Batamclick.com, LINGGA — Kabupaten Lingga punya cara sendiri untuk memperkenalkan kekayaannya. Bukan hanya lewat laut dan hamparan pasir, tetapi juga melalui komoditas sagu, kain tenun, hingga jejak sejarah yang tersimpan di museum.
Perjalanan menyusuri Pulau Lingga pada Selasa (11/8/2026) membawa wisatawan dari kawasan pesisir hingga ke sentra ekonomi kreatif masyarakat.
Perjalanan bermula di Pantai Dungun, Kecamatan Lingga Timur. Pantai ini menawarkan garis pantai berpasir halus yang membentang lebih dari satu kilometer. Saat air laut surut, hamparan pasirnya terlihat semakin luas.
Staf Bidang Sejarah Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, Lazuardi, mengungkapkan bahwa Pantai Dungun masih menawarkan suasana pesisir yang alami. Pengunjung tidak hanya bisa menikmati panorama laut, tetapi juga berburu hasil karang seperti kepah dan remis saat air surut.
“Pantai ini hamparannya sangat luas saat air surut, berpasir halus, dan panjang pantainya lebih dari satu kilometer,” kata Lazuardi.
Pantai yang menghadap langsung ke Laut Natuna ini juga memiliki karakter berbeda saat musim angin utara, di mana ombak besar menjadi bagian dari pemandangan menakjubkan bagi pengunjung. Saat ini, wisatawan belum dikenakan tarif tiket masuk alias gratis.
Kendati demikian, potensi wisata ini masih menghadapi tantangan aksesibilitas. Dari Daik, perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih melalui jalur darat.
Sagu yang Menghidupi Desa
Dari pesisir, perjalanan berlanjut ke Desa Panggak Laut. Di sini, narasi tentang Lingga bergeser dari wisata bahari menuju komoditas yang telah menghidupi masyarakat secara turun-temurun: sagu.
Di Desa Panggak Laut terdapat sekitar 20 kilang pengolahan sagu. Kepala Desa Panggak Laut, Agung Yuda P, menyebut hampir 90 persen aktivitas ekonomi masyarakat desa berkaitan erat dengan sagu.
Tradisi pengolahan sagu ini berlangsung lintas generasi. Batang sagu dipanen, dibelah, diparut, lalu diproses untuk diambil patinya sebelum siap dipasarkan.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Mandiri bersama masyarakat setempat mampu menghasilkan sekitar 12 hingga 18 ton sagu per bulan, bergantung pada kapasitas produksi dan ketersediaan bahan baku.
Pasarnya pun telah menjangkau luar daerah. Sagu bersih dikirim ke Jambi, sementara produk tepung sagu dipasarkan ke Batam. Adapun produk olahan makanan kering banyak beredar di wilayah internal Lingga.
Direktur BUMDes Karya Mandiri, Mawardi, mengatakan bahwa usaha tersebut perlahan berkembang pesat setelah mendapat pendampingan dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau. Produksi yang sebelumnya sederhana kini diarahkan menjadi usaha dengan pengemasan modern dan jangkauan pasar yang lebih luas.
“Dari sagu kotor kita proses jadi sagu yang bersih, kemudian kita keringkan dengan cahaya matahari,” ujar Mawardi.
Produk tepung sagu kini dikemas dalam ukuran satu kilogram dengan harga sekitar Rp5.000. Kehadiran industri sagu di Panggak Laut memperlihatkan bahwa kekayaan Lingga tidak berhenti pada hasil alam semata, melainkan bergerak menjadi sumber ekonomi dengan peluang hilirisasi yang besar.
Warisan Kain Tenun khas Lingga
Dari sentra sagu, perjalanan berlanjut ke Kelompok Rumah Tenun Lingga. Di tempat ini, seni kriya kain tenun menjadi daya tarik budaya berikutnya.
Pengunjung dapat menyaksikan langsung ketelitian para perajin mengolah helai benang menjadi kain dengan motif khas Melayu Lingga melalui keterampilan tangan tradisional.
Jika Pantai Dungun memperlihatkan kekayaan alam dan sagu menunjukkan denyut ekonomi daerah, kain tenun ini menjadi simbol bagaimana masyarakat Lingga menjaga dan merawat identitas budayanya secara turun-temurun.
Menutup Perjalanan di Museum
Rangkaian eksplorasi ini berakhir di Museum Linggam Cahaya, ruang untuk memahami Lingga dari sudut pandang histori. Setelah menikmati alam, dinamika ekonomi sagu, dan kerajinan tenun, pengunjung diajak menelusuri kembali rekam jejak sejarah peradaban daerah tersebut.
Pengelola Museum Linggam Cahaya, Puput, menyampaikan bahwa museum ini telah menjadi salah satu destinasi utama kunjungan wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara (wisman).
Harga tiket masuk museum terbilang sangat terjangkau, yakni Rp5.000 untuk dewasa, Rp2.000 untuk anak-anak, dan Rp20.000 bagi wisatawan mancanegara.
Rangkaian perjalanan ini menegaskan bahwa Lingga tidak sekadar menawarkan pemandangan alam. Di balik pantai dan keanekaragaman komoditasnya, terdapat masyarakat yang berdaya dari olahan sagu, perajin yang melestarikan tenun, serta museum yang menjaga memori masa lalu sebagai identitas daerah.
