Menakar Olahraga dan Pariwisata (Kolom Buralimar)

Pensil: Pensiun Usil

Kita sering mendengar istilah “ mens sana in corpore sano”, sebuah ungkapan yang diucapkan seorang pujangga Romawi bernama Decimus Lunius Juvenalis dalam karyanya Satire X, abad ke-2 sebelum masehi.

Terjemahan sehari-hari kurang lebih diartikan “ dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat “, walaupun ada pendapat bahwa arti sebenarnya bukan itu, tapi tak apalah kita terima saja karena bagus terjemahnya, mirip-mirip bahasa melayu, ada kata sana dan sano hehehe..dan nama pencetusnya mirip-mirip dikit dengan nama orang kita ada mus, nius, lis.

Pada perkembangannya ungkapan ini diinggriskan jadi “ a healthy mind, in healthy body”.

Kita juga memiliki tagline atau slogan “ memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat “ yang didengungkan oleh mantan Menteri olahraga Abdul Gafur pada Hari Olahraga Nasional pertama, 9 September 1981. Almarhum Bung Abdul Gafur lah yang merintis lahirnya Haornas tersebut.

Begitulah hebatnya olahraga sejak dulu sampai kini, jadi perhatian semua negara tak terkecuali Indonesia.

Olahraga berkembang seiring zaman, dengan segala macam fenomenanya. Di samping olahraga prestasi di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia ( KONI ), juga ada olahraga masyarakat ( sebelumnya disebut olahraga rekreasi masyarakat) di bawah naungan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) dulu bernama FORMI ( Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia.

Olahraga pada awalnya dimaksudkan prestasi dan prestise semata, dapat prestasi diakui dan dapat prestise nama yang top dan kepuasannya disitu. Namun pada gilirannya olahraga tidak semata itu saja. Paradigma untuk prestasi dan prestise bergeser menjadi lahan bisnis yang menghasilkan income baik untuk negara, daerah, panitia, pemain dan pelatih.

Pada giliranya olahraga menjadi lahan politik hhehe..kita tak bahas yang ini, cukup sama- sama tahu saja. Olahraga juga menjadi lahan pertaruhan (judi) baik di luar maupun di dalam lapangan, tapi ada juga yang ngeles bukan judi tapi sekedar taruhan saja iseng-iseng berhadiah, habis hepeng timbul marah..hahahaha. Inipun tak kita bahas, cukup disini saja.

Pergeseran olahraga ke sektor bisnis, di satu sisi positif namun di sisi lain menimbulkan efek negatif, seperti menjamurnya mafia sepakbola misalnya, pengaturan skor, sogok wasit, kecurangan, jual beli pemain yang kadang tidak masuk akal duit transfernya.

Ada pemain sepakbola nilai transfernya sampai triliunan, mengalahkan anggaran pendapatan suatu kabupaten kota bahkan provinsi.

Entah buaya entah biawak, entah iya entah tidak yang membuat kita terkagum-kagum, geleng-geleng, angguk-angguk …dan teriakan waaw, walau kadang-kadang kita tak mengerti juga, pokoknya waaw gitu lho.

Sebetulnya istilah lazim itu” entah buaya entah katak”, saya ganti kataknya dengan biawak, karena tidak seimbang buaya dengan katak, imbangannya biawak, yang penting pantunnya tetap nyambung.

Lagipula biawak sekarang sedang trend, seperti jenis biawak komodo di Taman Nasional Komodo di Provinsi NTT yang harga tiketnya sempat naik melambung, mengalahkan harga tiket pesawat, atau mengalahkan harga BBM. Namun harga tersebut ditunda katanya, harga tiket masuk ke Taman Komodonya ya, bukan harga BBM hehehe..

Era olahraga saat ini ya memang mau tak mau goalnya bisnis dengan segala side effect, multiple down effect, spread effect, pokoknya ada effect gitu.

Suka atau tak suka olahraga bergeser, biar keren kita tulisnya inggrisnya sport paradigm shift (pergeseran paradigma olahraga).

Berlomba menjadi tuan rumah event olahraga sudah menjadi biasa, baik single event maupun multi event. Masing-masing negara berlomba menjadi tuan rumah, multi event seperti olimpiade yang empat tahun sekali, sudah ditetapkan (baca ditunjuk berdasarkan presentasi dan lobby tentunya).

Tahun 2024 Perancis tuan rumahnya, 2028 Amerika tuan rumah, 2032 Australia. Untuk 2036 akan diumumkan nanti, katanya Indonesia berniat jadi tuan rumah, semoga. Indonesia bisa asal persiapan betul-betu matang dan siapapun pemimpinya nanti melanjutkan niat baik ini.

Karena ganti pemimpin ganti target, ganti selera, kadang gengsi untuk mengakui atau melanjutkan kebijakan pendahulu.hehe..ya begitulah.

Luar biasa memang event olahraga, itu baru multi event, belum lagi single event atau masing-masing cabang olahraga yang juga bikin event tersendiri.

Tak terkecuali juga dalam negeri, olahraga multi event seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 sudah ditetapkan tuan rumahnya Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara.

Tahun 2028 tuan rumahnya Provinsi NTB, dan untuk 2032 masing-masing provinsi berminat. Hitungan dari sekarang, 2032 itu 10 tahun lagi, jika ada gubernur yang mengusulkan sekarang, dapat dipastikan dia tidak akan merasakan sebagai tuan rumah karena jabatan gubernur paling dua periode, paling berdoa agar penggantinya meneruskan niat dan animo jadi tuan rumah tersebut.

