WASPADA Malaria di Batam Meningkat Tajam, Satu Gigitan Mengubah Segalanya

Malaria di Batam mengkhawatirkan
Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi

Malaria di Batam melonjak tajam akibat aktivitas pembangunan resor, memicu kekhawatiran baru tentang penyebaran penyakit menular di daerah yang sebelumnya tidak endemik

Suasana pembangunan resor di Pulau Galang, Kota Batam, mungkin tampak menjanjikan secara ekonomi. Namun di balik hiruk pikuk proyek wisata itu, malaria di Batam perlahan bangkit dari tidur panjangnya. Dalam enam bulan pertama tahun 2025 saja, Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat 196 kasus malaria—angka yang melambung jauh dari tahun sebelumnya yang hanya 69 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menyebut lonjakan ini berawal dari kasus impor—yakni kasus malaria yang dibawa oleh para pekerja dari luar daerah endemis. Namun yang mengkhawatirkan, penularan kemudian berkembang menjadi kasus indigenous, atau penularan lokal yang terjadi di lingkungan setempat.

“Awalnya dibawa oleh pekerja dari wilayah endemis. Tapi kemudian menular ke sesama pekerja di sini, dan itu yang membuat kami lebih waspada,” jelas Didi saat dihubungi, Ahad.

Dari Satu Kasus Impor, Menjadi Ledakan Penularan Lokal

Menurut Didi, penularan malaria dibedakan dalam tiga kategori. Pertama, kasus impor, yakni pasien tertular saat berada di luar Batam. Kedua, introduce, yaitu kasus yang muncul di daerah non-endemis karena adanya warga yang terinfeksi dari luar. Terakhir, indigenous, yaitu penularan murni dari dalam daerah, yang menunjukkan nyamuk pembawa parasit sudah beredar di lingkungan sekitar.

Data dari Dinas Kesehatan mencatat, sejak 2021 hingga 2023, kasus malaria di Batam masih tergolong rendah dan sebagian besar merupakan kasus impor. Tahun 2021 tercatat 5 kasus, 2022 ada 14 kasus, dan 2023 hanya 17 kasus. Namun, tahun 2024 mencatat lonjakan signifikan menjadi 69 kasus, dengan rincian 12 impor dan 57 introduce. Tahun ini, lonjakan lebih mengejutkan lagi: 196 kasus indigenous, artinya penularan sudah terjadi secara lokal dan meluas.

Gerak Cepat Dinkes Batam Menahan Laju Nyamuk Pembawa Parasit

Melihat situasi yang mengkhawatirkan ini, Dinas Kesehatan Batam langsung mengambil langkah cepat. Mereka melakukan fogging, larvasidasi, dan penyemprotan insektisida dalam ruangan (IRS) di area-area terdampak. Tak hanya itu, pihaknya juga menggelar gotong royong membersihkan lingkungan, mendistribusikan kelambu, serta menyampaikan edukasi kepada warga dan para pekerja proyek.

“Kami fokus ke pengendalian vektor, yaitu nyamuk sebagai penyebar malaria. Karena selama ini nyamuk pembawa malaria tidak aktif di Batam. Tapi sekarang kondisinya berubah,” jelas Didi.

Peran Masyarakat Jadi Tembok Pertahanan Terdepan

Didi mengimbau masyarakat agar tidak lengah. Ia menyarankan warga untuk memasang kawat kasa di jendela dan ventilasi, menggunakan kelambu saat tidur, mengenakan pakaian lengan panjang terutama saat malam, serta mengoleskan lotion antinyamuk secara rutin.

Menurutnya, pencegahan berbasis masyarakat menjadi kunci dalam menghentikan penyebaran. Karena hanya dengan keterlibatan semua pihak, bisa menekan ancaman malaria sebelum terlambat.

Langkah Kecil, Dampak Besar

Satu gigitan nyamuk bisa membawa penyakit mematikan. Namun, satu langkah kecil seperti memakai kelambu, membersihkan genangan air, atau menyemprot insektisida, bisa menyelamatkan nyawa. Malaria di Batam bukan lagi sekadar angka dalam laporan, tetapi kenyataan yang mengintai dari balik dinding rumah hingga tenda proyek.

Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, Batam bisa kembali bersih dari malaria—dan pembangunan bisa berjalan beriringan dengan kesehatan warganya.

Penulis: kantor berita antaraEditor: papidedy