Meski kasus kematian masih terjadi, komitmen tak pernah surut. Inovasi jemput bola dan pemantauan kehamilan terus digulirkan demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus: ibu dan anak.
Angka kematian ibu dan bayi di Batam, khususnya di wilayah hinterland atau pulau-pulau penyangga, masih menyisakan keprihatinan. Namun di tengah segala keterbatasan infrastruktur dan akses kesehatan, harapan terus berkobar, melalui beragam inovasi layanan di tingkat Puskesmas.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menegaskan pihaknya terus memperkuat pencegahan kematian ibu hamil dan bayi, terutama di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota. Ia menyebut dua program unggulan di kawasan hinterland sebagai upaya mendekatkan layanan kesehatan bagi ibu hamil.
SIGAP dan DEDIKASI BUMILANG: Menjemput Harapan dari Rumah ke Rumah
Di Rempang Cate, Dinas Kesehatan Batam menjalankan SIGAP (Sistem Informasi Tanggap Ibu Hamil), sebuah sistem pemantauan aktif terhadap kondisi ibu hamil. Sementara di Kecamatan Bulang, inovasi DEDIKASI BUMILANG (Deteksi Dini dan Edukasi Ibu Hamil Kecamatan Bulang) aktif untuk mendeteksi secara dini risiko kehamilan melalui metode jemput bola.
“Petugas kami akan langsung turun ke lapangan jika menemukan ibu hamil dengan risiko tinggi yang belum sempat memeriksakan diri. Ini bentuk kehadiran negara hingga ke pelosok,” ujar Didi saat, Jumat (11/7/2025).
Satu Nyawa Ibu, Tiga Bayi: Data yang Jadi Titik Awal Evaluasi
Menurut Didi sepanjang tahun 2024 tidak terjadi kematian ibu di hinterland. Namun hingga Juni 2025, satu kasus kematian ibu terjadi di Pulau Karas, Kecamatan Galang. Dugaan awal karena hepatitis. Ibu tersebut meninggal dunia saat hamil di rumahnya.
Adapun angka kematian bayi di wilayah hinterland Batam pada tahun 2024 tercatat delapan kasus: dua di Galang, satu di Belakangpadang, dan lima di Bulang. Penyebab utamanya adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan asfiksia atau gagal napas.
“Hingga pertengahan 2025, kami mencatat tiga kasus lagi. Dua di Galang dan satu di Rempang Cate,” ucap Didi.
Tak Bisa Disamakan, Tapi Harus Ditanggapi Serius
Didi menambahkan, bahwa pihaknya tidak bisa mengkonversi angka kematian ibu dan bayi di hinterland ke rasio per 100.000 kelahiran hidup seperti di wilayah kota. Hal ini karena jumlah kelahiran relatif kecil. Namun, setiap nyawa tetap penting.
“Yang terpenting bukan angka statistiknya, tapi bagaimana kami hadir melakukan deteksi dini dan memberikan layanan kesehatan secara merata. Kami tidak akan berhenti mendorong inovasi agar tidak ada lagi kematian yang sebenarnya bisa kita cegah,” tegas Didi.
Di tengah keterbatasan akses, satu hal yang tetap menyala: harapan bahwa semua ibu dan bayi di Batam, termasuk di pulau-pulau terluar, punya hak yang sama untuk hidup sehat dan selamat.










