BATAM — Kegagalan Tim Nasional Indonesia melangkah ke babak semifinal ASEAN Hyundai Cup 2026 menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Pengamat sepakbola Kepulauan Riau (Kepri), Buralimar, menegaskan bahwa seluruh elemen Timnas—mulai dari pemain, pelatih John Herdman, hingga PSSI—harus bersikap dewasa dan tidak “baper” (bawa perasaan) dalam merespons gelombang kritik dari publik.
Langkah Skuad Garuda dipastikan terhenti di fase grup setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Singapura pada 7 Agustus 2026. Hasil tersebut menempatkan Indonesia di posisi ketiga Grup A, di bawah Vietnam dan Singapura yang melenggang ke semifinal. Sebelumnya, Indonesia juga menelan kekalahan telak 0-3 saat menjamu Vietnam di Stadion Pakansari.
Buralimar menilai, kritik pedas yang dilayangkan publik sepak bola nasional merupakan hal yang wajar dan didasari oleh ekspektasi serta rasa cinta yang besar terhadap Timnas.
“Kritik dan harapan itu dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketika menang disorak, ketika kalah dikritik, itu hukum sederhana sepak bola profesional. Jadi pemain, pelatih, maupun federasi jangan sensi atau baperan. Jadikan kritik sebagai bahan bakar untuk berbenah, bukan menganggapnya sebagai serangan pribadi,” ujar Buralimar di Batam, Selasa (11/8/2026).
Sentil Skuad Mewah dan Evaluasi Taktik John Herdman
Ekspektasi publik sejatinya melambung tinggi mengingat materi pemain Indonesia saat ini dihiasi banyak nama yang berkarier di luar negeri hingga Eropa, serta ditukangi pelatih bereputasi internasional sekelas John Herdman. Namun, Buralimar mengingatkan bahwa nama besar dan nilai pasar tinggi tidak menjamin kemenangan di atas lapangan.
Ia mempertanyakan mengapa generasi saat ini justru kandas di fase grup pada ajang yang secara historis paling dekat dengan level kompetisi Indonesia. Padahal, Indonesia mencatatkan rekor enam kali runner-up di ajang ini dan baru saja menunjukkan tren positif di tingkat Asia pada kelompok umur U-17, U-20, hingga U-23.
Buralimar secara khusus juga menyoroti kapasitas taktik pelatih kepala John Herdman yang ditunjuk PSSI sejak Januari 2026 lalu.
“Herdman punya rekam jejak bagus membawa Kanada ke Piala Dunia 2022, tapi reputasi masa lalu tidak bisa dijadikan tameng dari evaluasi hari ini. Publik berhak mempertanyakan mengapa permainan mudah kehilangan arah saat rencana awal buntu, dan mengapa perubahan strategi kurang efektif di tengah laga. Sepak bola modern menuntut fleksibilitas dan pembacaan taktik dari menit ke menit,” tegasnya.
Meski begitu, ia mengingatkan agar PSSI tidak mengambil langkah instan dengan langsung memecat pelatih. “Jangan menjadikan satu turnamen untuk kembali ke kebiasaan lama: kalah, pecat pelatih, ganti pemain, lalu ulang dari nol. Timnas tidak bisa dibangun dengan budaya bongkar-pasang,” tambah Buralimar.
Minta PSSI Evaluasi Berbasis Data, Bukan Sekadar Formalitas
Lebih lanjut, Buralimar menekankan bahwa PSSI harus berani bersikap terbuka dan tidak defensif. Janji PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh pasca-kegagalan ini harus diwujudkan dalam langkah nyata berbasis data dan sport science, bukan sekadar rapat internal dan konferensi pers formalitas.
Evaluasi tersebut menurutnya harus menyentuh seluruh aspek, mulai dari kebugaran fisik pemain, pola latihan, nutrisi, kompetisi domestik, pembinaan usia muda, hingga kualitas wasit dan kompetisi.
“Populer di media sosial itu bukan dosa, tapi kalau popularitas sudah lebih besar dari prestasi, di situ muncul masalah. Kebugaran fisik yang merosot di menit ke-60 atau penurunan konsentrasi di akhir laga harus dibedah secara ilmiah. Pemain harus sadar, seragam Merah Putih itu bukan cuma kebanggaan, tapi tanggung jawab profesional yang tinggi,” tuturnya.
Menutup keterangannya, Buralimar mengajak seluruh stakeholder menjadikan kegagalan di ASEAN Hyundai Cup 2026 sebagai titik balik perbaikan ekosistem sepak bola nasional secara menyeluruh.
“Tujuan akhir kita bukan cuma memenangkan satu pertandingan atau mencari kambing hitam. Tujuan akhirnya adalah membangun Timnas Indonesia yang konsisten, bermental juara, dan disegani—bukan hanya di ASEAN, tapi juga Asia dan dunia. Sudah waktunya Garuda belajar dari luka, bukan sibuk mencari alasan,” pungkasnya.(bos)