Olahraga dengan perspekstif bisnis menggiurkan, mendatangkan devisa, ekonomi bangkit, kebanggaan daerah, masyarakat pasti merasakan dampak positifnya, hotel penuh, restoran laris, angkutan bergerak dinamis, bahkan kota penyelenggaraan macet. Soal macet ini, ada kawan di Kemenparekraf RI mengatakan bahwa makin macet suatu kota, makin dinamis tingkat pertumbuhan ekonomi kota tersebut. Artinya makin senang orang datang ke kota tersebut. Nampak geliat suatu kota itu, katanya.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan dari olahraga tersebut sejalan (inline) dengan pariwisata , sebab pariwisata sebagaimana diketahui menimbulkan dampak positif suatu daerah (kita bicara daerah saja ya, karena bicara negara terlalu tinggi dan bapak-bapak kita di atas pintar- pintar dari kita, katanya begitu).

Pariwisata bergandeng erat dengan olahraga, atau olahraga bermesraan dengan pariwisata, bahasa seharian disebut sport tourism. Olahraga dimodifikasi bukan hanya sebagai lomba prestasi semata, tapi ada nomor-nomor lomba untuk sekedar happy gembira bikin enjoy.

Kalau ini disadari bahwa olahraga ke depan tidak berorientasi lomba belaka tapi juga menghibur, maka mungkin suatu saat olaharag masyarakat seperti lomba tradisional ciri khas suatu daerah akan berkembang dan mengalahkan olahraga prestasi.

Sport tourism selama ini sudah menjadi andalan provinsi Kepulauan Riau, banyak event-event olahraga yang disajikan oleh wisata olahraga tersebut, seperti lomba lari, marathon, sepeda, dan olahraga air layar, power boating ,jetski dan lainnya apalagi kita punya wilayah perairan yang terluas, baik skala lokal, nasional maupun internasional. Ini tentunya tergantung manajemen cabang olahraganya, mau dikemanakan dan mau diapakan, supaya jangan apakali dia…hahahaha.

Beberapa event sport turism (wisata olahraga) di Kepri menjadi andalan nasional dan bahkan ada selama 5 tahun terakhir masuk dalam calendar of events (COE) , namun tahun 2022 semua event sport tourism dikeluarkan dari CoE nasional, prioritas event budaya sejenis music kuliner saja. Pernah penulis tanya, jawabnya nanti bakalan ada CoE khusus sport tourism.

Lebih lanjut dijelaskan nanti ada yang namanya sport tourism ada yang namanya tourism sport. Ketika buka google untuk rujukan sebagai literatur umumnya, belum saya temukan istilah dan makna hakikat dari tourism sport..hehehehe.. Mungkin ada saya belum ketemu, semoga nanti ada penjelasan. Termasuk juga event khusus sport tourism yang katanya jadi CoE tersendiri, alhamdulillaah belum ada realiasasi. Nak diapakan lagi begitulah adanya.

Sebetulnya masuk tak dalam CoE masalah, dulunya juga kagak ade barang tu. Padahal sport tourism menjanjikan , kolaborasi kedua sektor ini menghasilkan nilai dan dampak yang besar untuk negara, daerah dan masyarakat sebagaimana djelaskan sepintas diatas.

Sebagai rencana kerja, COE itu bagus, karena akan terlihat apa yang dilakukan selama setahun. Berisi informasi tentang event-event yang akan dilaksanakan selama setahun, lengkap dengan waktu tanggal bulan dan tempat siapa pelaksananya (bahasa keren nya 5W 1 H).

Wisatawan akan tahu kapan suatu event dilaksanakan dan mereka yang berminat akan siap-siap datang. Namun COE yang baik juga harus wajib dipatuhi secara konsisten , apa yang dijadwalkan sesuai rencana.

Terserah siapapun yang hadir membuka acara seremonialnya. Jika perlu tak ada acara pembukaan langsung saja perlombaan pertandingan, kan begitu? Lebih efisien dan efektif. Tapi seremonial itu perlu juga, biar orang tahu ada keramaian di satu tempat, makin banyak yang datang, makin senang, makin banyak yang memilih nantinya jika ada pilkada pileg dan pilpres..uupss.

Suatu COE berjalan baik, tentunya komitmen seorang CEO ( chief executive officer) yang menjalankannya. Peran dan komitmen seorang CEO pada setiap level organisasi( CEO commitment) , amatlah besar mensukseskan COE. seorang CEO diperlukan agar CoE bernilai kreatif (commercial value), dan bernilai komersil ( commercial creative. Dengan 3 C tersebut, dunia pariwisata apalagi disandingkan dengan dunia olahraga, gairah kehidupan masyarakat juga akan semakin meningkat untuk menciptakan masyarakat yang bukan saja sehat (lahir batin) juga masyarakat yang bugar, yang daya tahan tubuhnya dalam bekerja tidak hanya 6-7 jam, tapi juga bisa 9-10 jam tanpa lelah serta bisa bersaing dengan SDM negara lain.

Sehat so pasti, bugar lebih pasti. INDONESIA SEHAT 2025, INDONESIA BUGAR 2045. Salam olahraga dan salam pariwisata. Jaya dan wonderful lah.

Ambil pandan dibikin tikar
Demikian sekedar menakar

Selamat Hari Olahraga Nasional yang telah berusia 41 tahun. Majulah olahraga dan pariwisata untuk negara.***

Exit mobile version