Diskum Batam ingatkan UMKM pertahankan kualitas produk

Batamclick.com,
Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskum) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mengingatkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk tetap mempertahankan kualitas produk di tengah kenaikan harga bahan baku.

Kepala Diskum Kota Batam Salim mengatakan kenaikan harga barang memang memberikan tekanan terhadap biaya produksi UMKM.

“Kami selalu menekankan kepada kawan-kawan UMKM jangan mengurangi kualitas produknya. Misalnya selama ini memakai lima butir telur, jangan karena harga bahan baku naik kemudian dikurangi menjadi empat. Itu akan berpengaruh terhadap rasa dan kepuasan pelanggan,” kata Salim saat dikonfirmasi di Batam, Selasa.

Ia menilai kualitas produk harus tetap menjadi prioritas agar pelanggan tidak beralih ke produk lain.

Menurutnya, apabila biaya produksi meningkat, pelaku UMKM lebih baik melakukan penyesuaian pada ukuran atau porsi produk.

“Harga mungkin tetap, tetapi ukurannya bisa sedikit diperkecil. Yang penting rasa dan kualitasnya tetap dipertahankan. Konsumen sudah mengenal produk itu karena rasanya. Kalau rasanya berubah, mereka bisa berpindah ke produk lain,” ujarnya.

Di sisi pemasaran, Salim menyebut perkembangan UMKM Batam juga terus menunjukkan hasil positif.

“Saat ini, sebanyak 12 produk UMKM binaan telah berhasil masuk ke jaringan ritel modern di kawasan K-Square, One Batam Mall, dan Uniqlo Batam,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui kenaikan harga berbagai kebutuhan produksi tetap menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha.

Menurutnya, produk kerajinan seperti batik diperkirakan menjadi salah satu yang paling terdampak karena sebagian besar proses produksinya masih dilakukan secara manual.

“Produk batik memang relatif lebih mahal karena masih handmade. Bahan bakunya juga tidak mudah didapat, ditambah biaya kemasan ikut naik. Kalau memang harus berhemat, mungkin kemasannya yang disesuaikan, misalnya menggunakan plastik yang lebih tipis, tetapi tetap aman dan tidak mengurangi kualitas produk,” katanya.

Salim mengakui pihaknya seiring menerima keluhan dari pelaku UMKM terkait kenaikan biaya produksi yang dipengaruhi kondisi ekonomi global dan nilai tukar dolar, mengingat banyak bahan baku di Batam bergantung pada harga internasional.

“Memang ada keluhan. Apa-apa sekarang naik. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global. Apalagi di Batam banyak harga yang dipengaruhi dolar,” ujarnya.

Saat ini Diskum Batam membina sekitar 4.000 UMKM, dimana untuk mendukung permodalan, pemerintah juga menjalankan program pinjaman modal usaha hingga Rp20 juta bekerja sama dengan perbankan.

“Sekarang ada 22 pelaku UMKM yang mendapat pinjaman melalui Bank BTN, dengan satu diantaranya telah melunasi pinjaman. Sementara melalui BRK Syariah, sebanyak enam pelaku UMKM telah menyelesaikan proses akad pembiayaan,” kata dia.

Program tersebut diharapkan dapat membantu UMKM memperkuat usaha, tanpa harus mengorbankan kualitas produk.

Sumber, Antara

Exit mobile version