Pensil : Pena Usil
Ada seorang lelaki mempunyai rumah di hutan pegunungan, tiap hari dia bolak balik melewati jalan berliku menuju rumahnya itu. Tentunya dia telah hafal jalan-jalan menuju pegunungan yang hanya dua jalur berlawanan yang sempit itu.
Suatu hari saat dia menuju rumahnya, saat di tikungan dari kejauhan dia melihat sebuah mobil yang dikendarai seorang perempuan.
Mobil itu terlihat zigzag, seperti dikendarai orang mabuk, pikiran si lelaki ni cewek baru pulang diskotik. Melihat itu si lelaki menghentikan kendaraan di pinggir, takut ditabrak sama mobil yang dikendarain si perempuan, karena mobil tersebut bahkan mengambil jalur yang tidak seharusnya.
Setelah agak stabil, sesaat kemudian mobilnya dilewati mobil perempuan. Sambil lewat si perempuan berteriak “babi jantan” kepada lelaki kemudian berlalu. Sontak saja si lelaki marah dan berteriak membalas “ babi betina”. Si lelaki ngomel sendiri, dia yang salah jalan dan ngebut eh malah berteriak dan memaki. Dia merasa puas bisa membalas makian si perempuan.
Setelah perempuan berlalu, si lelaki kembali memacu kendaraannya dengan kencang terbawa emosi atas makian si perempuan tadi. Karena dia terlalu yakin bahwa jalan tersebut dikenalnya, dia merasa ahli dan tahu seluk beluk dan lika-liku jalan tersebut. Ee..
Tahu-tahu di tikungan muncul seekor babi jantan berlari dari arah berlawanan. Karena si lelaki tak sempat mengerem lagi, dia akhirnya menabrak babi jantan tersebut, mengakibatkan babi mati dan mobilnya rusak berat.
Rupanya si perempuan tadi seolah ngebut dan zigzag, hanya menghindari babi yang melintas dan seperti mengejarnya. Dia ingin memperingatkan si lelaki bahwa di depan ada seekor babi jantan. Tapi karena dia ketakutan yang terucap hanya kata “babi betina”. Laki-laki itu menyesal, coba jika dia berpikiran positif atas ucapan si perempuan pasti dia tidak akan menabrak babi hutan tersebut.
Cerita di atas memberi hikmah kepada kita bahwa selama dasawarsa ke depan, di setiap tikungan yang tidak diberi tanda apa-apa, banyak orang berteriak dan mereka tidak bisa berhenti dan memberi penjelasan rinci, sehingga tergantung kita untuk memikirkan ucapan-ucapan tersebut. Jika paradigma kita sempit, pasti setiap saat akan kita akan membalas ucapan karena dianggap ancaman, pernyataan dibalas pernyataan.
Jika paradigma sedikit fleksibel kita tidak akan mendengar apapun dan tidak masukkan ke hati, yang ada kesempatan. Kitalah yang menentukan pilihan atas apa yang kita dengar dan cara meresponnya.
Seorang anak kecil selalu rajin ke sebuah rumah ibadah, tapi suatu ketika dia mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia tidak mau lagi ke rumah ibadah tersebut karena dia mendengar bahwa di rumah ibadah seharusnya orang-orang membicarakan yang baik-baik, tapi dia mendengar orang-orang ngerumpi, membully dan meceritakan kejelekan orang lain.
Orang tuanya memberi tips agar si anak membawa gelas berisi air yang penuh dan disuruh mengelilingi rumah ibadah tersebut dengan catatan air tidak boleh tumpah. Si anak melakukannya dengan hati-hati tentunya dengan konsentrasi.
Setelah itu si anak kembali ke rumah dan ditanyain orang tuanya” apakah kamu mendengar orang-orang ngerumpi?”. Si anak menjawab “ tidak , saya tidak dengar apa-apa”.
Begitulah hidup dan kehidupan, jika mendengar hal-hal yang tidak baik, misalnya di media sosial, berita hoax,berita ngerumpi, bahkan berita lebay berlebihan, kita sikapi dengan arif. Baca dan hapus.
Ikut menyebarkan berita yang tidak benar, sanksi sosial menunggu dan sanksi agama juga menunggu, karena ukut bersubhat menyebar fitnah dan ghibah. Tapi memang berita negatif lebih senang dibaca orang daripada berita positif dan biasa-biasa saja, makanya banyak konten-konten di medsos demikian, katanya trik agar orang membacanya. Entahlah.
Ke depan kita akan dihadapi saat-saat krusial dimana orang berjanji, berorasi, berpidato dan sebagainya. Jika saya nanti jadi ini itu, saya berjanji begini begitu.
Tergantung kita menyikapinya, mau dengar janji-janji manis seperti judul lagu “janji manismu” yang dinyanyikan artis negeri seberang, alias pemberi harapan palsu (PHP).
Atau sekedar gimmick, mendengar kemasan kata-kata indah , penampilan plus tebar pesona, adegan yang mengelabui mata dan pikiran, untuk menciptakan suasana untuk meyakinkan orang lain.
Semua berada pada kita, karena kita sudah menyaksikan dan melewati suasana dan situasi tersebut. Jangan lihat perkataannya tapi lihat kinerjanya, kata kawan saya. Anggap angin lalu, kata senior saya dalam bahasa melayu “ jang pedulian” alias EGP. Hehehe…
Orang akan senantiasa meniupkan asap , makin banyak asap dan berharap seseorang berpikir bahwa itu adalah api (blow smoke, blow lot of smoke and hope someone thinks it’ fire).
Kita kembali menyanyikan lagu masa anak-anak bangun tidur. “bangun tidur kuterus mandi sambil ngerumpi, tidak lupa menggosok gigi fitnah sana fitnah sini, habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku penuh tipu”.
Suatu ketika Stephen Elop, CEO Nokia berujar “ we didn’t do anything wrong, but then we lost”. Nokia tidak salah, tapi akhirnya kalah, hilang di pasaran dan menyerah. Begitu juga seseorang, tidak merasa salah dan apa yang dikerjakannya dan diucapkannya benar, dan tidak mau diingatkan, padahal zaman berubah, dia akan menabrak seekor babi jantan seperti cerita di atas, penyesalan memang terlambat, kalau kecepatan namanya pendaftaran.
( 06 Oktober 2022)
