Ia mengapresiasi kehadiran Hasan dan Ardiwinata dalam pembukaan acara, serta partisipasi peserta dan kerja panitia.
“Saya juga menyampaikan terima kasih pada peserta yang telah ikut berpartisipasi dan tentu pada teman-teman panitia yang telah bekerja keras menyiapkan acara ini,” kata Eva.
ASITA Kepri Travel Mart 2026 mengusung dua agenda utama, yakni B2C dan B2B. Agenda B2C berlangsung melalui pameran wisata di Mega Mall Batam Centre pada 15–18 Oktober 2026. Pesertanya berasal dari berbagai sektor, mulai dari perhotelan, biro perjalanan, pengelola destinasi wisata, hingga komunitas golf.
Adapun agenda B2B dirancang untuk mempertemukan buyer dan seller dari industri pariwisata. Penyelenggara menargetkan sekitar 100 peserta dari dalam dan luar negeri untuk membuka peluang kemitraan dan memperluas pasar.
Melalui dua agenda tersebut, ASITA Kepri ingin memperkuat promosi destinasi unggulan, memperluas jejaring bisnis, dan mendorong kerja sama antarpelaku industri.
Bagi Kepri, tantangan berikutnya bukan semata-mata mendatangkan wisatawan, melainkan membuat mereka tinggal lebih lama, mengunjungi lebih banyak pulau, dan membelanjakan uangnya di berbagai daerah. Batam Travel Mart menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kepentingan tersebut, dengan harapan pertumbuhan pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di satu kota.(bos)










